Pengangguran di Kulonprogo Menurun, Angka Kemiskinan Justru Meningkat

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menyampaikan paparan dalam konsultasi publik. (Merapi-Amin Kuntari)
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menyampaikan paparan dalam konsultasi publik. (Merapi-Amin Kuntari)

WATES (MERAPI) – Angka pengangguran di Kabupaten Kulonprogo mengalami penurunan dari 3,2 persen menjadi 1,9 persen. Namun di sisi lain angka kemiskinan di wilayah tersebut masih di atas 20 persen.

“Penurunan pengangguran di Kulonprogo tidak berbanding lurus dengan angka kemiskinan yang masih tinggi,” kata Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dalam acara Penyelenggaraan Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD Kabupaten Kulonprogo di Aula Adikarto Kompleks Pemkab, Selasa (30/1).

Menurutnya, tingginya kemiskinan disebabkan oleh tingginya pendapatan perkapita yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yakni Rp 312 ribu perkapita perbulan. Angka ini sangat tinggi dibandingkan dengan Gunungkidul sebesar Rp 270 ribu perkapita perbulan. Sehingga kemiskinan di Gunungkidul turun hingga 16 persen, dan Kulonprogo sebesar 20 persen.

Pada saat pendapatan perkapita Gunungkidul dan Kulonprogo sama-sama sebesar Rp 260 ribu sampai Rp 270 ribu perkapita perbulan, angka kemiskinannya tidak jauh.

“Kenaikan pendapatan perkapita Kulonprogo dinaikkan, karena Kulonprogo lebih konsumtif. Hal ini kesalahan kita, belum kaya tapi sudah konsumtif. Kalau batas pendapatan perkapita diturunkan, maka kemiskinan hanya 16 persen,” ujarnya.

Hasto mengatakan berdasarkan data BPS, Kulonprogo lebih konsumtif, bisa dilihat dengan banyaknya warga yang membeli mobil dan motor. Adanya pembangunan bandara menyebabkan angka konsumsi meningkat, sementara angka produksi belum naik.

“Hidup sederhana dengan tidak konsumtif, sehingga memiliki tabungan,” harapnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kulonprogo Eko Wisnu Wardhana mengatakan, angka pengangguran di wilayah ini memang menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015 angka pengangguran di Kulonprogo sebesar 3,4 persen, 2016 sebesar 2,34 persen, sementara untuk 2017 sebesar 1,99 persen. Melihat angka pengangguran tahun lalu, kata Eko, dapat diartikan bahwa dari setiap 100 orang angkatan kerja dua orang di antaranya menganggur.

“Upaya itu sudah kita lakukan sejak dua tahun yang lalu, kemudian 2017 kita melihat data anak yang akan lulus sekolah. Kita akan ketahui nantinya anak yang ingin bekerja berapa dan yang tetap melanjutkan sekolah ada berapa. Itu pendataan yang kita lakukan,” paparnya.  (Unt)

Read previous post:
Minuman Probiotik Singkirkan Eksim

BAHAN alami tanpa tambahan zat kimia mudah ditemukan dan cocok sebagai pendukung kesehatan. Bahkan banyak yang cocok untuk membantu mencegah

Close