Anggrek Tetap Tebar Pesona, Meski Ada Corona

WABAH virus Corona masih ramai diperbincangkan. Berbagai kalangan pun banyak berdoa agar wabah Corona segera berakhir. Tak ketinggalan para penggemar maupun pelaku jual-beli tanaman anggrek juga banyak berdoa dan berharap situasi segera kondusif.

Bagi penggemar anggrek asal Sleman, Syamsul Arifin, meski masih ada Corona dan suasana belum normal seperti waktu-waktu sebelumnya, namun semangat merawat anggrek tak pernah kendor. Bahkan bisa menjadi hiburan atau kebahagiaan tersendiri ketika aneka jenis anggrek tetap rajin berbunga ataupun menebarkan pesona, meski sedang ada pandemi Corona seperti sekarang.

“Saya senang merawat anggrek yang rajin berbunga seperti jenis bulan dan dendrobium. Selain itu ada juga tanaman aglaonema dengan keindahan corak warna daun-daunnya,” ungkap Arifin kepada Merapi, baru-baru ini.

Menurutnya, sebagian anggrek ada yang ditanam di pot dengan media tanam sabut kelapa dan arang kayu. Selain itu ada juga yang ditempelkan pada batang tanaman kopi. Bahkan bisa juga memanfaatkan pipa peralon yang diisi sabut kelapa serta arang, diberi lubang-lubang dan untuk menanam anggrek. Agar kesehatan dan kesuburan tanaman terjaga, pemupukan secara berkala rutin diterapkan.

“Saya senang anggrek sejak masih kuliah di Malang. Waktu saya kos, kebetulan bapak kos saya senang anggrek, saya jadi ikut ketularan. Jadi pecinta anggrek tak harus dari kalangan perempuan,” urainya.

Sementara itu, hobiis dan pelaku jual-beli anggrek asal Ngaglik Sleman, Eniek S mengungkapkan, semangat merawat tetap dijaga, bahkan ditularkan juga ke penggemar-penggemar anggrek lainnya. Tak ketinggalan, ketika ada yang tertarik ingin membeli di tempatnya dapat diantar sampai ke konsumen ataupun COD. Kemajuan teknologi seperti smartphone, diyakini kian mempermudah sosialisasi cara perawatan sampai jual-beli anggrek.

“Selain anggrek, beberapa jenis tanaman lain banyak juga disenangi wanita maupun laki-laki. Saat merebak virus Corona, bahkan jenis tanaman sirih, baik sirih hijau maupun merah semakin banyak dicari warga untuk diproses menjadi <I>hand sanitizer<P> alami,” papar Eniek yang juga aktif di Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIY.

Rekan Eniek yang juga aktif di PAI DIY, Dian Munarsi menjelaskan, sejak ada wabah Covid-19 kios anggreknya di kawasan Condongcatur Sleman ditutup sampai suasana sudah kondusif. Namun, ia tetap berusaha merawat dengan baik anggrek-anggrek koleksinya maupun yang dijualbelikan, sehingga tetap mampu menebarkan pesona. Sebagian jenis anggrek juga sudah bisa diperbanyak sendiri. Adapun untuk jual-beli anggrek banyak dilakukan secara online dari rumah.

“Sampai saat ini saya belum berani mendatangkan stok dari tempat lain. Jadi yang dijual stok-stok yang sudah ada saja, cukup diposting dari rumah saja,” terangnya. (Yan)

Read previous post:
Perajin Batik Berinovasi di Tengah Pandemi

Close