WAROENG NDESSO MBANTOEL Kewalahan Layani Permintaan

MERAPI-TEGUH Suasana Waroeng Ndesso Mbantoel setelah liburan Lebaran.
MERAPI-TEGUH
Suasana Waroeng Ndesso Mbantoel setelah liburan Lebaran.

SELAMA bulan Ramadan permintaan kuliner bernuansa tradisi sangat diminati. Salah satunya menu Ingkung ayam Jawa dan Gudeg Manggar khas Bantul. aSehingga meski agak kuwalahan dalam melayani permintaan pelanggang, akhirnya membuat owner Waroeng Ndesso Mbantoel, Yudi Susanto angkat tangan tidak sanggup lagi menyediakan menu khas yang kini makin populer itu.

“Selain stoke bahan bakunya habis juga menjadi sulit didapat, kalau pun ada harganya sangat mahal hampir sama dengan harga daging sapi,” tutur Yudi belum lama ini ketika ditemui Merapi di rumahnya Karangber, Gowasari, Pajangan, Bantul.

Lebih lanjut menurut Yudi, harga manggar dan kembang pisang kemudian menjadi melambung dan barangnya pun menjadi langka. Sehingga dua menu khas yang banyak menjadi penyerta utama dalam hidangan Ingkung Ayam Jawa itu, dengan terpaksa tidak dapat dihadirkan. Sebab menurut Yudi, pihaknya tidak bisa melakukan kebijakan terkait dengan kelangkaan dua bahan pokok itu.

“Saya tidak bisa menjual dengan harga tinggi dengan menaikan harga misalnya, atau pun mengurangi takaran menu serta bumbu itu justru akan sangat riskan. Cara yang aman ya sementara tidak menyediakan dua menu itu saja,” tutur Yudi yang tidak begitu paham dengan langkanya dua bahan serta kenaikan harga keduanya di pasaran.

Dijelaskan dia, selama ini menu andalan Gudeg Manggar dan Gudeg Kembang Gedang menjadi menu favorit setelah Ingkung Ayam Jawa. Kedua masakan itu oleh sebagian besar masyarakat luar daerah justru dianggap sebagai menu istimewa serta eksotik. Pada hal imbuh Yudi, Kembang Gedang atau jantung pisang selama ini dianggap sebagai limbah yang biasa dijadikan pakan ternak. Tapi dengan diolah sedemikian rupa hingga menjadi masakan gudeg, ternyata lezat dan banyak peminatnya.

Setiap hari menurut Yudi, pihaknya membutuhkan puluhan kilo jantung pisang untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Dari dua warung yang dikelolanya langsung, setidaknya membutuhkan puluhan kilo Manggar dan Kembang Gedang sebagai bahan pokok pembuatan gudeg khas Bantul itu.

“Sebetulnya ini peluang bisnis juga untuk pengadaan dua kebutuhan pokok bahan itu, kalau di kawasanan kuliner Guwosari kebutuhan setiap warung rata-rata lima kilo saja, sedangkan di kawasan wisata kuliner ini ada belasan warung. Sebetulnya ini bisa digarap bagi yang bisa menyediakan dua bahan itu,” tutur Yudi yang juga ketua Himpunan Pengusaha Santri ( HIPSI ) Bantul.

Setelah libur pada hari raya idul fitri, di hari ketiga lebaran Jum’at (7/6) Waroeng Ndesso Mbantoel sudah buka kembali dan melayani penggemar kuliner tradisional khas Bantul. Karena pasokan serta harga Manggar dan Kembang Gedang mulai stabil kembali di pasaran, menu khas gudeg manggar dan kembang gedang pun sudah dapat dinikmati kembali.

“Untuk menu Ingkung masih banyak yang harus kecewa karena kehabisan stok ayam. Karena ayam yang kita masak benar-benar fresh, jadi potong hari ini diolah hari ini juga dan semua masakan bebas MSG,” pungkas Yudi. (C-3)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Pedagang Cilok Nyuri Burung

PURWOREJO (MERAPI) – Tergiur harga mahal burung murai, seorang pedagang cilok beserta dua rekannya yang lain, satu diantaranya masih anak-anak,

Close