PAGUYUBAN RUNCING WANGI LESTARIKAN TOSAN AJI-Pamor Udan Emas Cocok untuk Pedagang

Anggota Paguyuban Runcing Wangi saat berkumpul. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Anggota Paguyuban Runcing Wangi saat berkumpul. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

CERITA yang beredar di masyarakat tentang keris, terkadang lebih seram daripada barang aslinya. Masyarakat perlu tahu, bahwa pembicaraan tentang keris seharusnya meliputi dua hal, yakni sisi mistis berupa isi, serta keindahan bentuk fisiknya.

Di Kulonprogo, ada paguyuban pelestari tosan aji dengan nama Runcing Wangi. Satu tahun berdiri, paguyuban ini telah mampu merangkul sedikitnya 40 anggota, dengan lebih dari 100 koleksi.

“Bukan hanya keris. Kami juga mengoleksi dan melestarikan tosan aji lainnya seperti pedang dan tombak,” kata salah satu Anggota Runcing Wangi Kulonprogo, Ki Kecuk belum lama ini.

Ia kemudian bercerita, paguyuban Runcing Wangi terbentuk setelah para pecinta tosan aji Kulonprogo berkumpul dan mengutarakan niat untuk melestarikan bersama-sama. Menariknya, Paguyuban Runcing Wangi telah berkomitmen bahwa koleksi tosan aji para anggota tidak akan diperjualbelikan. Mereka berpendapat, barang berharga tersebut harus dijaga dan dilestarikan, bila perlu dipamerkan dalam berbagai event.

Pada kegiatn Manunggal Fair yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Kulonprogo belum lama, Paguyuban Runcing Wangi bahkan berhasil menyabet Juara III kategori stan swasta terbaik.

“Melalui pameran, kita berkesempatan mengedukasi masyarakat tentang tosan aji. Mereka harus tahu bahwa barang asli tosan aji tidak seseram cerita yang beredar,” tegas Ki Kecuk.

Ia kemudian menjelaskan, tosan aji yakni keris, memiliki sejarah yang bermakna. Kualitas keris bergantung pada bahan besi, pamor dan garapannya. Filosofi keris meliputi pamornya, misal pamor ‘udan mas’ cocok untuk pedagang agar lancar rezekinya seperti hujan emas. Selain itu, ada pula pamor ‘beras wutah’ diharapkan bisa mendatangkan rezeki berlimpah hingga tumpah-tumpah.

Terkait stigma masyarakat yang kerap menganggap keris sebagai benda mistis, Ki Kecuk menjelaskan bahwa pembuatannya dilakukan oleh empu, sehingga isi dan tuahnya oleh sebagian masyarakat masih dianggap ada. Namun Ki Kecuk menegaskan, ada hal lebih penting yang harus diketahui masyarakat tentang keris yakni kualitas dan keindahan fisiknya.

“Sampai sekarang, belum ada ajang di Kulonprogo yang melombakan keindahan keris. Kami berharap bisa terwadahi lewat itu sehingga pemahaman masyarakat tentang keris semakin meningkat,” pungkas Ki Kecuk. (Unt)

 

Read previous post:
LIGA SLEMAN SEMBADA – Badai Bekuk Palma di Divisi Utama

  SLEMAN (MERAPI) - PS Badai sukses menaklukkan Palma dua gol tanpa balas dalam laga lanjutan Grup Barat Divisi Utama

Close