PENGOSONGAN LAHAN BANDARA RICUH-Polisi Tangkap Belasan Provokator

Aparat kepolisian mengamankan sejumlah orang dalam proses pengosongan lahan bandara NYIA di Temon, Kulonprogo.
Aparat kepolisian mengamankan sejumlah orang dalam proses pengosongan lahan bandara NYIA di Temon, Kulonprogo.

TEMON (MERAPI) Bentrok aparat dengan warga penolak yang dibantu sejumlah mahasiswa mewarnai proses pembersihan lahan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) hari kedua di Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (5/12). Polisi terpaksa bertindak tegas karena aksi penolakan disusupi oleh provokator. Akibat kejadian ini, sejumlah warga penolak pembangunan bandara terluka.
Aksi penolakan itu memang terlihat sudah direncanakan. Buktinya, di lokasi pembersihan lahan, ditemukan bungkusan kotoran sapi yang diduga sengaja disiapkan untuk menyerang aparat. Polisi kemudian mengamankan belasan orang yang diduga berperan sebagai provokator.

Pekerjaan yang dilakukan dalam tahapan pembersihan atau <I>land clearing<P> yakni perobohan pohon-pohon termasuk di sekitar rumah warga penolak serta perobohan rumah kosong yang tersisa. Kericuhan mulai terjadi saat alat berat <I>back hoe<P> menyentuh pepohonan dan bangunan di sekitar markas Persatuan Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) di Desa Palihan, Temon. Sumpah serapah dan makian kepada aparat mewarnai proses ini. Aksi saling dorong pun tak terhindarkan, manakala warga penolak dan mahasiswa dianggap menghalang-halangi kinerja aparat mengosongkan lahan bandara baru.
“Kalian digaji pakai uang rakyat, tapi malah seperti ini balasannya,” teriak warga penolak.
Menurut pendapat warga, rumah dan lahan tersebut merupakan milik mereka sendiri, dan tidak seharusnya digunakan untuk pembangunan bandara. Tindakan yang dilakukan PT Angkasa Pura I dianggap sebagai penindasan sehingga tidak pantas dilindungi oleh aparat. Warga juga meminta agar aparat tidak bertindak kasar.
Demi menjaga situasi agar kondusif, polisi mengamankan belasan orang yang diduga berperan sebagai provokator. Sebagian besar merupakan mahasiswa yang sudah tinggal beberapa hari di rumah warga. Mereka menggunakan pita merah di lengan sebagai tanda solidaritas kepada warga. Ironisnya, para mahasiswa ini juga menggunakan kartu pers.

“Mereka nggak bisa menunjukkan kartu mahasiswa, tapi justru pakai kartu pers. Tinggalnya di rumah warga secara ilegal karena mereka tidak melapor ke lurah setempat. Kami minta mereka kembali (keluar dari lahan bandara) karena tidak ada izin,” urai Wakapolres Kulonprogo, Kompol Dedi Surya Darma.
Kompol Dedi menduga, para mahasiswa ini sengaja datang untuk memprovokasi warga penolak agar tidak mau meninggalkan lahan bandara. Meski demikian, ditegaskan bahwa aksi tersebut tidak akan berpengaruh pada pengerjaan pengosongan lahan. Pihaknya juga tidak berencana menambah jumlah personel karena dianggap sudah cukup untuk menangani bentrokan.
“Aparat tidak ada yang anarkis, kita humanis saja. Nggak mungkin mencederai masyarakat. Kalau ada yang diamankan, itu karena memberontak dan menghalangi anggota,” ungkapnya.
Perwakilan mahasiswa yang merupakan Koordinator Pantauan Lapangan Aliansi Tolak Bandara Kulonprogo, Heronimus Heron beralasan, aksi solidaritas dilakukan sebagai bentuk bantuan kepada warga yang tidak mau menjual tanah mereka untuk pembangunan bandara. Dua posko dibangun sebagai titik kumpul di wilayah tersebut. Mereka juga sudah memberitahu Ketua RT yang menjadi bagian PWPP-KP.

“Kita di sini, dalam kapasitas membantu warga mempertahankan lahan, nggak ada acara apapun. Acara kita adalah bertahan sama warga, jadi tidak perlu pemberitahuan ke kelurahan,” urainya.
Heron menyampaikan, 11 orang rekan mereka telah ditahan lantaran terlibat bentrok. Ada pula yang menjadi korban pemukulan oleh aparat. Karena itulah, pihaknya mengecam tindakan aparat karena tidak seharusnya mengamankan investor yakni PT Angkasa Pura I, tapi justru mengayomi masyarakat.
Sementara itu, Pimpinan Proyek Pembangunan Bandara NYIA dari PT Angkasa Pura I, Sudjiastono meminta agar para mahasiswa menghentikan tindakan mereka memprovokasi warga. Dia mengatakan, tugas mahasiswa adalah belajar, bukan terlibat dalam urusan pembangunan Bandara NYIA.

“Mahasiswa itu kan bukan pemilik (rumah dan lahan), terus apa, urusannya apa? Seharusnya belajar, ngga memprovokasi warga, kasihan warga, nanti kalau ada apa-apa, mahasiswanya lari,” kata Sudji.
Pada hari pertama, Senin (4/12) lalu, pengosongan lahan bandara oleh PT Angkasa Pura I juga diprores, namun tak sampai terjadi bentrok. Rencananya, sebanyak 38 rumah di lahan pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulonprogo akan dirobohkan. Dalam waktu dekat, lahan itu akan disulap jadi <I>run way<P>, terminal dan <I>taxi way<P> bandara.(Unt)

Read previous post:
Yura Yunita Memukau di Konser Tunggalnya

SEJAK kemunculannya di tahun 2014 lalu, penyanyi kelahiran Bandung, 9 Juni 1991 ini terus menarik perhatian banyak pihak terutama penikmat

Close