Kambing Cebol Pygme Goat, Klangenan yang Menjanjikan

MERAPI-TEGUH  Anak Mugiyono menunjukan cempe dan indukan Pygmen Goat di kandang.
MERAPI-TEGUH
Anak Mugiyono menunjukan cempe dan indukan Pygmen Goat di kandang.

KEUNIKAN berbagai jenis satwa ternyata mampu memikat banyak orang untuk memeliharanya. Meski harus mengeluarkan isi kocek lumayan besar, namun demi kesenangan serta dorogan hobi hal itu tidak menjadi soal. Seperti yang dilakukan Mugiyono (45), warga Malangan, Srikayangan, Sentolo , Kulonprogo, yang mengembangkan jenis kambing Pygme Goat alias kambing cebol dari Skotlandia.
Menurut Mugi yang juga memelihara sejumlah ternak lokal seperti sapi, memang memelihara kambing cebol lebih pada penyaluran hobi. Kalau untuk untuk diandalkan sebagai usaha masih sangat jauh. Karena dengan harga yang lumayan mahal serta kondisi fisik kambing yang cebol jelas tidak mungkin dikembangkan menjadi usaha ternak untuk diambil dagingnya.

“Ini untuk kesenangan dan hobi, karena unik saja sehingga tertarik untuk memilihara sepasang. Sekarang sudah berkembangbiak,” kata Mugi yang sejak dua tahun lalu mulai memelihara Pygme Goat di kandang samping rumahnya kepada Merapi, belum lama ini.

Keunikan jenis kambing import ini menurut Mugi, selain fisiknya kerdil jenis kamping ini memiliki gerak yang lincah. Bahkan bila di lepas dari kandang, dia mampu memanjat tebing dengan ketinggian tertentu dan tidak pernah jatuh. Selain itu pada bagian bawah kedua kupingnya menurut pengamatan dia, kambing cebol ini memiliki sepasang daging tumbuh yang menjuntai dan posisi tanduk mencuat tegak. Berbeda dengan tanduk kambing lokal yang agar bengkok dan bahkan melengkung.
“Kalau dikembangkan untuk dijadikan pedaging jelas tidak mungkin, saya lebih suka menjadikan piaraan kelangenan semacam kambing hias, begitu. Karena peternaknya juga masih jarang dan harganya lumayan mahal,” ucapnya.

Sepasang Pygme Goat yang dibelinya seharga Rp. 10 juta, selama dipelihara dua tahun sudah beranak pinak sebanyak tiga kali. Sayangnya menurut Mugi, selama ini hanya beranak seekor saja. Sehingga untuk mengembangkan lebih banyak memang harus membutuhkan waktu lama, selain itu setiap kali beranak selalu melahirkan cempe jantan.

“Untuk asupan pakan sama seperti ternak kambing lokal, cukup pakan ramban dan hijauan. Hanya terkadang dikasih wortel dan buah lainnya seperti pisang,” tambah Mugi.

Meski begitu, karena termasuk satwa unik ternyata banyak juga para pehobies yang tertarik juga ingin memeliharanya. Bahkan anakan yang baru lahir saja sudah banyak yang ingin membelinya ubtuk dipelihara. Menurut Mugi, ini juga menjadi peluang bisnis akhirnya dan memiliki nilai ekonomis yang mungkin akan lebih menjanjikan ketimbang jenis kambing lokal. (C-3)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kemarau, Budidaya Ikan di Sleman Turun

NGEMPLAK (MERAPI) - Musim kemarau berimbas pada budidaya ikan. Keterbatasan air, membuat petani ikan terpaksa mengurangi jumlah kolam hingga jumlah

Close