SYIAR ISLAM KI AGENG MAKUKUHAN (SUNAN KEDU) (5) – Mulai Menanam Padi dan Tembakau

Pemuda pengedara kuda itu mengaku berama Bermanti. Dia diperintah Sunan Kudus, untuk mencari santri asal Demak Bintara yang sedang syiar agama Islam di wilayah Kedu ini. Ki Ageng Kedu menjawab bahwa dirinya adalah santri dari Demak Bintara yang dicari oleh pemuda itu.

KI AGENG KEDU membuka jubahnya dan menunjukkan timang ikat pinggang yang dipakainya kepada Bermanti. Timang itu tanda bukti santri dari Kasultanan Demak Bintara. Bermanti meneliti timang itu. “Kalau begitu benar, anda yang saya cari”, katanya. Bermanti senang melihat timang itu.m“Saya diperintah Sunan Kudus untuk menyerahkan ini”, kata Bermanti sambil menyerahkan bungkusan yang berisi sabuk cindhe. Ki Ageng Kedu menerimanya. Setelah dipakai, ternyata sabuk cindhe selaras dengan timang yang dikenakannya.

Kecocokan ini disebut dengan cindhelaras. Sabuk cindhe dan timang ini memiliki daya linuwih. Pemakainya tak mudah dikalahkan dalam laga. Santri Demak Bintara yang diberi barang seperti itu hanya ada sembilan orang. Sunan Kudus juga menitipkan benih padi dan tembakau untuk diberikan kepada Ki Ageng Kedu. Benih padi dan benih tembakau ini untuk ditanam di wilayah Kedu. Karena hanya di bumi Kedu inilah tanaman tembakau dapat tumbuh subur.

MERAPI-AMAT SUKANDAR Tanaman tembakau di wilayah Pagergunung.
MERAPI-AMAT SUKANDAR
Tanaman tembakau di wilayah Pagergunung.

Ki Ageng Kedu melanjutkan perjalanannya. Tiba di desa Sendang dia berkeinginan untuk tinggal di desa ini. Lalu membuat rumah sederhana sebagai tempat tinggal. Ki Ageng Kedu mengawali tugas sucinya, syiar agama Islam. Sedangkan Bermanti, tidak pulang kembali ke Demak, tetapi mengabdi kepada Ki Ageng Kedu. Oleh Ki Ageng Kedu Bermanti diserahi tugas untuk menggarap tanah di wilayah Balongan ke timur. Bermanti menggarap tanah tersebut dengan menanam padi cempa dan padi rajalele. Di sini Bermanti mendirikan sebuah masjid, dan dia berganti nama Ki Ageng Parak. Ketika wafat, Ki Ageng Parak dimakamkan di sebelah barat masjid. Kini wilayah tersebut menjadi sebuah kota kecil dengan nama Parakan.

Berkat kedua jenis tanaman itu, wilayah ini menjadi subur makmur sebagai daerah pertanian. Ki Ageng Kedu juga memelihara berbagai jenis unggas. Salah satu unggas kesenangannya adalah ayam jago yang berbulu dan berbadan hitam mulus. Ayam jago itu bila diadu selalu menang dan tak terkalahkan.
Ki Ageng Kedu dalam melaksanakan syiar agama Islam di daerah ini sudah tujuh tahun lamanya. Pada suatu hari, Ki Ageng Kedu teringat pada isterinya yang ditinggal di padepokan Argaluwih dan timbul rasa rindunya. Ketika ditinggal pergi melaksanakan tugas suci, Sri Lintang Kedhaton sedang hamil empat bulan. Mestinya, kini isterinya sudah melahirkan. Ki Ageng Kedu pulang ke padepokan Argaluwih ditemani Bah Beo. Bah Gedruk tidak ikut karena diberi tugas untuk menunggu rumahnya. (Amat Sukandar/Jbo)

Read previous post:
Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo Segera Diresmikan

SUKOHARJO (MERAPI) - Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo siap digunakan sebelum puasa Ramadan. Peresmian tinggal menunggu waktu. Sebab bangunan sepenuhnya sudah

Close