SYIAR ISLAM KI AGENG MAKUKUHAN (SUNAN KEDU) (3) – Menolong Harimau Terjepit Pohon

Jaka Teguh berpamitan kepada istrinya. Syeh Maulana Gharibi tidak tega melihat Jaka Teguh berangkat sendirian. Dia memerintahkan dua orang santrinya untuk menemani Jaka Teguh, Bah Beo dan Bah Gedruk. Mereka berangkat dari Padepokan Argaluwih pada pagi hari setelah sholat Subuh.

ARAH perjalananannya ke timur. Dalam perjalanannya penuh godaan dan rintangan namun, semua dapat diatasi. Ketika sampai di bukit Slandhakan, mereka mendengar raungan harimau yang membuat mereka takut dan miris. Jaka Teguh lalu duduk dan bersamadi supaya hati dan pikirannya tenang.

Jaka Teguh berdoa memohon kepada Allah SWT agar mereka diberi keselamatan. Sementara Bah Beo dan Bah Gedruk badannya menggigil ketakutan, tetai juga karena hawa kawasan lereng Gunung Sumbing sangat dingin.

Usai bersamadi, Jaka Teguh, “Hai macan, kalau kamu tega akan memangsa saya bertiga, sekarang juga saya pasrah. Saya tidak akan mengelak. Tetapi, bila kamu akan minta tolong, sekarang meraunglah tiga kali.” Ketiga orang itu terdiam menanti kejadian selanjutnya. Suasananya sangat mencekam.

Kemudian terdengar harimau itu mengaum tiga kali. Tak lama, mereka melihat seekor harimau terjepit batu dan tertimpa pohon jalu. Melihat keadaan harimau yang menderita seperti itu, Jaka Teguh merasa sangat kasihan. Jaka Teguh membaca mantra pemberian Ki Jenggot Putih. Terkena daya mantranya, pohon jalu yang menimpa harimau itu seketika berdiri tegak kembali tanpa ada orang yang menegakkannya. Akhirnya, harimau hitam itu terlepas dari penderitaanya.

Setelah harimau itu terlepas dari jepitan batu dan timpaan pohon jalu, dia berjalan perlahan mendekati Jaka Teguh. Seperti layaknya manusia, harimau itu bertingkah sopan dan dengan gerakan isyarat dia mengucapkan terima kasih kepada Jaka Teguh. Harimau hitam itu kemudian pergi dan masuk ke semak belukar. Bah Beo dan Bah Gedruk sangat heran dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan. Dan sebagai pengingat, Jaka Teguh memberi nama tempat kejadian itu desa Cepit, karena di situ pernah ada harimau hitam terjepit batu.

MERAPI-AMAT SUKANDAR – Gerbang masuk ke kompleks makam Ki Ageng Makukuhan.
MERAPI-AMAT SUKANDAR – Gerbang masuk ke kompleks makam Ki Ageng Makukuhan.

Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalanan turun gunung ke arah utara. Di tengah perjalanan, Jaka Teguh melihat sumber air yang sangat jernih di bawah pohon pakis haji. Sumber air tersebut kini bernama Sendang Traji. Mereka bertiga mandi dan badannya merasa segar, karena sudah berhari-hari tidak mandi.

Di dekat sendang ada sebuah batu besar di bawah pohon garu yang sangat rimbun. Mereka bertiga beristirahat di bawah pohon itu. Jaka Teguh duduk santai menanti saat sholat Dhuhur. Tiba-tiba datang seseorang yang mengenakan jubah hitam dan ikat kepala hitam mendekati mereka. Tanpa diperintah, ketiga orang itu bergegas mengucapkan salam bersama, “Assalamu ‘alaikum……” “Wa ‘alaikum salam,” jawab orang yang berjubah hitam itu dan berkata, “Nak, sudah tidak merasa lelah, kan? Mari kita salat Dhuhur bersama”. Sesudah salat Dhuhur si Jubah Wulung bertanya kepada Jaka Teguh, “Apakah kamu sedang mencari saya?” Jaka Teguh menjawab, “Ya”. “Kalau begitu, sekarang mari semua mengikuti saya”, ajak si Jubah Wulung. (Amat Sukandar/Jbo)

Read previous post:
TELAN BIAYA Rp 1,89 M – Desa Nogotirto Resmikan Tiga Gedung Baru

GAMPING (MERAPI) - Pemerintah Desa Nogotirto, Gamping bersama masyarakat menggelar acara syukuran atas selesainya pembangunan gedung serbaguna, kantor desa dan

Close