ALTERNATIF OLEH-OLEH PEDAS DARI YOGYA-Cabai Naik Kelas Jadi Aneka Sambal

Yeni menunjukkan aneka sambal olahannya yang dikemas dalam botol dan bisa menjadi pilihan oleh-oleh dari Yogya. (MERAPI-TRI DARMIYATI)

OLEH-oleh kuliner di Yogyakarta memang identik dengan rasa manis. Tapi kini produk kuliner buah tangan dari Yogyakarta terus berkembang. Bahkan cabai pun bisa menjadi buah tangan pilihan wisatawan setelah diolah menjadi aneka sambal. Rasa pedas berbagai sambal menambah keragaman oleh-oleh kuliner dari Yogyakarta. Ini juga menaikkan ‘kelas’ cabai menjadi lebih bernilai jual.

Salah seorang produsen sambal Yeni Aji Puntorini (38) warga Celeban, Kelurahan Tahunan Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta mencoba mengembangkan sambal dalam kemasan botol. Ide itu muncul karena permintaan pasar terhadap sambal yang diolah dari warung pecel lele miliknya.

“Awalnya saya buka warungg pecel lele. Terus ada teman tetangga yang senang beli sambalnya saja karena sudah punya lauk di rumah. Kalau beli sambalnya aja gimana,” tutur Yeni di sela bazar produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Balaikota Yogya, belum lama ini.

Melihat potensi permintaan pasar itu, Yeni mulai memproduksi sambal untuk dijual. Mulanya ia memproduksi sambal terasi seperti yang dia buat untuk warung pecel lele miliknya. Dia mengemas sambal itu dalam kemasan cup yang biasa untuk mengemas agar-agar. Seiring waktu dia kemas dalam kemasan botol yang lebih aman dan cocok untuk oleh-oleh.

“Saya buat dalam kemasan cup. Ternyata banyak yang suka dan ada yang nanya buat buat oleh-oleh tidak. Akhirnya saya kemas pakai botol,” ujarnya.

Kini produksi sambalnya pun berkembang variasinya yakni sambal teri, sambal bawang dan sambal petai. Satu botol kemasan 150 gr dibanderol Rp 18.000. Setiap hari dia setidaknya memproduksi sekitar 50 botol dengan bahan baku sekitar 3 kg cabai rawit. Khusus untuk sambal terasi bahan baku cabai ditambah cabai merah. Untuk produksi sendiri dilakukan di rumahnya dibantu dua pekerja.

“Saya menggunakan bahan cabai segar dan berkualitas pilihan. Kalau cabai kering rasanya beda. Cabai yang agak busuk bisa bikin sambal tidak awet,” tambah Yeni.

Aneka sambal berlabel Sambal Joss itu bisa awet hingga 3 bulan meski tanpa bahan pengawet. Menurutnya kunci membuat sambal awet adalah dari bahan berkualitas dan cara pengolahan yang benar-benar matang. Untuk menemukan formula yang tepat dia mencobanya beberapa kali. Dia menjelaska dalam mengolah sambal menggunakan minyak goreng, tanpa air.

“Dimasaknya harus tanak (matang benar). Bisa sampai tiga jam dengan api kecil. Kalau api besar, sambal bisa gosong. Benar-benar harus telaten,” paparnya.

Untuk mengatasi harga cabai yang kadang naik turun, produksi sambal dia sesuaikan. Dia menjelaskan saat harga cabai murah dia memproduksi sambal lebih banyak. Tapi saat harga cabai tinggi produksi sambal dikurangi sekitar 20 botol/hari. Dia juga tidak menaikkan harga sambal dan lebih mengejar kualitas dengan bahan baku cabai segar.

“Kendalanya pada bahan baku petai yang musiman, sehingga kadang tidak membuat sambal petai,” imbuh Yeni.

Setelah mengukuti bazara dan pemeran pesanan sambal semakin berkembang. Dalam sebulan omzet penjuaal sambal berkisar 800 sampai 1.000 botol. Dia juga memanfaatkan penjualan secara online. Produk aneka sambal itu sekarang tidak hanya di YogyakartA tapi sudah sampai ke Jakarta, Tangerang, Salatiga dan Demak. Produknya pun tengah diproses izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).

“Kunci dari memulai usaha itu telaten dan sabar. Biasanya teman-teman kalau bosan, tak laku ganti usaha lain. Sebaikny tetap fokus dan konsisten memperbaiki produk nanti omzet bisa nambah,” pungkasnya.(Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Banyak Penggemar, Wijaya Kusuma Merah Kian Susah Didapat

NAMA tanaman wijaya kusuma sudah tak asing lagi di masyarakat. Apalagi bagi para penggemar tanaman hias. Salah satu kekhasannya saat

Close