TAKUT KENA LONGSORAN – Lansia Tunanetra Tinggal dengan Kambing

Kadiyo dan istrinya yang tinggal satu atap bersama kambing ternak
Kadiyo dan istrinya yang tinggal satu atap bersama kambing ternak

PUNDONG (MERAPI) – Kondisi Kadiyo, warga Dusun Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong cukup memprihatinkan. Akibat  terancam longsor, kakek tunanetra ini tinggal satu ruangan bersama tiga ekor kambingnya. Kandang kambing dan rumahnya dikhawatirkan roboh lantaran berada di atas tebing setinggi 10 meter yang sebagian telah longsor pada akhir November lalu. Retakan tanah nampak pada bekas longsoran, sehingga kakek ini was-was longsoran meluas.

Ditemui Senin (11/12), Kadiyo mengatakan terpaksa membawa masuk kambingnya karena khawatir kandang yang berada di atas tebing tersebut terbawa longsor. Bukit persis di belakang rumahnya ambrol, Selasa (28/11) malam. Akibatnya bagian belakang rumahnya terancam roboh bila muncul longsor susulan. “Karena longsor, kandang kambing bubrah (rusak), saya kasihan terus (kambing) saya bawa masuk saja,” ungkapnya.

Kakek 80 tahun ini tinggal bersama istri, seorang anak dan seorang cucu. Karena keterbatasan tempat akhirnya istri, anak dan cucunya tinggal di rumah utama. Sementara Kadiyo tinggal di ruangan belakang bersama ternaknya. Menurutnya ketiga kambingnya ini tidak mengganggu, meskipun setiap hari dia dan istrinya harus membersihkan kotoran ternaknya itu. “Daripada kehujanan terus mati, saya tidak punya tempat lain,” imbuhnya.

Kadiyo sudah hampir 40 tahun tidak bisa berjalan normal. Sehingga dia tak bisa kemana-mana hanya bisa menghabiskan waktunya di dalam rumah. Terlebih penglihatannya yang sudah hilang, untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain harus mengandalkan orang lain. Dia pun tidak tahu persis penyakit apa yang kini dideritanya tersebut. “Dulu pernah jatuh, tapi tidak tahu saya ini sakit apa,” ungkapnya.

Istri Kadiyo, Wagiyem mengatakan dirinya dan suaminya sudah tidak berpenghasilan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka mengandalkan anaknya, Sri Rahayu yang bekerja sebagai penjaga swalayan. Wagiyem mengakui beban yang harus ditanggung Sri Rahayu cukup berat. Selain harus menghidupi kedua orangtuanya, anak tunggalnya itu juga harus mencukupi kebutuhan sang cucu, Febri yang saat ini menginjak kelas 5 SD. “Dia sudah pisah dengan suaminya, jadi harus bekerja sendiri,” tutur nenek 75 tahun tersebut.

Ketua RT 02, Dusun Poyahan, Maryono membenarkon kondisi warganya tersebut. Dia mengatakan keluarga Kadiyo termasuk keluarga miskin. Selama ini, keluarga Kadiyo sudah tercover berbagai program bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Jaminan Kesehatan. “Sudah tercover, hanya memang kondisi longsor ini membuat kami juga khawatir,” paparnya.

Saat ini material bangket tebing longsoran sudah dibersihkan relawan dan warga. Namun bangket tersebut belum diperbaiki karena keterbatasan biaya. Bantuan dari pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten juga belum datang. Maryono menambahkan, sejauh ini aparat pemerintah yang melihat langsung kediaman Kadiyo baru Kepala Desa Seloharjo. Saat itu menurutnya pemerintah desa berjanji akan mengupayakan pengajuan bantuan dari pemerintah. “Pak Lurah tadi malam (Minggu) sudah kesini, beliau mau coba mengajukan bantuan,” pungkasnya. (C1)

Read previous post:
Warga antre saat melakukan pajak kendaraan bermotor
Samsat Hadir di Desa Banyurejo

TEMPEL(MERAPI) - Samsat Desa di Banyurejo, Tempel, Sleman resmi dibuka Senin (11/12). Dengan adanya Samsat Desa ini diharapkan masyarakat bisa

Close