Petani Butuh Tahu Sistem Organik Terstandar

Lahan pertanian organik ditanam cabai. (MERAPI-Abdul Alim)
Lahan pertanian organik ditanam cabai. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Penurunan kuantitas hasil panen dapat diantisipasi petani yang beralih ke metode organik. Diantaranya mengganti unsur kimia dengan organik pada tanah dan tanaman secara bertahap serta terukur.

Hal itu disampaikan Ketua Organisasi Perkumpulan Tani Organik Sejati (ATOS), Dedy Fachrudin Irawan kepada wartawan di Karangpadan, Minggu (8/4). Ia menyebut produk pertanian kimiawi membawa kerugian bagi kesehatan karena unsur racun yang tak bisa terurai. Mengembalikan proses bercocok tanam secara alami merupakan satu-satunya cara menyehatkan tubuh melalui makanan berkualitas. Sayangnya, tidak semua petani konsisten dengan proses konversi kimia ke alami dan teredukasi secara benar.

“Kita mendampingi petani selama 10 tahun terakhir. Butuh proses tidak singkat dan kesabaran untuk beralih ke organik. Tanah yang terlanjur dijejal unsur kimia, sedikit demi sedikit disubstitusi pupuk dan pestisida organik. Komposisinya ditambah pada MT II sampai nantinya ketergantungan kimia dihilangkan. Secara bertahap dan terukur tidak akan menurunkan hasil panen,” katanya.

Bersama para pakar dan akademisi, Atos membuka ruang konsultasi petani melalui koordinator wilayah yang telah terbentuk di Kepulauan Riau, Medan, Kediri, Temanggung, Grobogan dan Solo. Di daerah binaan, Atos menganjurkan penggunaan demplot agar sistem organik pertanian lebih terkontrol.

Dewan Penasehat ATOS Dr Pramono Hadi SP MSi menambahkan, organisasinya mendampingi petani sampai ke pengemasan dan pemasaran produk organik. Atos bercita-cita menerapkan pertanian organik secara menyeluruh pada tahun 2025.

“Pertanian kita di posisi kritis. Mindset petani ingin hasil banyak dengan waktu singkat, namun dampak lingkungan tidak diurus. Padahal konversi kimia ke organik pada pertanian minimal butuh waktu dua tahun. Kalau tidak diberi pendampingan dan pemahaman, akan menjadi bencana bagi anak cucu kita,” kata pria yang menjabat Rektor Uniba Surakarta ini.
Pendampingan Atos tak hanya di bidang pertanian, namun juga perikanan dan perkebunan.
Petani selain belajar sistem organik juga bisa menjajaki produk inovatif seperti eskrim sayur dan pil sayur. Petani organik asal Klaten, Suharna, menerapkan menerapkan budi daya jahe merah dengan pupuk 14 bahan racikan aneka sayur, buah, daun, dan lain-lain yang difermentasi. “Kami didampingi dan diberi tahu soal pengelolaan produk habis panen. Kemas produk dengan standarisasi. Dijual. Semua proses mengarah ke organik sesuai standar organik,” katanya seraya menyebut penjualannya sampai ke Myanmar. (Lim)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO Petugas SAR menunjukan foto Andrey Voytech.
SEMINGGU HILANG DI GUNUNG MERBABU-Pendaki Asing Ditemukan Membusuk di Dasar Jurang

SEMARANG (MERAPI)-  Andrey Voytech (39) warna negara asing (WNA) berkebangsaan Slovakia (awalnya dikabarkan warga asal New Zeland) ditemukan tewas di

Close