Kenali Suara Depan, Tengah dan Ujung Perkutut Jawara

Suasana lomba perkutut tingkat nasional. (MERAPI-SULISTYANTO)

KUNG mania punya kebanggaan tersendiri ketika bisa mempunyai perkutut kualitas lomba. Tak jarang perkutut biasa dilombakan juga rutin ditangkarkan. Saat akan dilombakan dapat diambil dari kandang penangkaran, bisa seminggu sebelumnya. Dengan catatan tak sedang mengeram ataupun meloloh piyik (anakan perkutut).

Menurut penggemar, penangkar serta juri nasional perkutut, Sunu Nugroho, kualitas suara perkutut dinilai mulai dari suara depan, tengah dan ujung. Masih mempengaruhi nilai saat dilombakan, seperti irama serta dasar suara. Saat ini lomba perkutut biasa terbagi dalam empat kelas, yaitu hanging (umur 2-4 bulan), piyik setengah tiang (umur 4-6 bulan), dewasa junior dan dewasa senior.

“Kelas hanging tak dikerek pada tiang, tapi cukup digantang layaknya lomba ocehan. Tinggi dari tanah kisaran tiga meter, agar mudah dipantau tim juri sebab suara piyik perkutut masih lembut,” jelas Sunu.

Dilihat secara fisik, bulu-bulu piyik perkutut masuk kelas hanging mayoritas masih berwarna kecokelatan. Saat digelar lomba perkutut tingkat nasional, misalnya Piala Raja, gantangan untuk kelas hanging bisa selalu penuh bahkan sering menolak calon peserta. Apalagi yang kelas dewasa senior, junior maupun piyik setengah tiang. Pasalnya, kung mania dari berbagai daerah antusias datang dengan membawa perkutut pilihan mulai dari piyik sampai dewasa.

“Perkutut pensiun dari lomba bukan soal umur, tapi tergantung pada kualitas suara. Kalau suara depan, tengah, ujung dan irama sudah tak layak dilombakan, ya pensiun,” ungkap Sunu.

Erick, kung mania asal Nanggulan Kulonprogo mempunyai tujuh perkutut yang biasa dibawa mengikuti latber dan lomba perkutut. Ia mempunyai lima pedoman dalam memilih perkutut kualitas lomba. Pertama, suara depan harus panjang, mengayun, membat dan bersih. Suara tengah memiliki tekanan, lengkap dan jelas. Sedangkan suara ujung harus panjang dan mengayun. Iramanya, senggang, elok serta indah. Lalu dasar suaranya, kering, tebal, bersih dan sengau.

“Hanya saja untuk memperoleh perkutut dengan lima kriteria semacam ini tidak mudah,” tegasnya.

Kung mania asal Karangwaru Yogya Fery F menambahkan, ketika memiliki indukan kualitas bagus, termasuk berasal dari trah juara diharapkan mampu memiliki perkutut-perkutut kualitas lomba. Sebelum turun ke kancah lomba, ada baiknya rutin mengikuti latber, sebab bisa melatih mental burung yang dilombakan. Termasuk juga melatih mental pemiliknya. Meski diakui juga yang bawa ke arena lomba, tak harus pemilik langsung namun bisa perawat ataupun joki perkutut.

“Sejak umur sekitar dua bulan, perkutut sudah layak diikutkan dalam latber maupun lomba, yaitu dimulai dari kelas hanging. Jika umurnya sudah lebih enam bulan dapat diikutkan kelas dewasa junior atau senior. Kalau pas lomba di Yogya, saya biasa jarang ikut, karena sudah sibuk menjadi panitia,” ujar Fery. (Yan)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Irama Perkutut Menenangkan Hati

PENGGEMAR perkutut alias kung mania datang dari berbagai kalangan. Sebagian di antaranya memelihara perkutut sekadar sebagai klangenan, namun ada pula

Close