TERDUGA PEMBUNUH SUNARYO DI MATA WARGA-Sosok Misterius yang Rutin Berobat ke RSJ

Rumah korban lokasi terjadinya pembunuhan diberi garis polisi
Rumah korban lokasi terjadinya pembunuhan diberi garis polisi

JETIS (MERAPI)- Nasib tragis menimpa Sunaryo warga Panjangjiwo, Patalan, Jetis, Bantul. Dia diduga kuat dihabisi oleh anaknya, Dn yang sudah 20 tahun dirawatnya. Putra sulungnya itu sudah menderita apilepsi sejak bayi dan harus menjalani perawatan berjkala di RSJ Ghrasia pakem.
Warga dan keluarga pun menduga kematian korban akibat penganiayaan yang dilakukan oleh anaknya sendiri. Padahal, demi merawat putranya ini, Sunaryo terpaksa berpisah dengan sang istri yang masih bekerja di Lampung. Mirisnya, Sunaryo sebelumnya sempat mengatakan ikhlas jika harus mati di tangan putranya yang setiap hari harus mengkonsumsi obat agar penyakitnya tidak kambuh.
Kakak ipar Sunaryo, Sukinem yang ditemui di sekitar lokasi kejadian mengatakan, dia mengaku jarang berkomunikasi dengan Sunaryo maupun Dn meski rumah mereka bersebelahan. Ibu 55 tahun itu hanya sesekali bertemu saat pria yang bekerja sebagai tukang tambal ban motor itu keluar rumah membeli makanan untuk anaknya. Saat itu pun Sunaryo tidak banyak bercerita tentang kesehariannya. “Rumahnya sering tertutup, tidak pernah tahu dia (Sunaryo) bagaimana,” sebutnya saat ditemui Selasa (30/1) siang.
Sukinem menjelaskan, Sunaryo sebelumnya tinggal bersama istri dan kedua putranya di Lampung. Pada tahun 2012 Sunaryo membangun rumah yang berada di Jalan Parangtritis tersebut dan pindah bersama kedua putranya. Sementara Halimah, sang istri masih tinggal di Lampung sembari menunggu pensiun. Halimah yang bekerja di sebuah pabrik gula di Lampung itu menurutnya beberapa kali ke Bantul untuk menjenguk Sunaryo dan kedua putranya. “Terakhir pulang sekitar 2 bulan lalu,” ujar Sukinem.

Sukinem menceritakan, setiap hari Sunaryo tinggal di rumah tersebut bersama Dn. Sedangkan putra keduanya, Dwi tinggal bersama neneknya di daerah Imogiri. Sesekali Sunaryo mengajak Dn pergi ke rumah neneknya di Imogiri, terutama saat istrinya pulang ke Bantul. Sukinem menyebut istri Sunaryo sudah menerima kabar kematian suaminya tersebut dan akan segera kembali ke Bantul. Menurutnya, Dn selama ini selalu menurut kepada sang ibu dibandingkan dengan orang lain termasuk ayahnya sendiri. “Hari ini (kemarin) langsung pulang, sudah dikabari Pak Dukuh tadi,” ungkapnya.
Keponakan korban, Nur Santi menambahkan, Dn kerap kali harus menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Nur mengaku tidak tahu persis penyakit yang diderita Dn, namun selama ini dikabarkan menderita sakit epilepsi. Penyakit yang diderita sejak masih bayi itu kemudian membuat kejiwaan Dn tidak stabil sehingga harus mengkonsumsi obat-obatan setiap hari. Setiap kali obat habis, Dn akan dibawa ke RSJ Ghrasia untuk diperiksa dan mendapatkan obat. “Sopir saya dulu pernah dimintai tolong ngantar kontrol ke Ghrasia, setiap obat habis pasti kesana,” sebutnya.
Nur mengatakan saat penyakit Dn tidak kambuh, dia akan bersikap normal. Bahkan bisa ngobrol layaknya orang biasa yang tidak mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan saat kambuh pun, dia tidak pernah melihat Dn mengamuk. Selama ini saat Dn sedang kambuh hanya berteriak-teriak. Sehingga dia kaget ketika dikabari Dn mengamuk dan menyerang ayahnya.
Sementara, tetangga korban, Antok menjelaskan pada Senin dini hari Dn sempat mengamuk di rumah mertuanya. Saat itu sekitar pukul 03.00 pagi, Dn tiba-tiba menggedor pintu rumah mertuanya. Sunaryo yang saat itu menjemput anaknya malah sempat terkena bogem mentah dari Dn yang mengamuk. Saat ditanya, Sunaryo mengaku anaknya marah lantaran tidak terima saat diminta untuk mematikan tv. “Dia (Sunaryo) dipukuli di depan rumah mertua saya, lalu ditarik dibawa pulang sama ayahnya, setelah itu saya tidak tahu,” ungkapnya.

Antok mengatakan, pada Senin siang sempat bertemu dengan korban dan melihat sejumlah luka lebam di tubuhnya. Namun dia menduga luka tersebut akibat pukulan Dn pada saat mengamuk. Setelah itu Antok mengaku tidak melihat korban hingga ditemukan tewas pada Selasa (30/1) pagi dengan kondisi mengenaskan. Antok sempat kesulitan menemukan Dn yang terlihat berjalan ke arah utara dari rumahnya setelah ayahnya ditemukan tewas. Dia menyusuri ruas jalan dan menemukan Dn di sekitar jalan Imogiri Barat, tidak jauh dari Simpang Empat Jetis. “Saya sama warga lain berpencar mencari Dn, karena dia jalan ke arah utara,” ungkapnya.
Antok membenarkan Dn jarang bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Namun begitu, warga memaklumi mengingat kondisi kejiwaan pemuda yang sama sekali belum pernah mengenyam bangku sekolah tersebut. Antok menceritakan beberapa kali Sunaryo sempat terlihat putus asa merawat anaknya. ”Saat beli bubur, dia (Sunaryo) pernah ngomong kalau iklhas mati di tangan anaknya,” ungkapnya. (C1/Roy)

Read previous post:
Korban Sunaryo dibawa ambulans menuju RS Bhayangkara
Warga Bantul Dibunuh Usai Cekcok dengan Anaknya

JETIS (MERAPI)-Warga Dusun Panjangjiwo, Patalan, Jetis, Bantul geger setelah seorang warga setempat, Sunaryo (65) ditemukan tewas di rumahnya dengan luka

Close