PENANGKARAN BURUNG DARI HOBI JADI REZEKI – Gaungkan Merpati Pos ke Dunia

 MERAPI-AMIN KUNTARI Penangkaran Sunrise di Kulonprogo  mengembangbiakkan merpati pos
MERAPI-AMIN KUNTARI
Penangkaran Sunrise di Kulonprogo mengembangbiakkan merpati pos

KEHADIRAN Satria, seekor merpati yang dibeli Bagus Sri Raharjo (47) di Bandung, pada 2014 lalu, seolah membangkitkan gairahnya untuk menangkarkan burung tersebut. Tujuan yang melatarbelakangi niat warga Giripeni, Wates, Kulonprogo ini terbilang mulia, yakni ingin menunjukkan kepemilikan Merpati Pos di Indonesia kepada dunia.

Penangkaran merpati yang dilakoni Bagus memang sudah dicita-citakannya sejak kecil. Ia kemudian mengambil langkah mantap, menyulap sebagian ruang bengkel dan bagian atas rumahnya menjadi kandang-kandang <I>breeding<P> atau penangkaran merpati.
“Dulu waktu masih SD, saya suka pelihara merpati. Setelah berhenti lama, barulah pada 2014 kecintaan terhadap merpati bangkit kembali, seolah mendorong saya untuk menangkarkannya,” kata Bagus mengawali perbincangan dengan wartawan di kediamannya, belum lama.

Bagus mengungkapkan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi luar biasa, yakni keberadaan merpati pos yang saat ini pangsa pasarnya cukup tinggi. Hanya saja, potensi tersebut belum banyak disadari dan diangkat ke kancah dunia, sehingga Bagus merasa terpanggil untuk melakukannya.

Tak ingin menangkarkan sembarang merpati, Bagus membiakkan jenis merpati pos yang sebagian indukannya didatangkan dari Inggris, Belanda dan Belgia. Penangkaran merpati pos milik Bagus yang berada di Jalan Pahlawan, Giripeni, Wates itu kemudian diberi nama Sunrise. Ada sekitar 260 merpati yang berada di kandang-kandang penangkaran, kandang pembesaran, maupun di kandang latih.

“Indukannya ada 160 ekor atau 80 pasang. 20 pasang di antaranya merupakan merpati pos impor dari Inggris, Belanda dan Belgia. Mereka selalu produktif menghasilkan anakan atau piyik-piyik berkualitas,” ujarnya bangga.

Anakan berkualitas yang dihasilkan indukan berkualitas dengan silsilah jelas di penangkaran Sunrise, banyak diburu para penghobi merpati pos. Dalam sebulan, paling tidak 20 anakan terjual ke wilayah DIY, luar daerah, bahkan luar Jawa seperti Bengkulu, Papua dan Kalimantan.

Dengan kualitas baik, anakan merpati dari Sunrise dibanderol Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per ekor. Dia memaparkan, merpati yang bagus bisa dilihat dari silsilahnya, sedangkan dari ciri anatomi fisik ada sekitar 20 kriteria. Merpati yang juara sudah tentu kualitasnya bagus. Merpati dari hasil penangkaran Bagus bahkan ada yang berhasil meraih juara dua dalam kejuaraan tingkat internasional di Thailand pada Januari lalu.

“Di sini terjamin silsilahnya. Setiap penangkar mengeluarkan silsilah, kalau yang dari luar negeri ada suratnya, sampai level ke lima indukannya. Ada lima orang yang menangani di sini, jadi pencatatannya cukup rapi,” urainya.

Bagus pun berujar, merpati juga ada yang semacam keris sehingga harganya tidak terhingga. Merpati bernama Satria miliknya misalnya, sudah menyabet gelar juara nasional dalam perlombaan di Bandung. Kini, Satria menjadi salah satu indukan pejantan andalannya, dengan harga luar biasa.

“Sudah ada yang berapa kali nawar, sampai saya kasih angka Rp 300 juta. Kalau anakannya saya jual Rp 5 juta per ekor,” imbuh alumni teknik mesin UGM ini.

Berkat ketekunannya, hobi yang dijalani Bagus mampu berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Ia kemudian membentuk Koperasi Merpati Pos Indonesia (KMPI) dan berencana kembali mengikuti lomba-lomba berskala internasional di luar negeri bersama klub-klub merpati pos di Indonesia.

Bagus pun berpendapat, penangkaran merpati ini bukan lagi sekedar hobi, tetapi mempunyai visi dan misi sebagai ajang silaturahmi sesama pecinta dan penangkar merpati di seluruh Indonesia. Mereka bahkan terus berupaya mengenalkan ke dunia internasional bahwa Indonesia memiliki merpati pos dengan pangsa pasar yang cukup tinggi.

Salah seorang penghobi merpati yang ditemui di Penangkaran Sunrise, Widodo, mengaku tertarik membeli anakan merpati pos dari penangkaran milik Bagus karena kualitasnya baik. Dengan anakan dari penangkaran Sunrise, ia berencana memelihara merpati dari awal. “Mau beli beberapa piyik yang harganya berkisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Nanti kalau ada lomba bisa ikut, siapa tahu menang dan jadi kebanggaan,” katanya. (Unt)

Read previous post:
JALIN KEDEKATAN EMOSIONAL – Prajurit Satgas TMMD-Warga Gelar Yasinan

KOMANDAN Satuan Tugas (Dansatgas) TMMD reguler ke-101 Kodim 0734/Yogyakarta Letkol Inf Rudi Firmansyah, Kamis (22/3) menggelar acara doa bersama dengan

Close