Ingkung Waroeng Ndesso Langganan Para Kiai

Yudi melakukan pengawasan terkait dengan kualitas Ingkung (MERAPI-TEGUH)
Yudi melakukan pengawasan terkait dengan kualitas Ingkung (MERAPI-TEGUH)

MEREBAKNYA kuliner dengan menu tradisional ingkung bagai cendawan di musim hujan. Bahkan hidangan khas ayam jantan utuh dengan aneka bumbu rempah ini, nyaris menjadi menu spesial di sejumlah restoran dan rumah makan. Demikian pula dengan Waroeng Ndesso di bilangan Karangber dan Santan Guwosari Pajangan, Bantul sebagai perintis warung Ingkung di Bantul, tetap menempatkan ingkung ayam jawa sebagai menu pokok dalam daftar menunya.

Menurut owner Waroeng Ndesso Yudi Susanto (37), sejak kali pertama membuka usaha ingkung ayam Jawa di tahun 2011, pihaknya sangat memperhatikan soal halal dan thoyibnya bahan ingkung yang akan dimasak. Selama ini pihaknya mengaku selalu menyembelih sendiri semua ayam yang akan dijadikan menu spesial itu.

“Sejak awal mendirikan warung saya tetap menyembelih semua ayam secara syar’i. Artinya sesuai dengan tuntunan agama Islam. Sehingga ada jaminan halal ketika mengkonsumsinya. Bahkan saya punya orang kepercayaan untuk menyembelihnya, setidaknya orang itu ahli ibadah dan sholatnya bagus,” ucap Yudi ketika ditemui Merapi di rumahnya Karangber, Guwosari.

Dikisahkan Yudi pada awal-awal usahanya memang banyak konsumen yang kemudian menghubunginya sebelum merapat menuju waroeng Ndesso miliknya, kebanyakan dari mereka menanyakan kepastian cara memotong ayam yang akan diolah menjadi ingkung.

“Saya yakinkan kalau semua ayam disembelih sesuai dengan syar’i, karena yang menyembelih adalah bapak saya sendiri,” tutur Yudi yang juga Kaur TU dan Umum Desa Guwosari.

Dijelaskan Yudi, pihaknya tidak main-main dalam menjaga kualitas ayam yang akan disembelih. Bahkan perlakuan terhadap ayam yang akan disembelih pun diperhatikan sedemikian rupa, memisahkan kandang penampungan dengan lokasi penyembilahan merupakan salah satu cara membuat ayam tidak stres. Ditambahkannya juga, rasa daging ayam yang disembelih dalam kondisi strees bila dibandingkan dengan ayam yang segar bugar, rasanya akan beda.

“Meski akhirnya disembelih namun perlakuan terhadap ayam itu juga harus diperhatikan, sebab akan berpengaruh pada rasa dagingnya setelah diolah jadi ingkung. Untuk itu dalam menyembelih selalu dilakukan dua orang, seorang memegang cakar dan bagian sayap, seorang lagi sebagai eksekutor yang selalu mengawali dengan kalimat Bismillah, sebelum memyembelihnya,” urainya.

Meski berada di dalam kampung Waroeng Ndesso menjadi tujuan utama para penyuka kuliner tradisional, bukan hanya kalangan pejabat dan masyarakat umum. Diakui Yudi warungnya sering mendapat pesanan dari sejumlah kiai ternama baik Jateng maupun DIY. Ada sejumlah kiai dari Jawa Tengah apa bila dalam perjalanan mengisi pengajian di DIY, selalu mampir menikmati makan siang atau malamnya di Ingkung Waroeng Ndesso. “Ini merupakan keberkahan tersendiri bisa melayani para kiai,” pungkasnya. (Teguh)

 

Read previous post:
Gerbangpraja Dekatkan Aksara Jawa pada Masyarakat

BANGUNTAPAN (MERAPI) - Generasi muda saat ini terkesan makin jauh dari identitas sosialnya dalam berinteraksi. Bahkan banyak di antaranya seperti

Close