MEDIA TANAM UNTUK BONSAI-Tanah Liat Tak Goyahkan Akar

PENGGEMAR tanaman bonsai datang dari berbagai kalangan. Ada beberapa alasan tersendiri, mereka senang mempunyai ataupun mengoleksi bonsai. Tak jarang di kompleks rumahnya, antara lain ditempatkan di halaman atau pekarangan rumah ada beberapa jenis tanaman bonsai.

Dalam menanam serta merawat bonsai tentu ada kiat-kiat penting diterapkan, sehingga tanaman tersebut bisa subur, sehat (tak gampang kena penyakit) maupun mati. Beberapa hal penting pun diterapkan Sunarto atau akrab disapa Pak Narto dalam merawat bonsai-bonsai koleksinya. Soal media tanam untuk diisikan pada pot termasuk yang tak dapat diremehkan.

“Saya biasa menggunakan campuran tanah 25 persen, pasir Malang 50 persen dan kotoran kambing sudah wujud seperti bubuk 25 persen,” ungkapnya kepada Merapi, baru-baru ini.

Ditemui di tempat tinggalnya kawasan Nogotirto Gamping Sleman, Jalan Nusa Indah ini menjelaskan tanah yang dipakai lebih ideal model jenis tanah liat. Bisa juga tanah biasa namun dicampur tanah liat. Ia sendiri sering membawa tanah liat dari tempat kelahirannya Gunungkidul. Pasalnya, tanah liat menjadikan akar tak mudah goyah serta bagus daya rekatnya. Apalagi beberapa jenis tanaman bonsai bisa mudah stres bahkan sakit dan mati karena dipicu akar sering goyah.

“Termasuk juga jenis serut, ketika baru saja dipindah tempat penanaman lalu akarnya mudah goyah biasanya akan cepat mati,” beber Pak Narto.

Ditambahkan, media tanam ditambah bahan pasir Malang akan menjadikan media tanam bersifat porous, sehingga sirkulasi air bisa bagus atau tak menjadikan terlalu lembab. Keadaan terlalu lembab dapat juga memicu tanaman gampang kena penyakit. Sedangan pupuk kandang berupa kotoran kambing sudah terfermentasi bahkan sudah dibuat layaknya bubuk akan mendukung nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

“Alhamdulillah, dengan campuran bahan media tanam tersebut, bonsai koleksi saya baik-baik saja. Antara lain ada asam Jawa, serut, santigi dan jeruk kingkit. Jika ada penggemar lain tertarik memiliki, asal harga cocok biasanya saya lepas juga,” terangnya.

Penggantian media tanam, sebut Pak Narto, tak ada batasan tertentu. Tak jarang antara empat sampai lima tahun baru diganti. Selain itu ketika pertumbuhan atau kesuburan tanaman kurang baik, dapat juga segera mengganti media tanamnya. Penggantian dapat model dibongkar, sehingga sekalian memotong akar-akar sudah tua maupun sudah mati (kering). Artinya juga sebagai cara untuk peremajaan akar. (Yan)

Read previous post:
Menuju Cyber Province, Pemda DIY Gandeng Grab Indonesia

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Pemda DIY dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY melakukan penandatanganan kerja sama dengan Grab Indonesia bertujuan

Close