HARI PERTAMA UNBK SMA DI BANTUL – Satu Siswa Dipastikan Ujian Susulan

MERAPI-RIZA MARZUKI Bupati Bantul, Suharsono memantau pelaksanaan ujian melalui layar CCTV SMA N 1 Jetis.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Bupati Bantul, Suharsono memantau pelaksanaan ujian melalui layar CCTV SMA N 1 Jetis.

JETIS (MERAPI) – Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kabupaten Bantul mendapat perhatian penuh dari Pemerintah Kabupaten Bantul. Bupati dan Wakil Bupati Bantul memimpin langsung dua tim pemantau pelaksanaan UNBK di wilayahnya. Hari pertama UNBK, Senin (9/4) dipastikan satu siswa akan mengikuti ujian susulan pekan depan, dikarenakan sakit. Sementara terpantau tidak ada kendala teknis yang terjadi meskipun tercatat tiga siswa berkebutuhan khusus menjadi peserta ujian tahun ini.

Di sela pantauannya di SMA N Jetis, Bupati Bantul, Suharsono menegaskan tidak ada kendala teknis dalam pelaksaan UNBK hari pertama kemarin. Pihaknya mengaku bersyukur karena jumlah sekolah yang belum bisa melaksanakan UNBK secara mandiri di Bantul berkurang. Pada tahun pertama lalu jumlah SMA yang menggabung mencapai 14 sekolah, namun pada tahun 2018 ini tinggal 4 sekolah saja yang tidak bisa ujian mandiri. “Alasannya selain komputer kurang sekolah itu jumlah siswanya belum mencukupi,” sebutnya.

Suharsono mengaku akan terus memantau pelaksanaan UNBK tersebut. Meskipun secara kewenangan, SMK dan SMK langsung dibawah koordinasi Disdikpora DIY, namun siswa yang nengikuti ujian merupakan warga Bantul. Terkait prestasi dan target hasil ujian, Suharsono berharap tahun ini meningkat dibanding sebelumnya. Pada hari pertama ini Suharsono meninjau pelaksanaan UNBK di SMA Sewon dan SMA Jetis, sementara Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih memimpin tim pemantau ke SMA N 1 Banguntapan dan SMA N 1 Piyungan. “Saya melihat semangat siswa ini, semoga hasilnya memuaskan,” imbuh Suharsono.

Sementara, Kepala Balai Pendidikan Menengah Disdikpora DIY, Suhirman membenarkan satu peserta UNBK dari SMA N 1 Sewon tidak bisa mengikuti ujian dikarenakan sakit cacar. Menurutnya siswa tersebut akan mengikuti ujian susulan pekan depan
Panitia juga khawatir jika siswa tersebut tetap ikut ujian reguler akan mempengaruhi hasil ujian karena dengan kondisi sakit. Terlebih cacar yang memiliki potensi menular. Disebutkan Suhirman, tiga siswa berkebutuhan khusus di Bantul terdiri dari siswa low vision, tuna rungu, dan tuna netra. “Untuk sebagaian siswa berkebutuhan khusus diijinkan menggunakan paper based test, baru nanti diinputkan ke komputer oleh petugas,” terangnya.

Terkait jumlah sekolah yang belum bisa melaksanakan ujian mandiri, Suhirman menyebut empat sekolah yaitu SMA Muhammadiyah Pleret, SMA Patria, SMA Tumbuh, dan MA Ummatan Wasyaton. Diakuinya jumlahnya menurun signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 14 sekolah dari 36 SMA di Bantul. Suhirman menyebut seluruh peserta ujian tingkat SMA tahun ini mencapai 4472 siswa. Banyaknya sekolah yang mampu melaksanakan UNBK mandiri lantaran pemerintah memberikan keleluasaan untuk menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) sesuai dengan kebutuhan prioritasnya. Sehingga banyak sekolah yang tahun ini melakukan penambahan komputer. Selain itu, sekolah juga banyak yang memilih untuk melaksanakan ujian dalam dua sesi. “Sekolah negeri ada yang pakai dana pemerintah untuk menambah komputer. BOS nilai unit cost sekarang Rp 3,5 juta terdiri dari Rp 2,1 juta dari provinsi dan Rp 1,4 juta dari pusat. Jadi cukuplah untuk keperluan itu,” pungkasnya. (C-1)

Read previous post:
AKTIVITAS LANGSUNG BERJALAN NORMAL – Pasar Palawija Dipindah ke Besole

WONOSARI (MERAPI) - Sejumlah pedagang Pasar hasil bumi (palawija) yang semula berada di Jalan Mgr Sugiyopranoto Baleharjo, Wonoasari, Kabupaten Gunungkidul,

Close