LEMPAR BATAKO TEWASKAN KORBAN-Cah Klitih Divonis 6 Tahun

MERAPI-YUSRON MUSTAQIM -Terdakwa cah klitih dikawal petugas ketika hendak masuk ke persidangan di PN Bantul
MERAPI-YUSRON MUSTAQIM
-Terdakwa cah klitih dikawal petugas ketika hendak masuk ke persidangan di PN Bantul

BANTUL (MERAPI)- Majelis hakim yang diketahui Agung Sulistiyono SH SSos MHum menjatuhkan vonis 6 tahun penjara terhadap eksekutor klitih, Agus Wahyudin (19) warga Druwo, Bangunharjo, Sewon, Bantul dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Kamis (29/3) sore. Terdakwa terbukti melemparkan batako hingga menewaskan korban Arif Nurahman.
Vonis yang dijatuhkan tersebut lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Titik Kiani SH yang semula menuntut 5 tahun penjara. Majelis hakim sependapat dengan tuntutan jaksa terhadap terdakwa dengan pasal 351 ayat 3 KUHP yang telah melakukan pelemparan batako hingga korban Arif Nurahman tewas.
Hal-hal yang memberatkan hukuman, menurut hakim, terdakwa tak mengakui perbuatannya dan berbelit-belit selama persidangan. Selain itu perbuatan terdakwa juga menyebabkan nyawa orang melayang. Saat diadili, pelaku memang selalu berbelit-belit. Termasuk manuvernya mencabut BAP dan beralasan diancam senjata api oleh polisi agar mau mengakui aksi pelemparan batako. Namun keterangan ini dibantah penyidik. Begitu pula dengan majelis hakim yang akhirnya menyatakan terdakwa bersalah.
Atas putusan tersebut, terdakwa melalui penasihat hukumnya Iwan Setiawan SH, Gunawan SH, Purwono SH dan Daniel Tatag SH berencana akan melakukan banding. Purwono SH mengatakan, selama ini majelis hakim dinilai tak mempertimbangkan beberapa fakta persidangan.
“Kami menyesalkan sikap majelis hakim yang tak mempertimbangkan keterangan saksi dan alibi yang telah diperiksa di persidangan,” terang Purwono SH.

Dalam amar putusan majelis hakim terungkap, terdakwa telah melakukan penganiayaan dengan pelemparan batu batako hingga korban Arif Nurahman tewas. Sebelum dilempar batako, awalnya korban bersama temannya pada Sabtu malam 4 November 2017 keluar rumah untuk mencari makan di warung angkringan.
Setelah selesai makan, rombongan korban akhirnya berpisah. Korban bersama dua temannya mengendarai dua motor memutuskan balik ke rumah.
Saat itu rombongan korban bertemu dengan terdakwa di Jalan Imogiri Barat dan saling ejek. Kemudian terdakwa yang membonceng Riko (terpisah) berbalik arah mengejar rombongan korban meski sudah melaju sampai selatan perempatan Sudimoro.

Kemudian terdakwa bersama temannya mencari batu untuk mengejar korban yang melaju ke arah barat Jalan Sudimoro-Tembi pada Minggu 5 November 2017 pukul 02.30. Setelah tertangkap, terdakwa melempar batako mengenai dada korban. Akibatnya, korban yang ketika itu mengendarai sepeda motor di depan terjatuh dan pingsan.
Setelah melempar batako terdakwa bersama Riko melarikan diri. Teman korban masuk ke kampung dan minta pertolongan warga kemudian dibawa ke Puskesmas Sewon. Tetapi nyawa korban tak bisa diselamatkan sampai akhirnya dinyatakan tewas. Setelah kejadian ini, polisi langsung melakukan penyelidikan hingga berhasil menangkap tersangka dan diseret ke pengadilan. (C-5)

 

Read previous post:
MERAPI- SAMENTO SIHONO Bripda Fajar (kiri) dan Bripda Berti menuturkan kisah pengalaman bertaruh nyawa saat menandaki hingga puncak Carstensz Pegunungan Jaya Wijaya.
CERITA 2 POLWAN POLDA DIY TAKLUKKAN PUNCAK JAYAWIJAYA-Meniti Tali di Atas Jurang Sedalam 600 Meter

PRESTASI- membanggakan dibukukan oleh dua polisi wanita (polwan) di Polda DIY. Mereka adalah Bripda Fajar Astuti (19) dan Bripda Berti

Close