CERITA 2 POLWAN POLDA DIY TAKLUKKAN PUNCAK JAYAWIJAYA-Meniti Tali di Atas Jurang Sedalam 600 Meter

MERAPI- SAMENTO SIHONO Bripda Fajar (kiri) dan Bripda Berti menuturkan kisah pengalaman bertaruh nyawa saat menandaki hingga puncak Carstensz Pegunungan Jaya Wijaya.
MERAPI- SAMENTO SIHONO
Bripda Fajar (kiri) dan Bripda Berti menuturkan kisah pengalaman bertaruh nyawa saat menandaki hingga puncak Carstensz Pegunungan Jaya Wijaya.

PRESTASI- membanggakan dibukukan oleh dua polisi wanita (polwan) di Polda DIY. Mereka adalah Bripda Fajar Astuti (19) dan Bripda Berti Kurniawati(24), yang berhasil menaklukkan puncak tertinggi di Indonesia, Carstensz Pyramid di Pegunungan Jayawijaya, Papua. Tantangan terberat yang harus dihadapi adalah saat meniti tali di atas jurang sedalam ratusan meter. Mereka bertaruh nyawa untuk melintasinya.
Saat berbincang dengan wartawan, Sabtu (24/3), Bripda Fajar dan Bripda Berti bercerita perjuangan mereka untuk mencapai puncak tidak mudah. Ia dan 23 polwan lainnya harus bertaruh nyawa untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus tahun 2017 lalu. Mereka lolos seleksi pendakian pada bulan April 2017 dan menyingkirkan 120 orang polwan se-Indonesia yang mengikuti seleksi pendakian Cartenz. Atas keberhasilannya itu mereka mendapatkan dua rekor MURI sekaligus.

“Saya berterima kasih, sudah mendapat kesempatan luar biasa itu. Akhirnya, para polwan mampu menaklukkan puncak Carstenzs,” beber Bripda Berti.
Perempuan kelahiran Sleman 24 tahun silam ini bercerita, proses pendakian puncak Cartenz bukan perkara mudah bagi para polwan. Ada titik tersulit sekaligus mengerikan dalam pendakian itu, satu di antaranya adalah di titik Burma Bridge.
“Kami harus berjalan meniti seutas tali. Pemandangan bawah adalah jurang sedalam 600 meter. Selain itu cuaca di puncak sangat ekstrem,” kata berti.
Menurutnya, panjang tali itu sekitar 20 meter. Setidaknya ada tiga tali yang dibentangkan, di mana satu tali untuk meniti, dua tali untuk pegangan tangan. Setelah melalui Burma Bridge, para pendaki disuguhi rintangan lain. “Kami harus melompat di antara tebing batu satu dengan yang lain. Kalau salah lompat, nyawa melayang,” beber Berti.
Beruntung, para polwan mampu melintasi berbagai rintangan alam Carstensz tanpa cidera. Tiba di puncak Carstensz, para polwan seketika mengadakan upacara bendera, dan langsung bersyukur saat pertama menapakkan kaki di puncak. Air mata personel Ditreskrimum itu pun tertumpah di saat kakinya menginjak gunung dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut tersebut. “Perasaan saya senang, haru, campur aduk. Sulit dideskripsikan saat itu,” jelasnya.

Kegiatan pendakian ini bukan pertama kalinya bagi Berti, pasalnya ia sudah beberapa kali mendaki gunung yang ada di pulau Jawa. Tapi mendaki Puncak Carstensz, Pegunungan Jayawijaya, adalah pertama kalinya bagi Berti.
“Pinginnya mendaki lagi tapi belum ada waktu. Karena mendaki gunung sudah menjadi hobi,” kata Berti sembari tersenyum.
Sementara itu Bripda Fajar bercerita sebelum pendakian, ia mengikuti pelatihan. Fisiknya digembleng menjelang misi pendakian puncak Carstensz dalam pelatihan yang berlangsung selama dua bulan mulai Mei hingga Juli 2017 di Sukabumi Jawa Barat.
“Tes pendakian Carstensz hampir mirip ujian masuk Polri. Namun lebih sulit, ada tes ketahanan tubuh,” ujar Fajar.
Fajar menceritakan, para personel wajib lari selama tiga jam nonstop. Selain itu, ada latihan panjat turun tebing dan aktivitas itu berlangsung tiap kali pelatihan. “Sampai kaki dan lengan kami membesar. Capeknya luar biasa,” imbuhnya.

Kendati demikian, pengalaman mendaki Puncak Carstensz memberikan kesan tersendiri baginya. Namun, rasa capek itu terbayar kala Fajar tiba di puncak Carstensz. Ia tidak bisa mengungkapkan hasil pendakian itu dengan kata-kata. “Yang pasti rasa bangganya. Apalagi ini yang pertama ikut pendakian,” celetuk anggota Dit Sabhara Polda DIY ini.
Menurutnya pegunungan Jayawijaya merupakan gunung tertinggi di Indonesia sehingga ada tantangan tersendiri saat melakukan pendakian. Selain masalah ketinggian, ada beberapa faktor yang cukup menyulitkan tim selama pendakian. “Kesulitannya berhadapan dengan alam yang tidak bisa dikondisikan, jadi kita harus menyesuaikan agar tidak mengalami hipotermia. Alhamdulillah, nggak ada yang hipotermia, kalau kelelahan itu biasa,” sambung Fajar. (Shn)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Perajin Rotan Trangsan Minta Pemerintah Bantu Subsidi Bahan Baku

SUKOHARJO (MERAPI) - Perajin rotan Desa Trangsan, Kecamatan Gatak meminta kepada pemerintah pusat memberikan subsidi bahan baku. Sebab para pelaku

Close