Kulonprogo Belajar Mengelola Bandara dari Majalengka

Penyerahan cinderamata dalam kunjungan Pemkab Kulonprogo ke Majalengka. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Penyerahan cinderamata dalam kunjungan Pemkab Kulonprogo ke Majalengka. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

MAJALENGKA (MERAPI) – Sebagai daerah yang disasar pembangunan nasional berupa bandara internasional, Kulonprogo dan Majalengka memiliki persoalan yang sama-sama pelik di awal pelaksanaan megaproyek tersebut. Saat ini, Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo baru dimulai pembangunannya, sementara Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka sudah siap digunakan pada pertengahan tahun ini.

Salah satu persoalan yang mewarnai rencana awal pembangunan bandara di Kulonprogo dan Majalengka yakni penolakan sebagian warga. Mereka bersikeras tidak mau melepaskan tanah dan rumah untuk kepentingan pembangunan bandara, dengan alasan mempertahankan warisan leluhur.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kulonprogo, Rudiyatno menyampaikan, pembangunan Bandara NYIA di Kulonprogo masih mendapat penolakan dari sejumlah warga. Mereka bahkan masih bertahan di lahan bandara meski pembangunan telah dimulai.

“Kami ingin menggali informasi, bagaimana Pemkab Majalengka mengatasi persoalan tersebut sehingga sukses merelokasi warga tanpa ada kericuhan,” katanya saat memimpin kunjungan Pemkab Kulonprogo bersama wartawan ke Majalengka, 1 Maret lalu.

Menyikapi hal ini, Pemkab Majalengka menilai perlunya pendekatan persuasif kepada warga penolak. Pendekatan bahkan harus dilakukan secara intens, untuk menyampaikan pengertian kepada mereka. “Di sini, warga satu desa sempat menolak pembangunan bandara. Padahal mereka ada pada posisi calon runway. Kami jelaskan tanpa ada yang ditutupi, dengan bantuan Ombudsman dan Komnas HAM, hingga akhirnya mereka bersedia pindah secara baik-baik,” kata Asisten Pemerintahan Pemkab Majalengka, Aeron Randri saat menerima kunjungan.

Bahkan menurut Aeron Randri, pendekatan dan sosialisasi kepada warga terdampak sudah dilakukan pihaknya sejak muncul rencana pembangunan BIJB Kertajati, beberapa tahun sebelum pembangunan. Warga diberikan pengertian tentang pentingnya pembangunan bandara tersebut, berikut dampak positif yang mungkin ditimbulkan. “Semuanya prosedural, tetapi memang dibutuhkan pendekatan yang manusiawi dengan meramu secara tepat berbagai aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Sebagai dampak positif pembangunan bandara, kemunculan lapangan kerja dipastikan terjadi. Penciptaan lapangan kerja inilah yang bisa dijadikan daya tarik dalam pendekatan kepada warga terdampak. “Di kami, ada 154.000 peluang kerja yang tercipta. Sebagian besar diisi warga setempat, jika memang membutuhkan yang berpengalaman atau memiliki keahlian khusus, barulah kita ambil daei luar daerah,” tegasnya.

Jika pembangunan Bandara NYIA di Kulonprogo dihandle PT Angkasa Pura I, pembangunan BIJB Kertajati justru membentuk PT BIJB sebagai kendaraan pemerintah setempat. Direktur Keuangan dan Umum PT BIJB, Muh Singgih menegaskan, hampir seluruh tenaga kerja dalam pembangunan dan operasional BIJB Kertajati diambil dari Majalengka, terutama desa terdampak. Pembangunan dibagi dalam beberapa tahap, mulai dari 2010 hingga saat ini, dengan kucuran dana dari Pemprov Jabar, PT Jasa Sarana, mitra strategis dan pinjaman bank.

“Runway kami bisa didarati pesawat terbesar di dunia. Pekerjaan utama berupa infrastruktur utama seperti jalan, gorong-gorong dan terminal utama sudah selesai 86 persen, sementara bangunan pendukungnya 93 persen. Di sini ada pengembangan kawasan bisnis dan industri, Kertajati Aerocity, sebagai yang pertama di Indonesia,” urainya. <B>(Unt)<P>

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Perbaikan Irigasi Kalibawang Bikin Petani Ketar-ketir

SENTOLO (MERAPI) - Pemkab Kulonprogo melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) setempat bersiap melakukan perbaikan irigasi Kalibawang, pertengahan Maret ini. Meski

Close