DESA BATURETNO – Bangun Telaga Desa Sarana Konservasi Air Tanah

 MERAPI-AWAN TURSENO Dari kiri: Sumarmanta, Sarjoko dan Muhammad Lu’ai, berada di lokasi rencana pembangunan telaga desa.
MERAPI-AWAN TURSENO
Dari kiri: Sumarmanta, Sarjoko dan Muhammad Lu’ai, berada di lokasi rencana pembangunan telaga desa.

BANGUNTAPAN (MERAPI) – Langkah Desa Baturetno, Banguntapan peduli terhadap lingkungan perlu diapresiasi. Pembuatan telaga desa sebagai kawasan konservasi menjadi keputusan pemerintah desa tersebut untuk menampung air hujan. Sehingga diharapkan permukaan air tanah menjadi lebih dangkal.

Memanfaatkan tanah kas desa seluas 1,8 hektar di Pedukuhan Wiyoro, pembangunan tersebut direncanakan akan dimulai pertengahan tahun 2018. Memanfaatkan sumber dana bantuan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY sebesar Rp 2 miliar, di lokasi tersebut akan dilengkapi berbagai sarana penunjang.

Lurah Desa Baturetno Sarjoko mengungkapkan, telaga desa dibangun di atas tanah kas yang selama ini kurang produktif. Agar lebih bermanfaat bagi masyarakat, lokasi tersebut digunakan untuk menampung air hujan. Selain mengurangi bencana banjir, permukaan air tanah menjadi lebih dangkal. Sehingga warga yang menggunakan air bersih dari sumur, permukaan air tidak dalam. Begitu pula saat musim kemarau tidak akan kesulitan dalam membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Selama ini, tanah tersebut kurang produktif. Terutama ketika musim penghujan, lokasi tersebut tergenang air. Agar bermanfaat bagi masyarakat, kita bangun telaga desa sekaligus berbagai fasilitas penunjang sebagai sarana rekreasi,” katanya belum lama ini.

Dijelaskan, lahan seluas 1,8 hektar tersebut, 1,6 hektar digunakan untuk telaga, sedang sisanya dimanfaatkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) karena selama ini desa tersebut belum memiliki, Fasilitas penunjang yaitu sarana olahraga terutama jogging ruang pertemuan, panggung hiburan serta kios kuliner. Ke depan, lokasi tersebut dapat menjadi wahana rekreasi dan daya tarik pengunjung yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

“Di Baturetno, potensi kuliner sangat banyak. Kita harus membantu mereka dalam memasarkan. Seperti tempe dan keripik tempe merek Super Dangsul hasil olahan warga Wiyoro, sudah terkenal di DIY. Sagon maupun makanan lain produksi warga juga harus diangkat dan dipromosikan,” imbuhnya.

 

MERAPI-ISTIMEWA Jajaran Pemerintah Desa Baturetno (belakang).
MERAPI-ISTIMEWA
Jajaran Pemerintah Desa Baturetno (belakang).

Didampingi Sekretaris Desa Muhammad Lu’ai Arminanto ST dan Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Sumarmanta, Sarjoko menyampaikan, karena dana dari BLH DIY hanya digunakan untuk pembangunan telaga desa, fasilitas tambahan menjadi tanggungjawab Desa Baturetno. Untuk itu, tahun 2019 sarana penunjang tersebut akan dibangun menggunakan Dana Desa (DD).

Muhammad Lu’ai menambahkan, kawasan telaga ke depan diharapkan menjadi salah satu ikon bagi Desa Baturetno. Pembangunan tersebut dapat berdampak di berbagai sektor, tak hanya lingkungan dan ekonomi, panggung hiburan digunakan untuk menampilkan berbagai kesenian tradisional seminggu sekali seperti jathilan, wayang, keroncong, hadroh, macapat maupun budaya lain. Lapangan Wiyoro hanya dikembangkan khusus untuk kegiatan olahraga.

“Setelah pembangunan resmi diserahkan ke desa, berbagai kegiatan seperti penambahan berbagai sarana penunjang akan kami serahkan ke masyarakat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar dikelola lebih maksimal,” timpalnya.

BUMDes, lanjut Sarjoko, ke depan juga akan dikembangkan dengan mendirikan kios sembako. Selain melayani masyarakat umum, keberadaannya juga untuk warga yang menerima bantuan pemerintah melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Dalam program ini warga penerima program Rakyat Sejahtera (Rastra) pada tahun 2018 sudah berubah menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Mereka dapat membeli bantuan pangan hanya dengan menyerahkan kartu ke warung. Kita akan memfasilitasi program tersebut melalui BUMDes. Sehingga pendapatan desa juga dapat meningkat,” terangnya.

Tahun 2018, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Desa Baturetno sebesar Rp 4.827.163.764. Nilai tersebut sebagian besar berasal dari Alokasi Dana Desa (ADD) 1.142.078.000, Dana Desa (DD) Rp 906.693.000, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Rp 309.535.160, Bantuan Keuangan Kabupaten (BKK) Rp 438.015.000, PADes Rp 434.605.838 serta dari sumber lain.

Khusus Dana Desa, sebagian besar terserap untuk pembangunan infrastruktur seperti akses jalan kampung, gorong-gorong, talud dan sarana fisik untuk menunjang sektor kesehatan dan pendidikan. Hanya saja, anggaran dari DD sangat terbatas, sehingga pembangunan harus secara bertahap.

“Kita gunakan untuk akses jalan kampung dan perbaikan jalan desa. Kalau jalan yang rusak milik kabupaten, kewenangan berada di kabupaten. Ini yang kadang-kadang masyarakat tidak memahami,” tegasnya.

Begitu pula potensi ekonomi, Desa Baturetno merupakan sentra penghasil ikan air tawar. Masyarakat yang budidaya ikan, luasnya melebihi dibading pertanian. Untuk itu, produk perikanan terus ditingkatkan agar kesejahteraan masyarakat turut meningkat.

Begitu pula bidang olahraga, mantan wasit sepakbola ini tidak akan berharap pemasukan dari Sekolah Sepakbola (SSB) yang saat ini terus berkembang. Sebagai pendiri sekaligus penanggungjawab, kemajuan SSB tersebut hanya menjadi sarana untuk mencari bibit unggul pemain sepakbola. Terbukti, memanfaatkan lapangan Wiyoro, kini telah terbentuk beberapa klub yang mampu menjadi juara dalam setiap pertandingan. Bahkan mampu mencetak atlet tingkat nasional.

“Dunia sepakbola sudah saya geluti sejak lama. Berbagai pengalaman menjadikan SSB ini untuk ajang mencari bakat yang terpendam bagi anak-anak di Baturetno dan sekitarnya,” tambahnya. (Awn)

Read previous post:
Abrasi Sungai Oya Semakin Parah

IMOGIRI (MERAPI) - Alam seakan tidak sabar menunggu, garusan Sungai Oya di Dusun Wunut Desa Sriharjo Kecamatan Imogiri semakin parah.

Close