SYIAR ISLAM KI AGENG MAKUKUHAN (SUNAN KEDU) (9) – Dapat Hikmah Banyak Keturunan

MERAPI-AMAT SUKANDAR Makam Sunan Kedu di Gribig, Kudus.
MERAPI-AMAT SUKANDAR
Makam Sunan Kedu di Gribig, Kudus.

Mendengar kabar ayam jago kesayangannya kalah, Sunan Kudus mengutus santrinya untuk menemui pemilik ayam jago yang menang agar segera menghadap kepadanya. Santri tersebut kemudian mencari orang yang mengenakan jubah serba hitam yang tidak lain adalah Ki Ageng Kedu.

KETIKA bertemu dengan orang yang dicarinya, santri mengucapkan salam kepada Ki Ageng Kedu. Dengan rasa takut, santri itu menyampaikan pesan Sunan Kudus. Meski sebenarnya Ki Ageng Kedu sudah tanggap dengan kehadiran santri utusan Sunan Kudus itu.

Ki Ageng Kedu segera menghadap kepada Sunan Kudus di rumah Tie Lieng Sieng. Para santri telah menyiapkan hidangan untuk menghormati Ki Ageng Kedu. Kebetulan, di rumah itu disamping ada para santrinya Ki Tie Lieng Sieng, juga sudah ditunggu sesepuh bernama Syeh Jangkung.

Kedua ki buyut itu adalah guru Ki Ageng Kedu (Ki Ageng Makukuhan). Syeh Jangkung menyapa terlebih dulu, “Dasar masih muda, tampan lagi…, ke sini nak”. Ki Jangkung menyanjung muridnya sambil merangkul Ki Ageng Kedu. Semua yang hadir terheran-heran melihat Sunan Kudus yang tampak tenang. Karena mereka mengira, Sunan Kudus akan marah kepada Ki Ageng Kedu. Tetapi mereka bertiga justru bersenda gurau seperti anak dan bapak.

Usai makan bersama, mereka bertiga membicarakan pelaksanaan tugas dan kuwajibannya di daerahnya masing-masing dalam syiar agama Islam. Tidak diduga, dalam pertemuan itu semua sesepuh di Kudus sudah sepakat bila Ki Ageng Kedu akan dihadiahi putri boyongan yang juga santri bernama Raden Ayu Sulasmi.

Sunan Kudus pun merestuinya, dan berkata kepada Ki Ageng Kedu, “Sekarang lanjutkanlah kamu syi’ar agama Islam di Kedu. Dan kamu saya jodohkan dengan Raden Ayu Sulasmi. Semoga peristiwa ini ada hikmahnya”. Menikah dengan Raden Ayu Sulasmi, Ki Ageng Kedu mempunyai empat anak yaitu, Raden Hasan Dadungawuk, Raden Hasan Sadzali, Raden Rara Sulastri dan Raden Hasan Munadi.

Adipati Pancatnyono mempunyai cucu dari Pangeran Kudus dengan putrinya yang diberi nama Pangeran Trenggono. Cucunya diasuh sejak usia tiga tahun sampai menginjak dewasa. Semua ilmunya sudah diajarkan tidak ada yang terlewatkan. Sang kakek berpesan kepada cucunya,
“Pangeran Trenggono cucuku. Bila diberi umur panjang, kamu jangan menggunakan ilmu pemberian kakek untuk perang dengan saudara, kakek sudah puas dengan keturunan yang ke tujuh. Karena, perang saudara akan membuat susah rakyat kecil. Dan lagi banyak wabah, kematian terjadi di sana-sini. Orang pedesaan tidak bisa menggarap sawahnya, mereka kekurangan pangan. Oleh karena itu, kamu menjadi orang tumbuk waru (pengayom) saja. Menjadi orang yang bodoh tetapi tahu. Menjadi orang pandai tetapi bijaksana dan mempunyai rasa belas kasihan kepada sesama. Nak, cucuku. Sepertinya kakek sudah banyak memberi ilmu. Tetapi meskipun sudah banyak ilmu yang saya berikan semua masih kurang. Karenanya, kamu agar menghadap kepada Syeh Maulana Gharibi atau Ki Ageng Gribig di Klaten”. (Amat Sukandar/Jbo)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Tomat Turunkan Risiko Gangguan Jantung

BAHAN alami wujud buah, sayur, biji,rimpang dan kulit batang tanaman berkhasiat mampu mendukung kesehatan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami ini diyakini

Close