Pedagang Tumpah Demangan Bersedia Ditertibkan

Sejumlah pedagang membuka lapak di sekitar Pasar Demangan. Kondisi ini dikeluhkan pedagang resmi yang berjualan di dalam pasar
Sejumlah pedagang membuka lapak di sekitar Pasar Demangan. Kondisi ini dikeluhkan pedagang resmi yang berjualan di dalam pasar

GONDOKUSUMAN (MERAPI) – Pedagang tumpah di sekitar Pasar Demangan mengakui selama ini tidak membayar retribusi ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta. Pedagang bersedia ditata asal ada tempat yang memadai di dalam pasar.
“Sejak awal berjualan di tahun 1986 saya di luar karena di dalam sudah tidak ada tempat. Kalau mau ditata di dalam, saya mau saja, asalkan dikasih tempat,” kata Kiryanto, seorang pedagang sayur di depan toko yang bersebelahan Pasar Demangan, Rabu(24/1).

Dia mengatakan selama ini tidak memilki kartu bukti pedagang dan tak membayar retribusi ke Disperindag Kota Yogyakarta. Namun setiap bulan dia mengeluarkan biaya untuk kebersihan secara sukarela sekitar Rp 100.000 kepada orang yang membersihkan lokasi tempatnya berjualan. Setiap hari dia berjualan mulai pukul 05.00-10.00 WIB.

Pedagang tumpah lainnya, Kembar menuturkan awalnya memiliki lapak di dalam Pasar Demangan. Tapi dia memilih berjualan di luar pasar karena dinilai lebih strategis dan laku dibandingkan berjualan di dalam pasar. Menurutnya sudah tidak memungkinkan menata pedagang di luar ke dalam Pasar Demangan lantaran telah penuh.

Dia juga mengetahui adanya sebagian pedagang di dalam pasar yang mengeluhkan penjualannya turun karena adanya aktivitas perdagangan di luar. “Di dalam sudah penuh. Jika mau ditata <I>monggo<P> kalau memang sudah aturannya. Tapi yang namanya rezeki itu sudah ada yang atur. Jika diperluas seperti di tingkat ke atas khawatirnya pedagang di atas tak laku,” papar Kembar yang berjualan sejak tahun 2000.

Selama berjualan di luar di sekitar Pasar Demangan, dia tidak membayar retribusi ke Disperindag. Tapi dia mengaku membayar retribusi ke sekitar Rp 6.000 setiap hari kepada pemilik toko karena tempatnya berada di sekitar toko.

Sedangkan seorang pedagang di dalam Pasar Demangan, Poniyem menyampaikan, kondisi di dalam Pasar Demangan kini tak seramai 10 tahun lalu. Selasar di dalam pasar yang dulu berdesakan pembeli, sekarang sepi. “Banyak pembeli yang memilih membeli barang di luar. Kalau barang di luar sudah habis, baru membeli di dalam pasar,” ujarnya.

Secara terpisah Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan sudah meminta Disperindag untuk menertibkan pedagang di luar dan pembongkaran barang. Dia menilai dimungkinkan ada pedagang dalam pindah keluar atau pedagang baru. “Pedagang yang tertib aturan yang harus dilindungi. Pasar Demangan ini masuk prioritas yang akan diperbaiki, sudah ada rancang bangunnya, tapi perlu diperbarui. Kalau ada los atau kios di dalam pasar yang lama tak digunakan, kartu bukti pedagang bisa dicabut dan dialihkan untuk pedagang lain,” tutur Heroe. (Tri)

Read previous post:
Petugas Satpol PP Pati melakukan razia di kafe karaoke
OPERASI TEMPAT KARAOKE DAN HOTEL – Berpakaian Minim, Kena Razia

PATI (MERAPI) - Tim gabungan yang terdiri Satpol PP Pati dan TNI/Polri akan terus mengadakan operasi tempat karaoke, serta hotel, baik

Close