Penulis Harus Rajin Membaca Teks Kehidupan

Peserta mengikuti workshop karya tulis di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulonprogo
Peserta mengikuti workshop karya tulis di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulonprogo

WATES (MERAPI) – Seseorang yang ingin menjadi penulis harus rajin membaca teks kehidupan, baik yang bisa dilihat maupun didengarkan. Sebab, semua tulisan berangkat dari ide atau pemikiran yang didapatkan dari kemungkinan pembacaan, pengamatan, pengalaman, pemikiran, hingga gejolak kalbu. Artinya, seseorang tidak akan bisa menjadi penulis jika tidak pernah membaca referensi, menonton TV, mendengarkan radio atau mengamati keadaan di sekelilingnya.

Hal tersebut disampaikan Herry Mardianto, perwakilan dari Balai Bahasa, saat menjadi pembicara dalam Workshop Karya Tulis Pengembangan Minat dan Budaya Baca di Ruang Pertemuan Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulonprogo, Selasa (14/11). Workshop hasil kerja sama Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulonprogo, Balai Bahasa serta Koran Merapi dengan tema Strategi Menulis di Media Massa ini, digelar demi meningkatkan keterampilan dan kemampuan menulis bagi masyarakat umum. Workshop dijadwalkan terselenggara selama dua hari, yakni hingga Rabu (15/11).

“Rajin membaca teks kehidupan, tidak akan langsung membawa seseorang menjadi penulis mengingat masih dibutuhkannya kesungguhan, motivasi dan latihan terus menerus. Di samping itu, penulis harus kreatif, imajinatif dan memiliki kekayaan perbendaraan kosa kata. Menulis butuh ide baru, menciptakan hal baru dengan membayangkan apa yang akan ditulis,” jelasnya.

Pemaparan ide, menurut Herry, dituangkan dengan kosa kata beragam agar tidak membosankan. Salah satu upayanya, yakni dengan banyak membaca tulisan orang lain serta rajin membuka kamus, baik KBBI maupun kamus sinonim.

“Ada empat tahapan dalam menciptakan tulisan, yakni persiapan atau menemukan ide, pematangan yang dipadukan dengan pengetahuan dan pengalaman penulis, penulisan serta verifikasi atau editing. Melalui tahapan itu, diharapkan pembaca bisa mengalami hal serupa dengan penulis,” jelasnya.

Selain Herry Mardianto, sejumlah narasumber lain juga dihadirkan dalam workshop ini di antaranya Umar Sidik dari Balai Bahasa, Evi Idawati yang merupakan seorang penulis, Muhammad Shaleh dari Ikapi DIY, Self Editing Y Sasongko Iswandaru serta Hudono, Wakil Pemimpin Redaksi Koran Merapi. Saat membuka workshop, Plt Kepala Dinas Perpstakaan dan Kearsipan Kulonprogo, Djoko Kushermanto menyampaikan, ide karya tulis bisa berangkat dari sejumlah potensi di sekitar kita. “Potensi ini bisa dituangkan dalam karya tulis. Kami berharap, penyelenggaraan workshop bermanfaat bagi masyarakat dalam menambah ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Koran Merapi Hudono, Rabu (15/11) hari ini akan menyampaikan materi tentang teknik menulis artikel atau opini. Menurutnya, artikel adalah tulisan lepas non fiksi di media massa berisi opini seseorang dalam mengupas masalah tertentu yang aktual, kontroversial, bersifat informatif, persuasif, argumentatif atau rekreatif. Penulisan artikel biasanya secara referensial dengan visi intelektual, menggunakan bahasa hidup, segar, populer, komunikatif serta singkat, tuntas dan orisinil. (Unt)

 

Read previous post:
Polisi menunjukkan tersangka dan barang bukti pil koplo
Bongkar Bisnis Pil Koplo, Polisi Nyamar Bakul Angkringan

YOGYA (MERAPI) - Polisi Satresnarkoba Polresta Yogya berhasil menggagalkan peredaran 9.000 butir pil koplo jenis trihexyphenidyl. Seorang pengedar, Rc (24)

Close