NIKMATI KULINER DI PERBUKITAN – Memasak Air Minum Gunakan Kayu Bakar

MERAPI-SULISTYANTO Tungku yang digunakan untuk memasak air minum menggunakan bahan bakar kayu.
MERAPI-SULISTYANTO
Tungku yang digunakan untuk memasak air minum menggunakan bahan bakar kayu.

SEMARAKNYA jagat kuliner menjadikan para pemilik usaha di bidang ini berlomba-lomba tampil beda. Sebagian memilih di lokasi yang masih asri dengan banyak pepohonan serta udara segar, yakni berada di kawasan perbukitan.

Bahkan banyak bangunan dibuat model tempo dulu seperti ada joglo dan limasan. Tak ketinggalan bangunan bekas kandang sapi maupun kerbau dapat dijadikan semacam ruangan untuk makan-makan. Selain itu memasaknya ada yang melestarikan cara tradisional, yakni menggunakan tungku serta bahan bakar wujud kayu.

“Di lokasi kuliner kami untuk memasak air minum menggunakan tungku, bahan bakarnya memakai kayu. Dengan dimasak menggunakan kayu bakar banyak diyakini rasanya lebih enak, untuk membuat aneka minuman seperti kopi dan jahe. Bisa bikin seperti kecanduan atau ketagihan,” ungkap salah satu kru lokasi kuliner Kandang Ingkung, Sunartono, kepada Merapi, baru-baru ini.

Ditemui di Kandang Ingkung kawasan Jlitengan Gamping Sleman, bapak yang ramah ini menambahkan, khusus untuk air minum kopi boleh ambil sendiri dari tungku. Bahkan dibebaskan sampai sepuasnya dan cukup bayar seikhlasnya di kotak yang telah tersedia tak jauh dari tungku. Jenis minuman kopi, antara lain ada kopi hitam Gayo/Lampung, jahe dan kapulaga. Kopi yang dipadu rempah seperti kapulaga selain mempunyai rasa khas, diyakini juga banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Sedangkan pemilik Kandang Ingkung, Peni Pamungkas menjelaskan, masakan andalan di tempatnya, yakni ayam ingkung, baik yang sudah dipotong-potong maupun masih utuh. Cara menyajikan bisa menggunakan tambir kecil, dipadu nasi, sambal dan lalaban, sehingga mirip nasi kenduri. Ada juga masakan tradisional lain, misalnya olahan jantung pisang, daun pepaya serta garang asem ayam.

“Aneka makanan ringan yang kami sediakan seperti bakwan jagung, tempe goreng, tahu goreng dan tempe mendoan. Alhamdulillah, konsumen yang datang ke sini, baik perorangan, keluarga ataupun komunitas banyak yang merasa cocok dengan aneka menu masakan sampai minuman di tempat kami,” paparnya.

Beberapa keunikan lain di lokasi kuliner ini seperti piring yang digunakan untuk menyajikan jpiring dari seng/blek (piring jaman dulu). Tambir atau tampah untuk penyajian makan dilapisi dengan daun pisang. Hampir tidak ada penyajian dengan bahan plastik semua hampir natural mendekati ke suasan ndeso. Ada lagi bekas gerobak sapi dijadikan tempat untuk makan-minum dengan dilengkapi tempat duduk. (Yan)

 

Read previous post:
SEHARI CAPAI 500 SURAT – Permintaan SKTM di Gunungkidul Melonjak

WONOSARI (MERAPI) - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gunungkidul dalam beberapa hari terakhir kebanjiran ribuan warga masyarakat untuk mencari Surat Keterangan

Close