Wana Wisata Gunung Bromo akan Dikelola Pemkab Karanganyar

Area hutan Lawu di Karanganyar. (MERAPI-Abdul Alim)
Area hutan Lawu di Karanganyar. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Pemkab Karanganyar mengajukan usulan revisi batas pengelolaan hutan Lawu ke Perhutani. Selain itu, wana wisata Gunung Bromo juga bakal diminta pengelolaannya. “Sejak Agustus 2017 lalu, Perhutani menyerahkan pengelolaan Pringgondani, Sekipan dan Lawu ke Pemda. Ada bagi hasil yang harus diaerahkan ke Perhutani. Dalam perjalanannya, ada yang harus diluruskan soal pengelolaan Lawu. Terutama batas-batasnya,” kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Titis Sri Jawoto, Minggu (1/4).

Sejauh ini, Pemda hanya bisa mengambil kontribusi pengelolaan Lawu dari karcis masuk pendakian di pintu Cetho dan Cemoro Kandang. Padahal di area pintu masuk itu potensial dikembangkan menjadi obyek wisata. “Seperti di Cetho yang belum masuk ke Pemda. Nantinya ini yang bakal diusulkan dalam revisi. Intinya kawasan itu juga sewajarnya masuk ke pengelolaan Lawu. Termasuk Candi Ketek dan patung Saraswati di sana,” katanya.

Dalam rangka pengusulan itu, dibutuhkan pengukuran ulang batas-batas wilayah kerjasama. Titis mengatakan kepastian area Perhutani yang dikelola Pemkab Karanganyar menentukan tawaran kerjasamanya ke calon investor. Mengenai target setoran ke Perhutani, Titis mengaku tak mempersoalkannya. “Sejak kita kelola per 1 Agustus 2017 hingga akhir Desember lalu, kita bisa mencapai target setoran. Setahun ditarget setor Rp 370 juta sedangkan pemasukannya Rp 500 juta. Ini potensi besar yang bisa lebih dikembangkan,” katanya.

Selama ini pendapatan pengelolaan Lawu dari tiket masuk pendakian ke puncak Rp 15 ribu per orang dan Cemoro Kandang Rp 5 ribu per orang; Sekipan Rp 7.500 dan menginap Rp 10 ribu sefangkan masuk Pringgondani Rp 10 ribu.

Lebih lanjut dikatakan, Wana Wisata Gunung Bromo milik Perhutani yang terletak di perbatasan Kecamatan Karanganyar Kota dan Mojogedang juga akan diambil alih pengelolaannya. Rencana ini sebenarnya lama bergulir namun niatan itu lebih dulu disampaikan UNS. Alas Bromo, demikian lebih akrab dikenal, memiliki koleksi tanaman langka dan area perkemahan representatif.  “Lama tak juga dieksekusi, akhirnya kita maju. Ada potensi ekonomi di sana, atau minimal potensi edukatif,” katanya.

Titis mengatakan konsep pengelolaan Alas Bromo sudah disusun. Yakni mengenalkan wisata alam alternatif di perkotaan.  “Termasuk pohon tua yang menarik. Sudah bisa langsung kita benahi. Misalnya bikin panggung terbuka, tempat duduk gazebo dan sebagainya. Sinergi dengan investor,” katanya. (Lim)

 

Read previous post:
Cetak KTP-el Pemilih, Pemkab Sukoharjo Kejar Kelengkapan Syarat Memilih Pilgub Jateng 2018

SUKOHARJO (MERAPI) - Warga yang sudah punya hak pilih Pilgub Jawa Tengah 2018 diminta untuk segera melengkapi diri dengan administrasi

Close