Pule Sang Perindang Eksotis

Lilik dan Imam menunjukkan salah satu koleksi pohon pulenya. (MERAPI-SULISTYANTO)

NAMA pohon pule sudah tak asing di masyarakat, terlebih penggemar tanaman termasuk bonsai. Bahkan kayu pule cocok dijadikan bahan kerajinan seperti topeng dan kendang di kawasan Gunungkidul. Pohon pule pun cocok dijadikan sebagai perindang yang eksostis seperti di lokasi kuliner, hotel maupun kompleks tempat tinggal. Tak heran pohon pule diburu para pengemar tanaman.

Kakak-beradik penggemar dan pemburu pule Lilik Kurniawan N dan Imam NH sudah memiliki belasan pule. Sebagian ada di pekarangan tempatnya maupun di calon lokasi kulinernya. Selain itu ada belasan pohon lagi masih di Gunungkidul dan Kulonprogo yang masih berada di tanah pemiliknya. Tanaman ini mempunyai karakter unik antara lain bagian akar, batang serta daun-daunnya.

“Sebagian penggemar tanaman suka dengan pule seperti dijadikan bonsai, untuk mempercantik taman sampai sebagai perindang yang eksotis,” ungkap Lilik, Jumat (12/4).

Warga Brongkol Godean Sleman ini mengatakan, pohon pule yang sudah besar dapat ditebang dan disisakan bagian bawah pada bonggol bersama akar-akarnya. Kayunya di kawasan Gunungkidul dijadikan bahan baku kerajinan, misalnya aneka topeng kayu. Sedangkan bagian bawah batang beserta akar didongkel dan bisa ditanam lagi. Akar tunggangnya dipotong, sehingga banyak akar serabut saja.

Tanaman ini akan mudah hidup, bahkan ketika dipindah tanpa daun, kisaran dua sampai tiga minggu bisa muncul dahan/ranting dengan daun-daunnya. Ada baiknya juga bagian atas batang yang dipotong ditutup plastik untuk mengurangi penguapan. Selain itu rutin disirami, sehingga kelembaban tanah terjaga. Jika sudah hidup dengan baik dapat diberi pupuk, sehingga mendukung kesuburan tanaman.

“Daun-daun pule tak mudah kering dan jatuh, sebab hijaunya atau awetnya daun di pohon bisa sekitar satu bulan. Jadi sebagai tanaman perindang tak cepat mengotori tanah,” tegasnya.

Imam menambahkan, jual-beli pohon pule pun kian semarak. Terutama di daerah Gunungkidul dan Kulonprogo masih mudah ditemukan jenis pohon ini. Ada pula di beberapa tempat lain yang masih hidup liar. Ketika sudah dijualbelikan, harga dipengaruhi beberapa faktor, antara lain ukuran tanaman, karakter akar/batang atau tampilan pohon. Jika sudah berada di tempat penjualan tanaman hias, harga biasa lebih mahal.

“Sampai saat ini, kami masih sebatas senang. Sebagian pule sudah kami tanam di calon lokasi kuliner ayam penyet yang akan kami buka Ramadan tahun ini,” urainya.

Ditemui terpisah, Andri Susilo pelaku jual-beli tanaman menyebutkan, pihaknya memiliki beberapa stok tanaman pule di Kebon Agro kawasan Jalan Godean Sleman. Terutama yang berasal dari Gunungkidul, karakter batangnya lebih istimewa, karena sebagian diperoleh di perbukitan dan tebing. Pihaknya sudah bermitra dengan pencari pohon pule di kawasan tersebut.

“Tanaman pule kami tanam di tanah langsung, tapi bagian akar-akarnya dibungkus dahulu dengan karung. Dengan cara ini, jika ada yang berminat membeli dongkelnya lebih mudah,” beber Andri. (Yan)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Savana Doro Ncanga, Nuansa Afrika di Bumi NTB

DOMPU (MERAPI) - Siapa yang bisa menampik pesona Gunung Tambora. Destinasi ini menawarkan seribu satu keunikan yang menawan. Salah satunya

Close