Sawah Terendam, Petani Gagal Panen

Petani berada di area persawahan dengan tanaman melon yang terendam banjir
Petani berada di area persawahan dengan tanaman melon yang terendam banjir

GALUR (MERAPI) – Banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kulonprogo tidak hanya melanda akses jalan dan pemukiman warga. Para petani di wilayah ini juga harus menanggung rugi hingga jutaan rupiah akibat gagal panen setelah sawah mereka terendam air.

Di Dusun Gupit, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, area persawahan melon dan cabai seluas ratusan hektare terendam air hingga 50 cm. Padahal, tanaman melon di wilayah ini sudah masuk masa panen. Akibatnya, petani harus menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah.

“Seharusnya dipanen dua hari lalu, tapi sekarang tidak bisa dijual karena akan busuk akibat terendam air,” kata Suripto, petani melon, saat dijumpai di sawahnya, Jumat (1/12).

Suripto mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi hal ini. Ia hanya bisa pasrah, menanggung kerugian akibat gagal panen.

Kerugian akibat banjir tidak hanya dialami petani melon. Hal serupa dialami para petani cabai di wilayah setempat. Tanaman cabai yang baru dipanen dua kali, dipastikan akan membusuk dan tak bisa lagi berbuah. “Padahal, para petani belum mendapat keuntungan dari hasil panen,” kata Dwi Kusrini, petani cabai.

Lantaran panennya tak bisa diselamatkan, Kusrini mengaku akan mengambil langkah lain. Ia berencana mengganti tanaman cabai dengan yang lain seperti padi dan palawija.

“Supaya tidak lagi merugi jika nanti ada cuaca buruk melanda,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian (Distan) DIY Sasongko mengatakan, pihaknya masih mendata luas lahan pertanian yang terendam banjir setelah diguyur hujan lebat akibat Siklon Cempaka sejak Selasa (28/11) hingga Rabu (29/11).

Meski demikian, menurut Sasongko, berdasarkan data sementara, sawah yang terendam paling dominan ada di Kabupaten Kulonprogo dan Bantul. “Saya mendapat laporan 12 hektare sawah terandam di daerah Prambanan, Sleman, namun setelah dicek airnya sudah surut,” ungkapnya.

Menurut Sasongko, pendataan itu untuk memetakan seberapa besar petani yang berpotensi mengalami gagal panen akibat banjir tersebut. Seluruh petani yang mengalami gagal panen dan memliki asuransi tani, kata dia, akan mendapatkan ganti rugi Rp 6 juta per hektare. Sedangkan bagi petani yang belum mendaftar asuransi, maka tidak bisa mengklaim ganti rugi berupa uang. Meski demikian, Distan DIY berencana memberikan bantuan dalam bentuk benih padi.

Meski banyak sawah yang terendam bajir, Sasongko meyakini target produksi padi pada 2017 yang dicanangkan mencapai 920.000 ton akan terpenuhi. Alasannya, padi merupakan jenis tumbuhan yang relatif tahan dengan genangan air dengan catatan lama genangan tidak mencapai sepekan. (Unt)

Read previous post:
Tim Harpal dari Denpal mengecek motor dinas Kodim Yogya
CEK KELAYAKAN KENDARAAN DINAS SATUAN – Kodim Yogya Terima Kunjungan Tim Harpal

YOGYA (MERAPI) - Dalam rangka menunjang kesiapsiagaan satuan dalam pelaksanaan tugas kewilayahan, Kodim 0734/Yogyakarta, Kamis (30/11) menerima Tim pemeliharaan dan

Close