BISA CAPAI SEUKURAN BANTAL-Sang Predator Pacu Albino Jadi Ikan Hias

BERAGAM jenis ikan layak dijadikan sebagai klangenan, apalagi mempunyai beberapa karakter khas. Terutama karakter ciri fisik maupun tingkah laku, sehingga cocok pula sebagai ikan hias yang dikoleksi di kompleks tempat tinggal. Salah satunya ikan predator jenis picu albino yang memiliki ciri khas fisik putik kekuning dan ikan predator.

Seperti halnya hobiis ikan asal Sewon Bantul, Muh Ziah mengaku senang mengoleksi ikan-ikan dengan tampilan karakter khas, antara lain jenis ikan datz, buntat, pinktail dan pacu albino. Selain dikenal sebagai ikan predator atau senang memakan jenis ikan lain/daging, juga punya beberapa ciri fisik tersendiri.

“Ikan pacu albino, misalnya, warna sisik cenderung putih kekuningan. Giginya mirip gigi manusia. Selain senang makan jenis ikan lain, ikan ini mau juga makan pelet dan beberapa tumbuhan, sehingga juga termasuk omnivora,” paparnya, baru-baru ini.

Bentuk tubuh ikan pacu, sebut Ziah, mirip juga dengan bawal serta piranha. Selain ada yang berwarna hitam, ada pula albino. Habitat aslinya berada di Amazon Brazil, dalam perkembangannya bisa menyebar ke berbagai negara di dunia. Sebagian kios ikan hias menjual anakan pacu albino dengan panjang kisaran 10 sampai 20 cm, harga tak sampai Rp 100.000 perekor.

“Semakin besar, harganya bisa semakin mahal. Ukuran badannya bisa sampai seukuran bantal besar,” tandasnya.

Hal senada disampaikan hobiis ikan yang juga kru penjualan ikan hias di kawasan Pasar Sentral Umum Gamping Sleman, Rifai. Bahkan ada salah satu lokasi pemandian di Klaten terdapat beberapa ikan pacu, ukurannya mendekati bantal, namun yang bukan albino. Jika berada di alam diperkirakan juga kian beragam makanan yang bisa diperoleh, misalnya jenis ikan lain yang ukurannya lebih kecil, katak, udang, tumbuhan maupun sejumlah biji-bijian yang jatuh di kolam pemandian.

“Kekhasan yang albino, warna sisik atau sekujur badan putih agak kuning dan warna matanya merah. Ketika dipelihara di akuarium, enak dilihat dengan gerakan-gerakan tenang atau kalem,” beber Rifai.

Pemberian pakan ikan pacu, lanjutnya, bisa sekali atau dua kali dalam sehari. Jika dipelihara sejak masih anakan di akuarium, peluang bisa jinak lebih tinggi. Dalam satu kolam diisi lebih dari ikan pacu, bahkan dengan ikan hias lain tak masalah. Dengan catatan ukurannya sejajar. Pihaknya biasa mendapat setoran anakan ikan pacu, terutama dari pengepul ikan hias asal DKI Jakarta.

“Jenis ikan lain dikenal sebagai ikan predator atau ikan galak, yaitu peacock bass sering disingkat PB. Ikan ini habitat aslinya juga diyakini di Sungai Amazon, namun beberapa penggemar ikan di Indonesia sudah ada yang mampu membudidayakannya,” papar Rifai.

Menurutnya ikan PB suka memangsa jenis ikan lainnya terlebih yang lebih lebih kecil ukuran badannya. Ciri fisik ikan ini tampak sangar dan menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian penggemar ikan. Bukan hal aneh, penggemar ikan predator berusaha bisa mengoleksinya, baik itu sudah tergabung dalam komunitas maupun yang belum. Sejumlah komunitas penggemar ikan galak atau predator yang ada di DIY, misalnya Komunitas Iwak Galak dan Fish Lover Jogja (FLJ). (Yan)

Read previous post:
Kulonprogo Kesulitan Ciptakan Ekosistem Ekonomi Kreatif

WATES (MERAPI) - Dinas Perdagangan Kabupaten Kulonprogo mengalami kesulitan untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif di wilayah ini karena belum ada

Close