SYIAR ISLAM KI AGENG MAKUKUHAN (SUNAN KEDU) (1) – Dari Kudus Sampai Argaluwih

MERAPI-AMAT SUKANDAR – Jalan menuju puncak Gunung Sumbing di Pagergunung.
MERAPI-AMAT SUKANDAR – Jalan menuju puncak Gunung Sumbing di Pagergunung.

Sekitar abad ke XV pada zaman Kerajaan Demak di Kudus ada Pondok Pesantren di desa Glagahwangi, dipimpinan Sunan Kudus. Kala itu Majapahit mulai surut, hanya tersisa negeri-negeri kecil, salah satunya negeri Capit Urang. Negeri kecil ini tak senang karena Demak berniat menyebarkan Islam di Tanah Jawa.

MASJID Tie Lieng Sieng adalah salah satu masjid yang digunakan belajar para santri Sunan Kudus di Pesantren Glagahwangi. Di antara para santri itu yang menonjol kepandaiannya hanya sembilan orang, mereka disebut Santri Sanga.

Pada suatu Subuh, saat para santri menjalankan salat Subuh tiba-tiba para santri itu dikejutkan suara jeritan para bakul pasar yang tidak jauh dari masjid. Dagangan mereka diporakporandakan para perajurit dari negeri Capit Urang yang dipimpin Gagak Lodra. Para bakul lari menyelamatkan diri dari amukan perajurit Capit Urang. Gagak Lodra tanpa rasa kemanusiaan membuat onar di pasar.

Melihat peristiwa tak diduga itu, para santri Glagahwangi tanpa diperintah menghadapi serangan perajurit Capit Urang. Tetapi, para santri terpukul mundur oleh serangan perajurit Capit Urang. Banyak santri menyelamatkan diri termasuk Santri Sanga. Di antara Santri Sanga itu ada Sirojul Munir, Makukuhan (Syeh Maulana Taqwim) dan Moh Gufron.

Makukuhan luka parah terkena amukan Gagak Lodra. Diikuti prajuritnya, Gagak Lodra mengejar Makukuhan. Ketika sampai di daerah Sirandu, Makukuhan sudah kehabisan tenaga, tidak mampu berlari. Dia berhasil ditangkap prajurit Gagak Lodra. Makukuhan tidak bisa melawan, dia merasa ajalnya akan tiba.

Sekujur tubuh Makukuhan penuh luka. Ketika Gagak Lodra dan perajuritnya menghajar Makukuhan, tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang tidak diketahui asalnya. Suara menantang Gagak Lodra dengan tembang Dandanggula:
Gagak Lodra kang ngaku prajurit / Nyata sira mung anggunggung karsa / Mlasara pepadhane / Yen nyata sira iku / Sraya king nagri Majapahit / Aja sira anggembela / Adhepana ingsun / Ingsun tan bakal lumayu / Hangadhepi manungsa lir sana sunu / Kuru tur tanpa bayu.

Gagak Lodra dan para perajuritnya merasa heran. Selagi mereka terlena bayangan putih itu secepat kilat menyambar menyambar Makukuhan dan dibawa menghilang. Meski dicari di semua tempat, Makukuhan tidak ditemukan. Gagak Lodra pun marah.
Orang misterius yang menyelamatkan Makukuhan itu tidak lain Kyai Kasan Besari, atau Ki Jenggot Putih. Ki Jenggot Putih telah sekian lama mengawasi perjalanan Gagak Lodra dan kawan-kawannya. Makukuhan yang luka parah dipanggul Ki Kasan Besari, dibawa ke padepokan Syeh Maulana Gharibi di Padepokan Argaluwih. Di pedepokan itu Makukuhan terpikat dengan putrid Syeh Maulana Gharibi. (Amat Sukandar/Jbo)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
CERITA MISTERI – Samurai Muncul dalam Terowongan

TEROWONGAN ini berada dalam pangkalan militer Angkatan Laut Amerika Serikat. Sejak dulu, setelah Perang Dunia II, Jepang tidak memiliki angkatan

Close