Kepincut Ciblek yang Punya Ocehan ‘Ngebrem’

SEBAGIAN kicau mania senang berspesialisasi dalam melombakan ocehan. Seperti halnya Asrofi asal Margoluwih Sleman lebih senang memilih ciblek. Alasannya antara lain, ciblek bisa mempunyai suara atau ocehan mirip tembakan beruntun atau <I>ngebrem<P>. Sehingga ketika dipelihara di kompleks rumah maupun dilombakan terasa lebih seru.

“Menurut saya, ocehan jenis ciblek juga tak sulit perawatannya. Selain itu dengan ukuran tergolong kecil, menjadikan tak makan banyak tempat meski mempunyai beberapa ekor ciblek,” ungkap Asrofi kepada <I>Merapi<P>, Kamis (21/1).

Bahkan ketika membuat kandang penangkaran ciblek, lanjutnya, tak memakan banyak tempat juga. Suatu hal membanggakan, sekitar satu tahun lalu, ia berhasil menangkarkan sepasang ciblek. Padahal sudah banyak yang mencoba menangkarkan, namun banyak juga yang tak berhasil. Sebab, untuk menangkarkan ciblek butuh kesabaran dan ketelatenan sendiri. Tak jarang, dalam menangkarkan ciblek sering menemui kendala seperti sudah bertelur, namun tak bisa menetas. Ada juga yang sudah menetas, namun tak lama kemudian dibuang oleh induknya dari sarang.

Sekarang ini, ia baru mempunyai sepasang ciblek yang aktif produktif. Pejantannya termasuk ciblek yang pernah juara dalam latihan prestasi dan beberapa lomba. Ciblek jantan mempunyai paruh dengan warna hitam baik yang atas maupun bawah. Sedangkan yang betina paruh bagian bawah berwarna abu-abu. Selain itu didekat mata ada seperti alis berwarna putih. Posturnya juga lebih panjang dan lebih aktif <I>ngoceh<P>.

Cara sederhana menjodohkannya, ciblek dewasa biasanya sudah berumur di atas delapan bulan. Penjodohannya, sangkar ciblek jantan dan betina saling didekatkan antara satu sampai dua minggu. Jika tidurnya saling berdekatan, meski di sangkar berbeda termasuk tanda sudah berjodoh. Sarang yang disediakan dari serat tanaman nanas sudah kering. Sebagian ditempatkan di pipa peralon, sebagian lagi bisa di luar. Jika sudah bertelur, masa pengeraman telur membutuhkan waktu sekitar dua minggu.

“Setelah menetas, piyik ciblek dengan umur 12 hari diambil dari sarang lalu ditempatkan di kotak inkubator yang dilengkapi lampu penghangat,” terangnya.

Ditambahkan, piyik ciblek dapat diloloh menggunakan voer buatan pabrik dicampur air hangat secukupnya, sehingga menjadi wujud seperti bubur. Sekitar umur satu sampai satu setengah bulan biasa sudah bisa makan sendiri. Tak kalah penting, meski masih anakan ciblek bisa dimaster dengan suara burung jenis lain maupun suara ciblek yang bagus. Untuk memaster bisa cukup menggunakan rekaman di handphone (HP).

“Tak hanya ciblek, beberapa jenis ocehan lain agar bisa menirukan suara ocehan lain atau ocehannya semakin bervariasi dapat dimaster menggunakan suara ocehan yang telah direkam menggunakan HP,” tandasnya.

Ciblek sudah dewasa, sebut Asrofi, dapat diberi pakan jenis voer kering, ulat kandang, kroto dan jangkrik. Ia yang sudah bergabung di Komunitas Ciblek.Mania Jogjakarta (CMJ) mempunyai beberapa ciblek biasa menang dalam lomba, misalnya ada Sembrani, Batik Madrim, Mastrada, Lindu Aji dan Walang Sungsang.

“Tapi sejak ada pandemi virus Corona, belum ada lagi lomba ciblek,” imbuh Asrofi yang juga mempunyai jenis ocehan lain seperti gelatik dan cucak hijau. (Yan)

 

Read previous post:
Jadi Tempat Curhat Pelanggan, ‘Kulakan Si Ucui’ Bukan Sekadar Pet Shop di Medan

Close