Desa Rawan Pangan Dikurangi

MERAPI-ISTIMEWA Ilustrasi: Daerah rawan pangan.
MERAPI-ISTIMEWA
Ilustrasi: Daerah rawan pangan.

WONOSARI (MERAPI) – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berupaya mengurangi desa rawan pangan, mengingat masih terdapat tiga desa yang masuk dalam katagori rawan pangan. Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Fajar Ridwan, Rabu (28/2), mengatakan ketiga desa rawan pangan tersebut adalah Desa Watugajah dan Tegalrejo di Kecamatan Gedangsari serta Girikarto di Kecamatan Panggang. “Satu desa lainnya berstatus waspada, yaitu Desa Sumberejo di Kecamatan Semin,” katanya.

Pada 2017 terdapat tujuh desa rawan pangan, sedang saat ini tinggal tiga desa yang masuk dalam kategori rawan pangan. Karena itu, upaya pemkab dalam rangka menurunkan angka rawan pangan cukup berhasil. Fajar pun mengklaim keberhasilan menurunkan angka rawan pangan hingga lebih dari 100 persen.

Walaupun masih ada tiga desa yang masuk dalam kategori rawan pangan, namun pihaknya telah menargetkan nol desa rawan pangan pada tahun ini. “Kami bekerja keras untuk terus melakukan upaya pengurangan desa rawan pangan di Gunungkidul hingga serendah mungkin,” katanya dilansir Antara.

Menurut Fajar, guna mewujudkan hal ini bukan merupkan tanggung jawab Dinas Pertanian dan Pangan saja, melainkan juga membutuhkan kerjasama lintas OPD. “Kalau dari sisi pertanian adalah ketersediaan pangan (produksi) dan juga dalam penganekaragaman konsumsi pangan. Ini yang kita dorong,” imbuhnya.

Adapun dalam penentuan sebuah daerah masuk dalam kategori rawan pangan disebutkan Fajar, adalah menggunakan analisis sistem kewaspadaan pangan dan gizi. Pihaknya dalam hal ini melihat tiga indikator, diantaranya adalah ketersediaan pangan, pemanfaatan atau konsumsi dan yang terakhir adalah kesehatan serta akses atau tingkat kemiskinan. “Kalau yang di Kecamatan Gedangsari itu karena prosentase KK miskin masih tinggi. Sedangkan untuk yang di Panggang itu karena faktor konsumsi dan kesehatan,” terangnya.

Dia mengatakan untuk menekan kerawanan pangan di wilayah terutama untuk desa-desa yang masuk dalam kategori rawan pangan yaitu melalui progran pusat upasa khusus padi jagung kedelai bawang merah cabai (Upsus Pajale Babe) dan program sapi induk wajib bunting (Siwab). Ia berharap agar masyarakat nantinya bisa menerapkan kedua program ini dengan baik.
Dengan penerapan program ini oleh masyarakat nantinya akan berdampak melimpahnya ketersediaan pangan. Sedangkan upaya khusus lainnya yang saat ini tengah juga digenjot adalah program percontohan desa dalam pengentasan kemiskinan di desa-desa rawan pangan.

“Dengan cara memfokuskan program dan kegiatan di desa rawan pangan berupa pemberdayaan wanita dengan pemanfaatan pekarangan, lumbung pangan serta meningkatkan ketrampilan,” tutupnya. (*)

Read previous post:
PERINGATAN SERANGAN OEMOEM 1 MARET – Monjali Dihiasi 1.500 Bambu Runcing

NGAGLIK(MERAPI) - Pengibaran bendera raksasa di kerucut Monumen Jogja Kembali (Monjali) serta pemancangan 1.500 bambu runcing di sekelilingnya, mewarnai peringatan

Close