SD SEROPAN BUTUH GEDUNG BARU – Pemkab Gelontorkan Rp 3,5 M Rehab Sekolah Korban Banjir

Siswa SD Seropan belajar di luar kelas tidak jauh dari shelter sementara yang masih dalam proses pembangunan
Siswa SD Seropan belajar di luar kelas tidak jauh dari shelter sementara yang masih dalam proses pembangunan

DLINGO (MERAPI)- Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul mengklaim menyiapkan dana hingga Rp 3,5 miliar untuk sekolah korban banjir dan longsor akhir tahun lalu. Anggaran tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bantul tahun 2018 ini. Sementara ini, menggunakan dana corporate social responsibility (CSR), Disdikpora telah menyalurkan bantuan berupa komputer kepada dua SMP di Imogiri.

Ditemui usai serah terima bantuan dana pembangunan di SD 2 Dodogan, Dlingo, Kepala Disdikpora Bantul Didik Warsito menyebut beberapa sekolah yang menjadi korban paling parah, yakni SD Seropan, SMP 2 dan 3 Imogiri, SMP 2 Pajangan, serta SMP 1 Kretek. Sementara bantuan komputer sudah diserahkan kepada SMP 2 dan 3 Imogiri masing-masing 30 unit. Meskipun di dua sekolah tersebut jumlah komputer yang terendam banjir mencapai 120 unit, namun begitu diharapkan komputer bantuan pemerintah itu cukup untuk kebutuhan belajar mengajar setiap hari. “Total sampai sekarang ada 61 komputer, 60 unit di Imogiri dan ditambah satu komputer tambahan untuk Jatimulyo, Dlingo,” sebutnya, Rabu (17/1) siang.

Lebih lanjut Didik menjelaskan, selain menutup kebutuhan komputer Pemkab juga menyalurkan buku-buku ke dua sekolah tersebut. Menurutnya buku dan komputer menjadi barang yang tidak dapat lagi diselamatkan setelah diterjang banjir. Namun dari total anggaran sebesar Rp 3,5 miliar, kebutuhan terbesar dialokasikan untuk pembangunan gedung sekolah baru bagi SD Seropan yang mencapai Rp 2,55 miliar. Besarnya anggaran ini mengingat lokasi sekolah sudah tidak mungkin kembali ditempati. “Harus dibangun baru, sekarang masih darurat menggunakan tenda-tenda,” sebutnya.

Gedung SD Seropan baru akan menempati tanah kas Desa Muntuk yang berada di Dusun Serpan 3 yang berjarak sekitar 1 km dari sekolah lama. Didik memastikan pihak pemerintah desa setempat sudah menyiapkan lahan yang lebih aman dan tinggal melakukan pembangunan. Pembangunan gedung baru ini meski belum bisa selesai seluruhnya, namun Didik mentargetkan paling lambat bulan Mei 2018 sudah berdiri satu ruang kelas. Dengan harapan siswa kelas 6 bisa melaksanakan ujian di gedung baru yang lebih representatif. “Untuk SD Seropan sebetulnya kemarin sudah terlambat, tapi karena ada rasionalisasi anggaran Alhamdulillah masih bisa dimasukkan dalam APBD 2018,” sebutnya.

Ditemui terpisah, Kepala SD Seropan, Wagiran membenarkan rencana pembangunan gedung baru tersebut. Pihaknya telah menyiapkan sejumlah dokumen terkait pembangunan gedung sekolah baru. Saat ini ruang kelas dan kantor masih menggunakan tenda yang didirikan oleh BPBD Bantul. Dia berharap bangunan non permanen yang difungsikan sebagai shelter dan kelas sementara kunjung selesai. Pasalnya dengan kondisi saat ini, proses belajar mengajar tidak akan optimal. “Kemarin dari BPBD bilang kalau maksimal di tenda hanya 20 hari dari tanggal 2 Januari, jadi sekitar tanggah 22 (Januari) sudah bisa pindah di shelter,” ujarnya.

Namun Wagiran mengaku masih kekurangan jumlah shelter yang hanya 3 ruangan. Padahal jumlah siswanya mencapai 122 orang serta ditambah 15 guru dan tenaga kependidikan. Sehingga beberapa hari lalu pihaknya kembali mengajukan penambahan jumlah shelter kepada BPBD Bantul melalui Disdikpora Bantul. Selain mengajukan penambahan shelter Wagiran juga mengusulkan penambahan toilet. Di lokasi sementara yang ditempati hanya tersedia satu unit toilet, sehingga siswanya sering menumpang di toilet warga sekitar. “Kami ajukan 5 unit toilet,” pungkasnya.

SD Seropan menjadi satu sekolah yang harus berpindah pasca banjir dan longsor akhir November lalu. Bangunan SD Seropan mengalami keretakan dan hampir roboh karena adanya retakan tanah di kompleks sekolah. Kini pembangunan tiga ruang shelter hampir selesai, meski begitu minimnya shelter membuat sejumlah siswa harus belajar di luar ruang kelas sembari menunggu shelter siap digunakan. (C-1)

Read previous post:
Perahu di Pengklik yang jarang beroperasi pasca pendangkalan laguna
WISATA PESISIR BANTUL – Pengklik dan Samas Masih Jadi ‘PR’

SANDEN (MERAPI)- Banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah, untuk menghidupkan kembali sektor wisata pesisir selatan Bantul.

Close