PPKNI: Hapus Diskriminasi Korban Napza

Pengurus PPKNI Kota Yogyakarta bertukar cenderamata dengan Pemimpin Redaksi Koran Merapi Swasto Dayanto. (MERAPI-TRI DARMIYATI )
Pengurus PPKNI Kota Yogyakarta bertukar cenderamata dengan Pemimpin Redaksi Koran Merapi Swasto Dayanto. (MERAPI-TRI DARMIYATI )

JETIS (MERAPI) – Persaudaraan Perempuan Korban Nazpa Indonesia (PPKNI) Kota Yogyakarta menegaskan, selama ini masih ada diskriminasi dalam penanganan terhadap pengguna atau korban narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza). Perempuan korban napza yang dinilai lebih rentan menerima perlakuan diskriminatif dari oknum aparat penegak hukum.

“Yang korban perempuan mengalami pelecehan misalnya saat proses interogasi maupun saat kondisi sakaw (tak sadarkan diri). Pelecehan secara fisik,” kata Focal Point PPKNI Kota Yogyakarta, Nurhayati saat berkunjung ke Redaksi Koran Merapi, Selasa (24/4), dan diterima Pemimpin Redaksi Swasto Dayanto didampingi Wakil Pemimpin Redaksi Hudono.

Atas kondisi itu berbagai upaya dilakukan PPKNI. Mulai dari pertemuan mantan pengguna napza hingga pendampingan kepada pengguna napza yang masih aktif. PPKNI adalah program inisiatif dari Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) yang memafasilitasi upaya advokasi dari komunitas perempuan pengguna napza. Selain itu korban dari kebijakan napza yang sering mengalami stigma, diskriminasi dan viktimisasi.

“Kami ada pertemuan rutin dengan korban nazpa yang perna memakai nazpa maupun yang masih memakai. Penanganan lebih kepada pendampingan korban,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, program PPKNI dilandasi komitmen bersama komunitas perempuan pengguna napza dan korban kebijakan napza untuk memastikan terjaminnya hak asasi perempuan pengguna napza. Upaya yang dilakukan melalui advokasi baik dalam bidang kesehatan, hukum dan sosial budaya.

Hal senada dinyatakan oleh perempuan mantan penguna napza dan anggota divisi recovery dan perempuan PPKNI Kota Yogya Emil. Dia menegaskan selama ini para korban dan mantan pengguna napza terus berjuang terhadap adanya ketidakadilan dalam penanganan korban napza.

“Yang agak susah direhab adalah pengguna napza yang rekreasional karena mereka coba-coba. Berbeda dengan yang benar-benar tahu memakai napza dan akan berhenti,” tambahnya.  (Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Belut Cegah Osteoporosis

BELUT dapat diolah menjadi aneka masakan. Keunggulan belut antara lain, kaya kandungan fosfor. Nilainya dua kali lipat fosfor pada telur.

Close