Kampung KB Tingkatkan Kesejahteraan

MERAPI-Zaini Arrosyid  Warga memanfaatkan ruang kosong untuk usaha produktif
MERAPI-Zaini Arrosyid
Warga memanfaatkan ruang kosong untuk usaha produktif

TEMANGGUNG (MERAPI) – Pencanangan kampung Keluarga Berencana (KB) di Dusun Purwosari 2 Desa Purwosari Kecamatan Kranggan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan pendidikan anak.
” Kini setelah sekitar 6 bulan dicanangkan atau April 2019 lalu, telah banyak perubahan yang terjadi di kampung Purwosari 2. Kawasan tidak lagi kumuh setelah dicanangkan jadi kampung KB,” kata Kepala Desa (Kades) Purwosari, Slamet Prabowo, Rabu (16/10).

Dikatakan pencanangan kampung KB secara mandiri, tanpa campur tangan pemerintahan. Biaya awal yang dikeluarkan untuk program-program kampung KB sekitar Rp 25 juta yang bersumber dari Dana Desa. Dana itu masih ditambah dana swadaya dari warga. Warga sangat antusias dengan Kampung KB dan mengubah lingkungan menjadi lebih bagus.

“Kampung KB tak hanya berkaitan penggunaan alat kontrasepsi dan pengendalian penduduk. Melainkan juga merambah soal pemberdayaan warga masyarakat setempat,” katanya, sembari mengatakan pemerinta desa secara rutin adakan upaya penyuluhan terkait keluarga berencana, pemberdayaan ekonomi dan hal-hal lainnya yang produktif untuk warga.

Dia mengemukakan kedepan dari 10 dusun dan berpenduduk 1.170-an kepala keluarga (KK) dengan total penduduk 4.000-an, bisa seluruhnya menjadi kampung KB.
Petugas Pembantu ‎Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) Sri Hartatik menyampaikan respon masyarakat pada penggunaan alat kontrasepsi cukup baik. Disana terdapat 133 KK, dengan 77 di antaranya merupakan pasangan usia subut (PUS). ” Mayoritas PUS yang telah mempunyai anak, mereka menjadi akseptor,” katanya.

Kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Purwosari melalui kampung KB warga memanfaatkan ruang kosong di rumah dan sekitarnya untuk usaha produktif seperti ditanami sayur-mayur dan tumbuhan lain. Keberhasilan menanam sayur bahkan membuat tukang sayur keliling protes karena dagangannya tidak laku.
Warga katanya juga memproduksi gula semut, gula aren, produksi kopi, aneka makanan ringan, sentra batik dengan mengembangkan motif-motif yang diangkat dari kearifan lokal. ” Kami juga membuat perpustakaan di masjid, tempat belajar anak-anak dan warga,” katanya. (Osy)

Read previous post:
Datangnya Titik Terang

PENANTIAN itu sepertinya akan menemui ujungnya juga. Tuliyah berharap beberapa hari telat datang bulan itu sebagai pertanda awal. Hari demi

Close