PENGOSONGAN LAHAN BANDARA MEMANAS-38 Rumah Dirobohkan

Alat berat merobohkan rumah-rumah warga saat pengosongan lahan bandara
Alat berat merobohkan rumah-rumah warga saat pengosongan lahan bandara

TEMON (MERAPI) -PT Angkasa Pura I benar-benar menepati janji. Sebanyak 38 rumah di lahan pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulonprogo dirobohkan, Senin (4/12). Proses pengosongan lahan ini mendapat protes dari sejumlah pihak, termasuk warga. Situasi pun sempat memanas.
Dalam pengosongn kemarin, pemrakarsa pembangunan bandara NYIA belum menyentuh 30 rumah lain yang masih ditinggali warga terdampak.
Tindakan awal perobohan rumah sebagai bagian dari tahapan <I>land clearing<P> atau pembersihan di lahan pembangunan bandara NYIA disambut Salat Istighosah warga. Pengoperasian alat berat <I>back hoe<P> dalam merobohkan rumah dan pohon juga diwarnai unjuk rasa yang dilakukan Walhi dan HMI. Seorang petugas bahkan sempat dihalau warga sehingga tidak berhasil masuk ke area <I>land clearing<P>. Meski demikian, proses pematangan lahan tetap berjalan lancar. Aparat dari berbagai pihak diterjunkan untuk pengamanan proses ini.
“Sedikitnya, 264 personel dari Polres Kulonprogo, Kodim Kulonprogo, Brimob, Sat Radar Congot dan Satpol PP Kulonprogo dilibatkan dalam pengamanan. Cara bertindaknya, fokus pada perobohan rumah yang sudah kosong, ditinggalkan pemilik sebelumnya demi menghindari kontak fisik dengan Walhi dan HMI,” kata Kapolres Kulonprogo, AKBP Irfan Rifai, di sela pengamanan.
Menurutnya, pengamanan masih akan berlanjut hingga seluruh rumah di area terdampak bandara NYIA dirobohkan. Analisa dan evaluasi akan dilakukan, disertai <I>treatment<P> kepada warga yang masih bertahan.
Data yang dihimpun di lapangan menyebutkan, 38 rumah di Desa Palihan dan Glagah berhasil dirobohkan pada Senin (4/12). Sementara 30 lainnya yang belum disentuh lantaran masih berpenghuni, berada di Desa Palihan dan Glagah. Pimpinan Proyek Pembangunan Bandara NYIA dari PT Angkasa Pura I, Sudjiastono menegaskan, pihaknya tidak akan merobohkan rumah yang masih berpenghuni.
“Kita eksekusi yang kosong, sementara yang ada isinya, kita tunggu sampai tidak ada isinya. Kalau masih juga, kita doakan supaya segera tidak ada isinya,” kata Sudji.
Sudji tetap optimis, tahapan <I>land clearing<P> bisa selesai akhir Desember ini. Pihaknya tetap akan menunggu kepindahan warga atas kesadarannya sendiri. Sudji meyakini, warga yang bertahan lama kelamaan akan merasa tidak nyaman karena tinggal di wilayah proyek.
“Maunya (ditunggu) sampai kapan? Ya, secepatnya, kita doakan secepatnya saudara-saudara kita bisa keluar mencari tempat yang lebih baik, tidak terganggu pekerjaan bandara, peralatan dan debu. Kita tidak ada pengusiran, pemaksaan, rumah yang ada orangnya nggak kita apa-apain. Pasti nanti tidak nyaman, kiri kanan nggak ada tetangga, kiri kanan alat berat, banyak debu, akses terbatas kan sulit sendiri,” urai Sudji.
Selain rumah yang sudah kosong, perobohan juga menyasar pepohonan. Sudji memastikan, pepohonan yang dirobohkan adalah pohon yang sudah dikonsinyasi.
Meski alat berat sudah bergerak merobohkan rumah kosong tepat di sebelahnya, namun salah satu warga terdampak yang menolak pembangunan bandara NYIA, Ponirah (35), tetap bersikeras untuk bertahan. Di kediamannya RT 04 RW 02 Dusun Kepek Desa Glagah, tertempel banyak tulisan yang menerangkan bahwa rumah tersebut tidak dijual demi kepentingan pembangunan bandara. Dalam tulisan, juga ditegaskan bahwa pemilik rumah tidak menerima tamu tim appraisal serta tidak mau menerima uang dari bandara sampai kapanpun. Rumah ini bahkan sempat dijaga ratusan mahasiswa saat alat berat beroperasi di sekitarnya.
“Saya kerja keras, bangun rumah ini dari nol per kamar, apapun yang terjadi akan saya pertahankan. Ibarat menyeberang, saya sudah terlanjur basah, jadi tetap dilanjutkan,” kata Ponirah.
Ponirah mengaku masih tidur di rmah tersebut bersama suaminya, Guntoro (40). Sementara anak-anaknya yang masih sekolah, ia titipkan ke rumah kakaknya di wilayah Desa Glagah agar bisa belajar dengan tenang. Hingga kini, Ponirah mengaku belum menerima Surat Peringatan dari PT Angkasa Pura I perihal pengosongan lahan, serta tidak pernah mengikuti tahapan konsinyasi. Meski menjalani kehidupan tanpa ada listrik dan fasilitas umum di sekitarnya, Ponirah mengaku tidak kesulitan.
“Yang namanya berjuang, nggak mikirin fasilitas, nggak mikirin apa-apa,” tegasnya.
Ditanya apakah sudah bertemu dengan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, Ponirah menyatakan belum. Ia bahkan meminta agar orang nomor satu di Kulonprogo tersebut turun ke bawah menemui rakyatnya.
“Suruh turun aja ke sini, temui warga, jangan dari dulu cuma janji-janji mau turun,” ucapnya. (Unt)

Read previous post:
Rumah Dibobol, Mobil Digondol Maling

PANJATAN (MERAPI) - Rumah keluarga Moch Sudarohman (33) di Desa Garongan, Panjatan, Kulonprogo, dibobol pencuri pada Minggu (3/12) pagi. Akibat

Close