Warung Bakmi Jawa Pak Man, Rasa yang Melegenda

MERAPI-TEGUH  Pak Man di depan warungnya.
MERAPI-TEGUH
Pak Man di depan warungnya.

MESKI tidak ingat secara persis kapan memulai usahanya, namun bagi Tukiman Pawiro Jumeno (53), onwer Warung Bakmi Jawa “Pak Man” di kawasan jalan protokol Yogya-Wonosari, Legandeng, Playen, Gunungkidul, jejak perjalanan hingga membuka warung bakmi masih sedemikian kental tersulam dalam ingatannya. Membuka usaha membutuhkan keseriusan serta ketekunan, selain itu rasa suka dan semangat melayani sebagai abdi bagi pelanggannya.

Hal itu yang menjadi motto hidup yang selalu dihayati serta dilakukan saban harinya oleh pemilik nama Mas Reksa Hardiman paringan Ndalem Sultan Hamengku Buwono X. Bagi Pak Man begitu sapaan intimnya, membuka usaha selain harus fokus juga kudu memiliki jiwa rendah hati. Itulah yang selama ini dilakukan sehingga warung miliknya masih tetap menjadi jujugan sejumlah pejabat serta memiliki cita rasa yang melegenda di kalangan penggemar kuliner Bakmi Jawa yang menjadi salah satu masakan khas Gunungkidul.

“Soal rasa dan pelayanan itu ada pada selera pelanggan, saya hanya sebagai juru masak yang menyajikan menu sesuai dengan pesanan. Kalau lantas rasa itu cocok dengan selera pelanggan, karena dalam memasaknya dilandasi rasa ikhlas sebagai pelayan yang harus dapat memberikan kepuasan bagi bagi pelanggannya,” tutur Pak Man ketika ditemui Merapi di rumahnya Logandeng, Playen, Gunungkidul belum lama ini.

Terkait dengan bumbu serta racikan menu Bakmi Jawa dia mengaku tidak memiliki resep khusus, nyaris semua resep untuk menu Bakmi Jawa sama. Hanya saja cara memasak serta timing dalam menjatuhkan bahan masakan harus tepat dan tidak ngelantur demikian juga dengan nyala api di tungku, harus dijaga. Sehingga masakan dapat benar-benar terasa bumbunya dan masak secara sempurna, sebetulnya disitulah rahasia semua masakan begitu dalam pandangan Pak Man yang sudah puluhan tahun punya pengalaman soal masakan khas itu.

“Memasak itu tidak setiap orang bisa melakukannya dengan tepat istilah Jawanya tanganan, sama-sama memasak bakmi tapi untuk hasil akhir akan beda di rasa. Sehingga saya lebih suka memasak sendiri ketika melayani pelanggan, sedangkan karyawan membantu menyiapkan semua kebutuhan sesuai dengan pesanan pelanggan,” ucap suami Yuli Sri Hadiyati.

Setiap malamnya tidak kurang 7 hingga 9 ayam kampung tergantung di gerobak Bakminya untuk dimasak dalam berbagai menu seperti bakmi Jawa Goreng dan Godog, Nasi Goreng dan Magelangan, Rica-rica ayam kampung serta Cap cay. Selain itu berbagai minuman seperti wedhang Ronde juga wedhang Jahe Keprok yang merupakan kombinasi Jahe Emprit dengan Jeruk Nipis dipadu sejumlah rempah lainnya dilengkapi dengan gula batu. (C-3)

Read previous post:
ITNY Gandeng PII Gelar Pendidikan Profesi Insinyur

DEPOK (MERAPI) – Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) menggelar tasyakuran dalam rangka memperingati Dies Natalis yang ke-47 di Auditorium Ir

Close