Serka Hartono Budidayakan Semut Kroto

MERAPI-ZAINURI ARIFIN Serka Hartono dengan semut kroto yang dibudidayakannya.
MERAPI-ZAINURI ARIFIN
Serka Hartono dengan semut kroto yang dibudidayakannya.

SEMUT rangrang atau banyak orang menyebutnya semut kroto. Semut rangrang terutama yang punya peliharaan semisal burung kicauan. Ternak semut rangrang memang belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan orang-orang terutama pehobi burung. Semut rangrang bisa dijadikan hewan peliharaan yang menguntungkan.

Dengan maraknya pehobi burung kicau, membuat permintaan semut rangrang semakin tinggi dipasaran. Tak heran budidaya kroto menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan untuk saat ini. Selain strategi pemasaran semut rangrang ini terbilang mudah, semut rangrang (kroto) memiliki pangsa pasar yang sangat luas. Selain itu pula, dengan meningkatnya jumlah pehobi burung di Indonesia yang menjadi potensi menjanjikan, semut kroto juga digunakan oleh pehobi mancing.

Sulitnya mencari semut rangrang juga menjadi alasan untuk ternak semut rangrang sendiri. Saat proses budidaya, semut rangrang bisa hidup dengan menggunakan sarang buatan. Sarang dan kadang semut kroto ini bisa dibuat dari paralon, toples, bambu atau botol bekas.

Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi Sersan Kepala (Serka) Hartono beserta isterinya Tri Susilowati, warga Cabakan Sumberadi, Mlati, Sleman. Tentara aktif yang dinas di Koramil 02/Tegalrejo, Dim 0734/Yogyakarta ini memutuskan untuk menjadi pembudidaya semut rangrang (kroto) seblum lalu, setelah mengetahui prospek usaha budidaya kroto sangat menjanjikan.

“Cara pengembangbiakkannya serta perawatannya mudah. Hasilnya juga menjanjikan, sehingga saya memutuskan untuk membudidayakan semut kroto ini bersama isteri,” terang Serka Hartono, Babinsa Kricak, Tegalrejo.

Dijelaskannya, semut rangrang berkembang biak dengan cara bertelur, ketika ada yang bertelur maka seluruh koloni akan bersama menjaga telur tersebut. Telur ini seringkali disebut kroto, jarang yang terdapat pada telur biasannya mereka pergunakan untuk membangun sarang, yang berguna sebagai tempat menumbuhkan telur yang akab berkembangbiak menjadi larva, pupa dan akhirnya imago. Semut rangrang dalam membuat sarang mereka akan menghindari berbagai gangguan jadi seringkali  mendapati sarang semut rangrang berada di tempat tinggi dan sulit untuk dijangkau. Sedangkan ketika musim panas mereka akan berpindah sarang ke tempat yang lebih teduh, tertutup dari sinar matahari langsung.

Serka Hartono memanfaatkan sarana toples transparan berukuran sedang sebagai membudidayakannya, sehingga dirinya bisa memantau perkembangan koloni semut rangrang setiap saat. Toples dilubangi bagian bawahnya berfungsi sebagai tempat keluar masuk udara dan pemberian makan pada semut. Toples diletakkan di atas rak dengan posisi terbalik. Masukkan pakan semut rangrang kedalam toples setelahnya masukkan koloni semut kedalam toples. Namun koloni semut yang dimasukkan tidak beserta sarangnya. Stelah diberikan makanan secukupnya, kemudan tutup rapat toples termasuk lubangnya dengan menggunakan lakban. Ini berfungsi agar semut segera membuat sarang. Setelah terbentuk sarang dengan baik maka bisa membuka lakban pada lubang toples.

Sedangkan, sejak sebulan membudidayakan  semut kroto tersebut, dirinya mengaku sudah beberapa kali berhasil memanen dengan hasil memuaskan. Bahkan, dirinya sudah cukup banyak dikenal oleh kalangan hobiis burung berkicau serta pembudidaya kroto yang lain. Tidak sedikit pembudidaya yang justru mengambil (memesan) hasil panenan kroto ke rumahnya.
(Fin)

Read previous post:
Dansatgas TMMD Pimpin Karya Bhakti Kantor PWI

KEGIATAN kemasyarakatan terus dilakukan Satgas TMMD ke-101 Kodim 0734/Yogyakarta. TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) tahun 2018 yang bertempat di Kampung

Close