Dipelihara Warga, BKSDA Jateng Evakuasi Dua Buaya

Petugas BKSDA Jawa Tengah saat proses evakuasi buaya muara di Jagan, Gadingan, Mojolaban. (MERAPI-Wahyu Imam Ibadi)
Petugas BKSDA Jawa Tengah saat proses evakuasi buaya muara di Jagan, Gadingan, Mojolaban. (MERAPI-Wahyu Imam Ibadi)

SUKOHARJO (MERAPI) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah melakukan evakuasi terhadap dua ekor buaya yang dipelihara secara pribadi oleh warga di Dukuh Jagan, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban dan Desa Kagokan, Kecamatan Gatak, Selasa (24/4). Evakuasi dilakukan setelah ada kesadaran dari para pemiliknya untuk menyerahkannya pada petugas. Petugas menghimbau pada masyarakat yang memiliki hewan buas dan dilindungi segera menyerahkannya pada petugas untuk menghindari sanksi kurungan penjara.

Petugas Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Jawa Tengah Agung Budi Riyanto mengatakan, evakuasi terhadap buaya di wilayah Kecamatan Mojolaban merupakan kali kedua. Sebelumnya petugas melakukan evakuasi buaya yang lepas di Kali Sasak di dukuh Jogobondo, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban pada Selasa (10/4) lalu. Sedangkan kedua dilakukan Selasa (24/4) di Dukuh Jagan, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban.

Buaya yang dievakuasi petugas BKSDA Jawa Tengah di Jagan, Gadingan, Mojolaban merupakan milik Kristanto salah satu warga setempat. Buaya tersebut berjenis kelamin betina dan jenisnya muara berusia sekitar empat tahun dengan panjang 2,2 meter.

Buaya yang dievakuasi kedua di Mojolaban ini dilakukan petugas cukup mudah karena berada di dalam kandang dipelihara pemiliknya. Hasil pemeriksaan diketahui kondisi buaya sehat dan berusia sekitar empat tahun.

Evakuasi terhadap buaya juga dilakukan oleh petugas BKSDA Jawa Tengah di Desa Kagokan, Kecamatan Gatak. Evakuasi dilakukan setelah Beni pemiliknya menyerahkannyan pada petugas.

“Kedua buaya yang dievakuasi baik di Gadingan, Mojolaban dan Kagokan, Gatak semua akan dikirim ke pusat penangkaran buaya di Banyumas,” ujar Agung.

BKSDA Jawa Tengah sampai sekarang sudah melakukan evakuasi terhadap tiga ekor buaya di Sukoharjo. Rinciannya dua dari warga Kecamatan Mojolaban dan satu Kecamatan Gatak.

Temuan banyaknya buaya yang dipelihara warga dan dimiliki secara pribadi menjadi catatan BKSDA Jawa Tengah. Sebab hewan tersebut masuk kategori buas dan dilindungi. Warga perorangan dilarang memiliki dan memelihara sendiri tanpa izin resmi dari petugas.

Diduga keberadaan hewan buaya dan dilindungi banyak ditemukan dipelihara warga karena adanya perdagangan bebas. “Tadi dari pengakuan pemilik buaya jenis muara di Jagan, Gadingan, Mojolaban mengaku mendapat buaya setelah dikasih temannya yang beli di Pasar Hewan Depok, Kota Solo. Kami indikasi praktek perdagangan hewan dilindungi masih ada dan itu jelas melanggar aturan,” lanjutnya.

BKSDA Jawa Tengah meminta pada masyarakat yang memiliki dan memelihara hewan buas dan dilindungi segera melapor dan menyerahkan diri pada petugas. Apabila tidak mereka bisa terkena sanksi pidana berupa kurungan penjara selama lima tahun dan denda Rp 100 juta sesuai PP Nomor 8 Tahun 1999.

Hasil pemeriksaan diketahui buaya yang dipelihara warga tidak memiliki izin resmi dari petugas. “Pelaku perdagangan hewan dilindungi pernah ada yang kena sanksi seperti pedagang di Pasar Hewan Depok Kota Solo divonis enam bulan penjara. Itu kasus lama. Di Kabupaten Sragen juga sama disana jumlahnya lebih banyak karena kami temukan 19 ekor hewan dilindungi seperti buaya dan kakak tua,” lanjutnya.

Agung menjelaskan, perdagangan hewan dilindungi tidak hanya memakai cara konvensional di pasar saja tapi juga merambah ke online. Petugas melakukan pengawasan ketat dengan memantau pusat perdagangan hewan di pasar dan online.

Pemilik buaya muara asal Jagan, Gadingan, Mojolaban Kristanto mengatakan, buaya dipelihara sejak kecil masih berukuran sekitar 75 cm. Buaya tersebut sudah dipelihara selama tiga tahun dan merupakan pemberian dari seorang temannya yang membeli di Pasar Hewan Depok, Kota Solo.

Selama dipelihara Kristanto memberi pakan buaya berupa satu ekor ayam setiap seminggu sekali. Selain itu buaya diberi pakan ikan sapu sapu sebanyak satu kilogram setiap dua atau tiga hari sekali.

“Saya tidak tahu buaya merupakan hewan dilindungi. Saya sebenarnya sudah lama niat akan memberikan buaya ke Taman Satwa Taru Jurug Kota Solo tapi belum kesampaian mengantar buaya kesana. Jadi saya serahkan ke BKSDA dan bersedia datang kesini mengambil buaya,” ujar Kristanto.

Kristanto mengaku semakin tergerak menghubungi BKSDA setelah melihat kabar penangkapan buaya lepas di Kali Sasak, Jogobondo, Palur, Mojolaban beberapa hari lalu. “Setelah buaya dibawa petugas saya lega karena buaya itu ukurannya semakin besar dan makannya banyak. Lumayan harus keluar uang banyak untuk beli pakan,” lanjutnya.

Kapolsek Mojolaban AKP Priyono mengatakan, pihaknya terus menghimbau pada masyatakat untuk segera berkoordinasi dan menyerahkan pada petugas apabila memiliki hewan buas dan dilindungi. Sebab di wilayah Kecamatan Mojolaban sudah ada dua ekor buaya dievakuasi petugas BKSDA dari pemiliknya yang merupakan warga perorangan.

“Buaya selain hewan buas juga dilindungi. Sudah ada dua ekor buaya dievakuasi petugas BKSDA di Mojolaban. Kami terus menghimbau warga untuk menyerahkan hewan buas dan dilindungi ke petugas untuk menghindari sanksi dan hal tidak diinginkan,” ujarnya. (Mam)

Read previous post:
Putra Unnes Tekuk Jawara Bertahan USM

SOLO (MERAPI) - Sesi kedua pergelaran LIMA Badminton: Kaskus Central Java and Special Region of Yogyakarta Conference (CJYC) – Surakarta

Close