Buya Syafii Maarif Luncurkan Buku

MERAPI-FRANZ BUDISUKARNANTO Buya Syafii Maarif menggunting pita menandai peluncuran buku, disaksikan para tokoh.
MERAPI-FRANZ BUDISUKARNANTO
Buya Syafii Maarif menggunting pita menandai peluncuran buku, disaksikan para tokoh.

DEPOK (MERAPI) – Prof Dr Ahmad Syafii Maarif yang menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2000-2005 ternyata pernah menjadi wartawan. Pengalaman Buya selama menjadi jurnalis itu dituangkan dalam buku ‘Ahmad Syafii Maarif Sebagai Seorang Jurnalis’, yang diluncurkan dalam Gala Dinner di Grand Quality Hotel Yogyakarta, Sabtu (24/2) malam.

Buya menjadi jurnalis di majalah ‘Suara Muhammadiyah’, merintis karier sebagai korektor pada 1965-1972, lalu mejadi staf redaksi hingga 1982, dan puncaknya menjadi pemimpin redaksi (1988-1990). Peluncuran bukunya dihadiri Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Menteri BUMN Rini Soemarno, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Dirut BNI Achmad Baiquni, Bupati Sleman Sri Purnomo, Dirut PT BP KR dr Gun Nugroho Samawi, serta para tokoh lain.

“Buku ini sangat penting untuk mngenal dan meneladani sosok Buya secara utuh. Sebab, pengalamannya sebagai jurnalis amat berpengaruh dalam membentuk Buya Syafii yang kita kenal sekarang, yaitu seorang pemikir, penulis prolifik, sejarawan dan negarawan,” kata Pemimpin Perusahaan ‘Suara Muhammadiyah’ Deni Asyari.

Buya menuturkan, pekerjaan sebagai jurnalis membuka cakrawala berpikir dan membentuk karakter dirinya hingga seperti sekarang. Buya ketika itu banyak mewawancarai tokoh nasional seperti Roeslan Abdulgani dan AH Nasution, serta belajar dari para politisi di era 1960-an.

“Dari para tokoh nasional itu saya belajar untuk berani dan jujur pada prinsip. Di antara para tokoh bangsa itu sering timbul gesekan karena perbedaan ideologi, namun dalam hubungan pribadi mereka tetap dekat,” kata Buya.

Bambang Soesatyo mengatakan dirinya mengenal Buya sebagai negarawan yang luar biasa, kejujuran dan ketulusannya tercermin dari setiap kata dan lakunya. Setelah membaca buku tentang Buya sebagai jurnalis, Bambang menjadi maklum mengapa setiap langkah Buya selalu tanpa beban dan keraguan.

“Buya selalu memberikan nasihat untuk jujur pada diri sendiri, sehingga nurani dan akal sehat tidak akan pernah mengkhianati kita. Kejujuran, keihklasan tanpa pamrih itu tersermin dalam buku ini dna membuka pintu kesadaran baru bagi saya,” tutur Bamsoet, sapaan Bambang. (Bro)

Read previous post:
ilustrasi
DI GUNUNGKIDUL SEJAK JANUARI 2018 TELAN 7 KORBAN-Sakit Tak Sembuh, Nenek Gantung Diri

WONOSARI (MERAPI)- Nenek Saminah (65) warga Desa Karangduwet, Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar tidur

Close