CERITA MISTERI – Perjaka Celaka Usai Begituan

DENGAN bermotor, Judi (bukan nama sebenarnya) malam itu berangkat dari Godean menuju rumah Timbul (nama samaran) di Nanggulan. Sudah lama dia tidak dolan ke sana. Sejak berangkat, motornya sudah terasa ngadat, tapi Judi nekat pergi. Padalah sejak sore hari, mendung menggantung di langit. Untung jarak Sentolo-Nanggulan tidak begitu jauh.

Sekitar lima kilometer sebelum sampai ke rumah Timbul, tiba-tiba turun hujan bagai dicurahkan dari langit. Dia melewati bulak yang cukup luas. Judi lalu bergegas mencari tempat berteduh. Dalam keremangan dia melihat ada cakruk berdiri di bawah sebuah pohon amat rindang.

Dadanya tiba-tiba berdesir, dia melihat ada seseorang di lincak cakruk itu. Di sebelahnya ada tas relatif besar. Mungkin bawaannya. “Permisi, Mbak. Numpang berteduh…”

“Ooo, mangga Mas…,” jawabnya. Dari sinar lampu yang kadang tertutup goyang dedaunan, terlihat wajah wanita itu lumayan ayu. Tampilan sesuai zaman now.

Di mengenakan jeans belel dan sepatu hak setengah tinggi. T-shirtnya amat ketat sehingga lekuk-liku tubuhnya tampak menonnjol. Motor Judi lalu diparkir di emperan cakruk. Judi pun menyapa: “Malam-malam begini hujannya cukup deras ya, Mbak. Ekh, ngomong-ngomong mau ke mana?”

“Nunggu jemputan…, Mas. Saya duduk di sini sejak belum turun hujan…. Saya jadi sebel Mas Geno (nama samaran) belum juga datang….”

“Mungkin Mas-mu sedang sibuk, Dik…” Setelah itu mereka berkenalan. Deg. Judi kaget ketika Weni tiba-tiba duduk mendekat. Dada jadi berdesir ketika duduk Weni semakin mepet. Dasar lelaki jomblo kurang pengetahuan tentang cewek, dada Judi semakin berdesir ketika Weni semakin menempel di sisinya.
“Dingin sekali ya, Mas….” Keluhnya.

Ya, Judi merasakan tubuh Weni kedinginan.

Entah naluri apa yang muncul, tiba-tiba Judi mendekap tubuh Weni. Mungkin, kasihan karena Weni merasa kedinginan. “Yuk, kita berteduh di rumah belakang itu…” ajak Weni. Katanya, rumah itu milik temannya dan kini penghuninya sedang pergi.

Mereka duduk berhimpitan di kursi teras rumah. Perasaan Judi bagai layang-layang putus talinya. Melayang di langit ketujuh. Perjaka ini baru sekali itu duduk berdampingan dengan perempuan. Apa yang terjadi selanjutnya, Judi tak bisa menghindari…..

Yeaaaah…! Suaranya keras sekali. Itu klimaks. Tapi… kemudian… Dhasss! Kepala Judi tertimpa tas besar. Dilempar seorang lelaki super besar. Dia adalah Geno yang sedang berang, ketika menjumpai tas Weni yang tertinggal di cakruk, Geno lalu mencari-cari pacarnya. Tentu saja Geno marah besar menemukan Judi dan Weni sedang dalam posisi… (ngeri!) Tas itu lalu jadi luapan kemarahan.

Judi ditemukan orang di sebuah pekuburan tua. Kepalanya tertindih jurat nisan…. (Hanny S/Jbo)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
SYIAR ISLAM KI AGENG MAKUKUHAN (SUNAN KEDU) (6) – Salat Dhuhur Setelah Bertani

Setelah membagi tugas, Ki Ageng Kedu berpamitan untuk pulang ke Argaluwih, padepokan ayah mertuanya Syeh Maulana Gharibi. Tiba di padepokan,

Close