Permintaan Masyarakat Dalangan Atasi Tebing Sungai Longsor Belum Terkabul

 Kondisi tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari longsor semakin parah. (MERAPI-Wahyu Imam Ibadi)
Kondisi tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari longsor semakin parah. (MERAPI-Wahyu Imam Ibadi)

SUKOHARJO (MERAPI) – Pemerintah pusat khususnya melalui Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) dinilai kurang peka dengan kondisi tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari yang longsor semakin parah. Sebab permintaan warga masyarakat untuk dibuatkan talud pengaman sama sekali belum dikabulkan. Padahal Pemerintah Desa Dalangan Kecamatan Tawangsari dan Pemkab Sukoharjo sudah sering mengajukan permohonan bantuan.

Kepala Desa (Kades) Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Bagyo Slameto, Sabtu (31/3) mengatakan, sudah sering dan berulang kali Pemerintah Desa Dalangan Kecamatan Tawangsari meminta atau mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah. Baik itu ke Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Bahkan setiap tahun surat pengajuan dilakukan dengan maksud permintaan pembangunan talud pengaman bisa dikabulkan.

Pembangunan talud pengaman menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui BBWSBS. Kepastian tersebut diketahui setelah Pemerintah Desa Dalangan Kecamatan Tawangsari mendapatkan jawaban saat pengajuan permohonan bantuan kesejumlah pihak.

Tidak sekedar surat namun Pemerintah Desa Dalangan Kecamatan Tawangsari juga sering mendatangi kantor BBWSBS untuk meminta jawaban dari petugas. Sebab pembangunan talud pengaman mendesak untuk segera diperbaiki agar warga masyarakat sekitar Sungai Bengawan Solo tidak resah.

“Tebing sungai ini sudah lama longsor bahkan awal terjadinya sekitar Tahun 1989. Sampai sekarang Tahun 2018 sama sekali tidak ada respon. Pemerintah dalam hal ini BBWSBS kurang peka. Sebab warga masyarakat Dalangan, Tawangsari sudah semakin resah. Mereka kehilangan tanah dan rumah tanpa ada kejelasan nasib dan ganti rugi. Sekarang hanya punya sertifikat tanah saja dan tidak ada tanahnya,” ujar Bagyo Slameto.

Berulang kali Pemerintah Desa Dalangan Kecamatan Tawangsari meminta bantuan ke Pemkab Sukoharjo. Namun hasilnya sama saja sebab kewenangan perbaikan atau pembangunan talud dimiliki pusat.

“Pemkab Sukoharjo sudah merespon baik tapi ya itu tadi bukan kewenangannya. Pembangunan talud kewenangan pusat. Kami menunggu BBWSBS bisa mengabulkan permintaan warga,” lanjutnya.

Penyebab tebing sungai longsor karena derasnya arus dan debit air tinggi. Titik awal longsoran terjadi dibagian tikungan atau tabrakan arus air. Longsor dari awalnya kecil atau sedikit lama kelamaan menjadi besar dan melebar.

Kondisi tebing sungai yang longsor paling parah terjadi di Dukuh Dalangan, Desa Dalangan RT 2 RW 3 Kecamatan Tawangsari. Dilokasi tersebut ada sembilan rumah warga terancam. Rumah tersebut beberapa orang pemiliknya terpaksa pindah dan memilih mengosongkan tempat tinggalnya. Namun sebagian rumah sisanya masih ditempati warga.

Wilayah terdampak lainnya akibat tebing sungai longsor yakni di Dukuh Dliyun dan Dukuh Gedungan. Selain mengancam rumah warga tebing sungai yang longsor juga mengancam akses jalan raya. Apabila sebelumnya jarak bibir sungai dengan jalan lebih dari 100 meter maka sekarang tinggal 25 meter.

Pihak Pemerintah Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari resah karena tebing longsor semakin parah dan mendekat ke jalan raya. Apabila dibiarkan maka bisa mengancam akses jalan.

“Sudah lebih dari 29 tahun sejak Tahun 1989 saat awal longsor terjadi sampai Tahun 2018 tebing Sungai Bengawan Solo longsor semakin parah. Pekarangan warga sudah hilang hanyut ke sungai dan sekarang juga mengancam rumah warga karena jarak dengan bibir sungai tinggal 1,5 meter,” lanjutnya.

Salah satu warga Dalangan RT 2 RW 3, Dalangan, Tawangsari Sumarjo mengatakan, ada sembilan rumah warga terancam hanyut ke sungai. Rumah tersebut milik, Sumarjo, Nasir, Seno, Wagiyem, Abdul Aziz, Utari, Tarno, Ngadi, Sriyono.

Kesembilan warga pemilik rumah tersebut semakin resah. Sebab jarak antara bibir sungai dengan rumah warga semakin dekat. Mereka khawatir apabila tidak ada penanganan maka bisa terjadi longsor susulan.

Satu warga Dalangan, Tawangsari, Wardi Wiyono sudah pindah ke rumah anggota keluarganya yang lain. Posisi rumahnya sekarang kosong dan sebagian tanah dan rumah sudah longsor ke sungai.

“Sebagian warga masih tinggal di rumah dan resah. Satu warga yakni Wagiyem sudah pindah rumah ke Jakarta sejak Tahun 2012 ikut keluarganya. Warga meminta agar pemerintah pusat segera turun tangan melakukan penanganan dengan membangun talud pengaman,” ujar Sumarjo.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Agus Santosa mengatakan, tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari memang semakin parah. Ancaman tidak hanya terjadi pada tanah saja namun juga rumah warga.

“Keluhan dari warga tebing longsor semakin parah dan memang harus dilakukan penanganan. Tapi itu kewenangan pusat,” ujarnya. (Mam)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
SYIAR ISLAM KI AGENG MAKUKUHAN (SUNAN KEDU) (1) – Dari Kudus Sampai Argaluwih

Sekitar abad ke XV pada zaman Kerajaan Demak di Kudus ada Pondok Pesantren di desa Glagahwangi, dipimpinan Sunan Kudus. Kala

Close