Burung Pipit Lokal Layak Ditangkarkan

Banu dan rekannya saat mengamati indukan emprit Jawa. (MERAPI-TEGUH)

BURUNG pipit biasa disebut emprit oleh masyarakat Jawa ada beberapa jenis, sebagian di antaranya nyaris sulit ditemukan atau langka. Hal ini menjadi alasan tersendiri untuk bisa menangkarkan emprit, terutama jenis emprit Jawa, otohitam, emprit kaji dan emprit peking.

Warga Jumeneng Seyegan Sleman, Banu Bimo Aribowo termasuk yang semangat bisa menangkarkan emprit jenis tersebut. Selain bagian dari konservasi, diharapkan pula dengan berternak emprit lokal mampu menjadi peluang bisnis. Apalagi emprit lokal sebenarnya memiliki pesona unik dari gerak-geriknya yang lincah dan menggemaskan.

“Justru orang-orang Eropa yang melihat etnik emprit Jawa ini punya potensi pasar yang besar di negara mereka. Karena itulah saya bersemangat untuk budidaya,” tutur Banu.

Orang Eropa lebih menyukai dan meminta emprit hasil breding atau penangkaran bukan dari tangkapan alam. Dalam pandangan mereka hasil peternakan memiliki daya pesona yang lebih indah dari gerak-gerik serta kelincahannya bergerak, serta tidak takut dengan sentuhan tangan manusia. Beda dengan hasil perburuan dari alam yang terkesan liar dan tak jinak bahkan mudah stres.

Ditambahkan Banu dari hitung-hitungan nilai bisnisnya emprit lokal memang terkesan merugi kalau orientasi pasar hanya terfokus pada pasar dalam negeri. Bahkan sepengatahuan dia, pasar dalam negeri hanya memanfaatkan emprit sebagai kuliner dan selebihnya dimanfaatkan untuk pakan berbagai jenis reptil pemangsa, seperti ular. Sehingga harga jualnya sangat rendah dan kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, jelas rugi.

“Saya lebih prioritas pada pasar luar negeri misalnya ke Belanda, Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya. Di sana pasar emprit Jawa memiliki prospek lumayan bagus,” tandasnya optimis.

Untuk saat ini Banu mengaku masih terus mengembangkan produksinya secara massal dulu, meski dikandanganya sudah ada ratusan emprit lokal jenis Jawa, otohitam, emprit Kaji dan Peking, namun dia masih tetap menahan agar populasi di kandangnya terus bertambah dulu. Selain emprit lokal Jawa dia juga mengembangbiakan emprit lokal Sulawesi jenis taruk yang unik. Proses kembangbiak secara alami belum memanfaatkan teknologi alat penetas.

“Ini masih saya tahan untuk pasaran luar negeri, meski permintaan sudah banyak. Tapi kalau saya layani nanti kandang pasti kosong. Bahkan teman-teman sesama breder pun sudah mulai ada yang ikut melirik ikut mengembangbiakan jenis lokal Jawa,” tandasnya.

Dijelaskan Banu, harga sepasang emprit lokal Jawa usia siap produksi dibandrol kisaran Rp 500.000 untuk pasaran luar negeri. Harga ini belum termasuk ongkir serta berbagai persyaratan yang harus dilakukan untuk mengekspor burung ke luar negeri. (C3)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Diiringi Doa Anak Yatim, Ramadhan Charity Golf Cocok untuk Wisata Bersama Keluarga

BATAM (MERAPI)- Tering Bay Ramadhan Charity Golf Tournament sukses digelar, Jumat (24/5/2019). Ratusan wisman hadir pada kegiatan yang digagas Tering

Close