Upacara Adat Gebangkoro Wujud Syukur Kepada Tuhan

MERAPI-AWAN TURSENO Supriyadi (dua dari kiri) beserta jajaran Muspika Kecamatan Purwosari saat kenduri Gebangkoro.
MERAPI-AWAN TURSENO
Supriyadi (dua dari kiri) beserta jajaran Muspika Kecamatan Purwosari saat kenduri Gebangkoro.

PURWOSARI (MERAPI) – Ratusan warga Dusun Temon, Giripurwo, Purwosari mengadakan upacara adat Gebangkoro. Mereka berjalan kaki menempuh jarak sekitar 2 Km melewati jalan setapak bebatuan dan penuh semak belukar untuk menuju lokasi. Tradisi turun temurun dari nenek moyang ini merupakan kebiasaan ketika menjelang masa panen.

Kepala Desa Giripurwo, Supriyadi menjelaskan, upacara adat Gebangkoro merupakan tradisi Babat Dalan (Pembukaan/pembersihan jalan) menuju Gebangkoro merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. Pada puncak kegiatan diadakan ritual kenduri wujud syukur kepada Tuhan atas segala karunia-Nya.

“Tradisi ini sebagai media syukur. Hidup melalui pertanian, berdagang, nelayan, beternak dan lainya. Sekaligus menjaga budaya tradisi agar dapat dijadikan tameng budaya asing yang negatif,” katanya Jumat (20/4).

Menurut Supriyadi, pada jaman dulu ketika musim panen tiba, petani membawa pulang hasil panenan dengan cara dipikul melewati jalan setapak penuh semak belukar. Banyak tangkai padi yang tersangkut dan rontok karena masih rimbunnya semak pada kanan kiri jalan. Atas dasar itulah warga bersama-sama melaksanakan Babat Dalan, (membuka dan membersihkan jalan). Namun saat ini kebiasaan itu dijadikan rangkaian kegiatan adat tradisi.

Sedangkan kenduri yang dilaksanakan di pertapan Gebangkoro selain sebagai wujud syukur kepada Tuhan juga penghormatan kepada dua tokoh leluhur yang disebut cikal bakal atau pengayom warga setempat, yaitu Eyang Jogoniti dan Eyang Troyuda.

Dijelaskan Supriyadi, nama tempat Gebangkoro bermula adanya pohon Gebang yang tumbuh di areal semacam teluk di mana di kanan kirinya merupakan lereng perbukitan rindang. Pada batang pohon tersebut tumbuh menjalar tanaman Koro (jenis kacang-kacangan). Sehingga tampak rimbun dan menutupi akses jalan.

Tetapi, saat ini pohon Gebang tinggal satu yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Anehnya, meskipun telah tua, pohon tersebut selah-olah tidak bertambah tinggi, hanya berukuran belasan centimeter. Pohon menyerupai tanaman palm ini sampai saat ini tetap disakralkan ileh warga setempat.

Ditegaskan, upacara adat ini tradisi atau pelestarian budaya. Sehingga tidak bertentangan dengan ajaran agama. “Ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adat istiadat yang dapat meningkatkan kerukunan, pemersatu warga yang beragam kepercayaannya, sehingga layak untuk dilestarikan. Apalagi Giripurwo telah ditetapkan sebagai Desa Budaya,” pungkasnya. (Awn)

 

Read previous post:
LAUNCHING PENDAFTARAN BACALEG – PKB Targetkan 8 Kursi Legislatif

SEWON (MERAPI) - Penjaringan calon legislatif mulai dilakukan partai peserta Pemilu 2019. DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bantul secara

Close