Tekan Angka Kematian, PPIH Pastikan Jaminan Kesehatan Jemaah Haji

MERAPI-FEBRIYANTO/MCH2019  Sosialisasi kesehatan kepada petugas kloter
MERAPI-FEBRIYANTO/MCH2019
Sosialisasi kesehatan kepada petugas kloter

MADINAH (MERAPI)- Pemerintah melalui Panitia Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Arab Saudi harus hadir untuk memberikan upaya maksimal guna menjamin kesehatan jemaah haji. Sehingga dengan demikian jemaah dapat melaksanakan kegiatan dengan maksimal.

“Tentu saja pemerintah harus hadir. Misalnya saja untuk menekan angka kematian jemaah haji. Memang meninggal menjadi sebuah takdir. Tapi beda ceritanya jika jemaah meninggal setelah diupayakan kesembuhannya dengan ikhtiar maksimal. Beda kasusnya jika belum diupayakan, misalnya saja tidak pernah disentuh penyuluhan petugas. Tidak pernah dikasih tahu,” ucap Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan PPIH Arab Saudi Daker Madinah dr Edi Supriyatna dalam Sosialisasi Kesehatan KKHI di Kantor Sektor 2 Madinah, Senin (26/8). Kegiatan tersebut menyasar petugas kloter yang dapat langsung bersinggungan dengan jemaah serta bergiliran di lima Sektor Madinah.

Menurut Edi, angka kematian jemaah haji pada periode yang sama di tahun sebelumnya terbilang lebih tinggi. Pasalnya hingga berita ini diturunkan tercatat 341 jemaah meninggal. Di tahun lalu pada periode hari yang sama, jumlahnya 292 jemaah meninggal. Artinya ada peningkatan sekitar 15 persen dibanding tahun penyelenggaraan haji sebelumnya.

“Karena itu ada tanggung jawab yang mesti dilaksanakan. Seperti halnya upaya pencegahan yang harus dilakukan,” ucap Edi.

Sebab itulah petugas kloter, mulai ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, petugas kesehatan dan lainnya sebagai kepanjangan tengah pemerintah dalam melayani jemaah haji diharapkan dapat mengawal serta memberikan edukasi bagi jemaah. Salah satunya dengan mengawal jemaah resiko tinggi (risti) agar mereka dapat pulang dengan sehat dan selamat.

“Terus dikawal, khususnya bagi jemaah risti mendekati hari kepulangan ini. Karena itu kami terus lakukan edukasi ke semua sektor untuk menjaga kesehatan. Mengedukasi penggunaan alat pelindung diri (APD) agar terhindar dari gangguan kesehatan,” ucap Edi.

Setidaknya ada empat hal yang dapat memicu gangguan kesehatan pada jemaah haji. Bahkan jika hal tersebut tidak diantisipasi dengan cermat, dampak terburuk yang dapat ditimbulkan yakni kematian. Keempat faktor tersebut, yakni air minum, suhu, kelelahan dan adaptasi.

“Air minum sangat penting. Dengan kelwmbaban yang rendah di Saudi Arabia, potensi dehidrasi menjasi ancaman. Dehidrasi akan menyebabkan jemaah menjadi sakit. Ketika sudah berat tentu akan dirujuk ke rumah sakit dan jika makin berat dapat meninggal,” sebut dr Edi.

Dari lebih 300 jemaah haji yang meninggal hingga saat ini, menurut Edi terbanyak di rumah sakit Arab Saudi (RSAS). Artinya jemaah mengalami gangguan kesehatan yang cukup berat saat di kloter hingga tidak mampu ditangani dan dirujuk ke RSAS.

Penyebab kedua yang dapat mengganggu kesehatan jemaah yakni soal suhu di Saudi cukup tinggi dengan kelembaban rendah. Hal tersebut yang mempercepat jemaah terkena dehidrasi. Khususnya bagi jemaah resiko tinggi dengan usia di atas 64/5 tahun, dehidrasi menjadi pemicu disorientasi atau demensia.

Selain itu faktor kelelahan juga menjadi salah satu kendala yang harus diatasi. Dengan kondisi tubuh lelah, terlebih bagi jemaah lansia atau risti akan cepat mencetuskan penyakit yang sudah ada di dalam tubuhnya selama ini.

“Keempat adaptasi terhadap lingkungan di Arab Saudi. Ketika kurang mampu beradaptasi akan memicu gejolak yang berakibat pada kondisi kesehatan,” lanjutnya.

Padahal menurut Edi, sebenarnya hal tersebut merupakan hal ringan yang dapat diatasi. Hanya saja seringkali jemaah kurang memperhatikan sehingga perlu sosialisasi dan edukasi terus menerus, termasuk dari petugas kloter yang selama ini selalu mendampingi.

Dijelaskan Edi, sampai saat ini ada tiga penyakit yang menjadi pemicu wafatnya jemaah haji, yakni jantung, pernafasan hingga stroke. Hal tersebut umumnya tercetus karena empat faktor yang sudah dijelaskan sehingga semestinya dapat diantisipasi sejak awal untuk meminimalisir dampaknya.

“Termasuk jemaah yang sakit dan dirawat di KKHI untuk segera dipulangkan agar sakitnya tidak makin berat. Sebab ada faktor resiko di internal dan eksternal. Jika ada konvergensi keduanya, jemaah beresiko akan makin sakit,” terang Edi.

Dengan begitu saat ini upaya yang harus dilakukan untuk mengawal jemaah supaya tidak terjadi gangguan kesehatan. Termasuk tidak melakukan kegiatan berlebihan yang justru akan menekan kesakitan.

“Sesudah Armuzna sebenarnya hanya tinggal menunggu kepulangan. Dengan kondisi yang lelah, seharusnya tetap menjaga kesehatan sehingga pulang dalam kondisi sehat dan selamat,” jelas Edi. (Feb)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Tarian tradisional mewarnai acara Jogja Air Show 2019.
JOGJA AIR SHOW 2019: Dongkrak Kunjungan Wisata dan Motivasi Cinta Kedirgantaraan

KRETEK (MERAPI) - Landasan Pacu Pantai Depok, Bantul, terlihat ramai dari biasanya. Sepanjang landasan, pesawat milik TNI AU Lanud Adjisucipto

Close