Kampung Batik Giriloyo Dilengkapi Homestay

Perajin saat menyelesaikan tahapan membatik. (MERAPI-RIZA MARZUKI)

WUKIRSARI Imogiri dikenal sebagai sentra kerajinan batik, terutama berada di tiga dusun, yaitu Cengkehan, Giriloyo dan Karangkulon. Suatu hal yang wajar, jika bagi para pecinta batik, Kampung Batik Giriloyo dan sekitarnya bagaikan surga tersembunyi dengan potensi batiknya yang luar biasa.

Ketua Paguyuban Batik, Nur Ahmadi menjelaskan Kampung Batik ini dikembangkan karena sebagian besar warga sebelumnya beprofesi sebagai buruh batik. Saat ditemui Merapi, Rabu (22/5) kemarin, pria 40 tahun ini menjelaskan buruh batik bekerja hanya sebatas menorehkan malam pada kain batik yang sebelumnya sudah diberi pola. Sementara itu proses lainnya sudah dilakukan oleh juragan batik, termasuk penjualan. Kini dengan upaya pengembangan seluruh prosesnya bisa dilakuakan di rumah mulai menyiapkan pola hingga menjualnya.

Nur Ahmadi mencatat kunjungan wisata selama tahun 2018 menjacapai 2.300 ribu orang. dimana 10 persennya merupakan wisatawan asing. Selain berbelanja batik, wisatawan disuguhkan dengan paket eduwisata. Pengunjung dapat belajar membatik, tatah sungging atau membuat wayang, dan juga petualangan susur sungai Seribu Batu. Tingginya kunjungan ini menyumbang omset penjualan batik yang mencapai Rp 1,2 miliar setahun. “Wisatawan juga bisa mengambil paket magang batik, paket ini lah yang banyak melibatkan homestay karena harus menginap,” ungkapnya.

Di Kampung Batik Giriloyo, setidaknya ada 20 homestay yang rata-rata memiliki dua kamar setiap rumahnya. Disebutnya homestay ini sangat berpeluang mendapatkan tamu pada libur lebaran mendatang. Pesanan kamar untuk libur lebaran pun sudah banyak datang. Namun begitu, karena homestay ini menggunakan sistem life-in sehingga hanya ada satu hmoestay saja yang menerima tamu pada hari pertama hingga ketiga lebaran. Lainnya baru menerima tamu pada lebaran hari ke-empat.

“Kalau di pedesaan seperti ini pemilik rumah juga masih repot lebaran jadi tidak berani terima tamu, tamu menginap di rumah pemilik jadi tidak terpisah (life-in),” terangnya.

Sementara, salah satu pembatik, Asmiyatun menjelaskan batik yang diproduksi merupakan batik dengan motif kuno seperti sidomukti, sidoarum, parang, truntum, dan jenis lainnya. Namun dari kualitasnya batiknyang diproduksi biasanya dibagi menjadi 3 yakni batik biasa dan sedang atau sering disebut batik kasar dan batik premium atau batik alusan.

Batik biasa harga jualnya di bawah Rp 600 ribu sedabgkan batik kualitas sedang dijual dengan harga Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta perlembarnya. Batik premium sendiri dijual dengan harga diatas Rp 1 juta setiap lembar kain.

“Kalau upah buruh batik juga tergantung jenis batiknya, kalau kasaran sekitar Rp 200ribu tapi kalau batik alusan bisa lebih besar,” sebut wanita 60 tahun yang sudah membatik secara turun temurun tersebut. (C-1)



Pin It on Pinterest

Read previous post:
Dalam 4 Tahun, Kementan Bangun Jaringan Irigasi 3,13 Juta Ha

JAKARTA (MERAPI)- Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, dalam kurun waktu 2015-2019 pemerintah telah membangun

Close