DARI HOBI TANAM SAMPAI DISEWAKAN – Tren Anggrek Bulan Tetap Bertahan

 MERAPI-TRI DARMIYATI  Dwi dengan anggrek bulan berbagai warna hasil budidaya penggemar anggrek di Gapoktan Giwangan.

MERAPI-TRI DARMIYATI
Dwi dengan anggrek bulan berbagai warna hasil budidaya penggemar anggrek di Gapoktan Giwangan.

TAK seperti bunga dan tanaman hias lain yang mengalami pasang surut, tren anggrek bulan tetap bertahan. Bunga anggrek yang bisa bertahan lama itu seperti tak mengenal tren karena masih diburu para penghobi tanaman bunga. Para hobiis tak hanya menanam dan membudidayakan, bahkan menyewakan hingga menjual tanaman anggrek bulan.

Hal itula yang dilakukan oleh anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kelurahan Giwangan. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Gapoktan Giwangan adalah membudidayakan tanaman anggrek sejak tahun 2012. Kini ada sekitra 30 anggota gapoktan yang membudidayakan tanaman anggrek di rumah masing-masing.

“Ibu-ibu banyak yang senang dengan anggrek karena bunganya tahah lama. Bisa sampai lima bulan kalau akarnya sehat. Anggrek itu tidak mengenal tren semua ada penggemarnya. Tapi yang paling digemari adalah anggrek bulan,” penghobi anggrek dan pengurus Gapoktan Kelurahan Giwangan, Dwi Hastuti, belum lama ini.

Selain tahan lama, ukuran dan bentuk anggrek bulan juga lebih besar dibandingkan anggrek jenis lainnya. Warna kelopaknya juga beragam seperti putih, merah muda, ungu dan kuning hingga warna kombinasi. Meski demikian untuk menghasilkan tanaman anggrek berbunga indah dan sehat memerlukan ketelatenan dalam merawatnya.

“Perawatannya agak sedikit ekstra. Mulai dari penyiraman air sampai kecukupan sinas matahari. Anggrek bulan tidak boleh kena sinar matahari langsung dalam waktu lama,” tambahnya.

Pada penyiraman anggrek bulan juga harus memperhatikan media tanam. Dia menuturkan jika anggrek bulan ditanam menggunakan media arang, maka penyiraman cukup sehari dua kali. Sedangkan anggrek yang ditanam pada media pakis cukup sehari. Bahkan jika kondisi pakis masih basah maupun saat cuaca mendung tidak perlu siram.

“Tamana anggrek bulan itu tidak bisa lembab banget karena tidak tahan air,” ujar Dwi yang kini memiliki koleski puluhan anggrek itu.

Untuk memberikan pemahaman terhadap perawatan tanaman anggrek itu Gapoktan Giwangan setiap dua bulan sekali mengadakan pertemuan. Dia mengutarakan dalam pertemuan itu diulas mengenai cara menanam anggrek biar sehat sampai pemupukan tanaman. “Penanganan anggrek setiap anggota berbeda karena kadang ada anggreknya mati dan tidak, sehingga perawatan yang benar harus diperhatikan. Memang butuh ketelatenan,” urainya.

Para ibu Gapoktan Giwangan itu tak hanya menanam dan membudidayaan tanaman anggrek. Tapi juag menjadikannya sebagai tambahan ekonomi keluarga karena tanaman anggrek itu juga laku saat pameran maupun perseorangan para penggemar anggrek. Harga jual anggrek bulan mulai dari Rp 150 ribuan sampai Rp 2 jutaan. Tergantung jumlah dan bentuk kuntum anggrek bulan. Tanaman anggrek bulan mereka juga ada yang disewakan dengan harga sekitar Rp 250 ribu/bulan.

“Pembeli masih dari teman-teman yang hobi anggrek. Untuk yang sewa tanaman anggrek bulan biasanya kantor-kantor. Dari pada bunga plastik, lebih cantik bunga anggrek beneran,” ucap Dwi. (Tri)

Read previous post:
SAMBUT TMMD KODIM YOGYAKARTA – Masyarakat Pasang Bendera dan Umbul-umbul

MENYAMBUT Program TNI Manunggal Membanggun Desa (TMMD) Ke–101 Kodim 0734/Yogyakarta, warga Kampung Gambiran Kelurahan Pandeyan,Kecamatan Umbulharjo, Yogya memasang bendera Merah

Close