Puyuh Jantan Berkualitas Diburu Kicau Mania

Puyuh kualitas lomba beri kesenangan tersendiri, apalagi jika sering juara lomba. (MERAPI-SULISTYANTO)

PENYELENGGARA  lomba maupun latihan bersama burung berkicau (ocehan) dituntut mempunyai inovasi agar kicau mania kian tertarik bisa mengikuti. Tak jarang, soal waktu pelaksanaannya digelar pada pagi, sore bahkan malam hari. Selain itu kelas ataupun jenis ocehan yang diikutkan juga dibuat bervariasi, sebagian ada yang telah membuka kelas burung puyuh.

Menurut pelaku jual-beli ocehan dan pakan burung asal Gamping Sleman, Toharudin, salah satu penyelenggara latihan bersama dan lomba ocehan yang sudah rutin mengikutsertakan kelas puyuh yakni di Kronggahan Sleman. Pelaksanaannya pada malam hari, pasalnya puyuh terutama yang jantan juga senang atau rajin bersuara pada malam hari seperti halnya burung puter.

“Hal seperti ini menjadikan minat memelihara puyuh jantan kualitas lomba semakin meningkat. Terutama yang ukuran badan lebih besar, bukan puyuh lokal. Ada yang memperkirakan puyuh dengan badan lebih besar awalnya berasal dari Afrika,” papar Toharudin yang juga akrab disapa Bang Udin kepada Merapi, baru-baru ini.

Ditambahkan, puyuh dengan ukuran badan lebih besar dibanding puyuh lokal ada sebagian yang menyebut manuk londo. Sejumlah rumah makan dan resto ada juga yang sudah mempunyai menu olahan puyuh tersebut. Sedangkan yang di warung-warung tenda pinggir jalan, biasanya jenis puyuh lokal. Baik puyuh jantan maupun betina apkir atau sudah tak produktif bertelur cocok disembelih lalu diolah menjadi beberapa jenis masakan atau cukup digoreng.

“Kalau puyuh jantan yang dapat dijadikan sebagai satwa peliharaan, sudah hasil seleksi antara lain memiliki fisik sehat, bermental bagus dan rajin bersuara atau ropel. Faktor-faktor ini mempengaruhi nilai saat dilombakan dan paling penting tingkat kerajinan berbunyi. Jadi puyuh kualitas lomba saat ini semakin banyak dicari, eman-eman kalau disembelih,” bebernya.

Ia sendiri biasa disetori pengepul puyuh kualitas lomba sekali datang kisaran 50 ekor. Harga di pasaran rata-rata Rp 75.000 perekor dan jika sudah biasa langganan juara latihan bersama/lomba akan bisa lebih mahal. Lain halnya dengan puyuh jantan lokal, biasanya sekadar untuk klangenan, tidak untuk diikutkan lomba, harganya kisaran Rp 25.000 perekor. Sedangkan betina apkir maupun pejantan untuk disembelih atau dipotong (tak rajin bersuara) , kisaran Rp 15.000 perekor.

Salah satu penggemar puyuh kualitas lomba, Agus KP yang tinggal di kawasan Nogotirto Sleman menjelaskan, ketika sudah mempunyai beberapa jenis ocehan lalu mempunyai puyuh jantan mampu memberi rasa senang tersendiri. Apalagi puyuh jantan tersebut rajin berbunyi (sudah ropel) dan layak diikutkan latihan bersama maupun lomba.

“Juri akan memberi nilai lebih ketika puyuh saat dilombakan rajin berbunyi, kualitas suara bagus, tidak demam panggung maupun banyak bersuara sambil berada di tangkringan,” tegas Agus.

Beberapa perawatan penting untuk puyuh kelas lomba, lanjutnya, rutin dimandikan, bisa seminggu sekali menggunakan air hangat. Pada malam hari sebaiknya kandang ditempatkan yang ada lampunya atau bukan tempat gelap. Saat dijemur pada pagi hari, secara berkala bisa ditempatkan di tanah berpasir, sebab puyuh juga senang mandi pasir. Untuk pakan rutinnya bisa pakan buatan pabrik (voer), beras merah dan milet putih. Sebagai pakan tambahan, tak perlu diberikan setiap hari, misalnya ulat kandang, ulat Hongkong dan jangkrik. (Yan)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kulonprogo Dapat Tambahan Alokasi 4.651 KPM Program Keluarga Harapan

WATES (MERAPI) -  Pemerintah Kabupaten Kulonprogo pada 2019 mendapat tambahan jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam Program Keluarga Harapan dari

Close