Aroma dan Cita Rasa Kopi Arabika Lebih Kaya

ISTILAH jenis kopi arabika dan robusta sudah banyak didengar masyarakat. Tanaman kopi arabika dikenal dapat tumbuh dengan baik serta optimal berbuah pada ketinggian 1.000-2.000 meter dari permukaan laut. Sedangkan robusta, idealnya ditanam pada ketinggian 400-800 meter dari permukaan laut.

Menurut salah satu barista warung kopi ‘Kopi Pekat Kang Bejo’ di kawasan Sidomulyo Sleman, Mirza KM, varietas tanaman kopi arabika sangat beragam, bahkan hasil panenan kopi memiliki rasa yang berbeda-beda di berbagai daerah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberagaman rasa, misalnya keadaan tanah, cuaca, iklim sampai hasil kawin silang varietas tanaman kopi.

“Adanya keberagaman varietas arabika dengan karakter rasa yang berbeda-beda di setiap daerah menjadikan penikmat kopi lebih senang menikmati arabika secara single origin, tanpa perlu dicampur bahan tambahan lain, bahkan tanpa gula,” ungkapnya kepada Merapi, baru-baru ini.

Adapun ciri khas kopi arabika, antara lain rasanya yang asam dan warna seduhan yang tak terlalu pekat. Oleh karena keunikan inilah maka jenis ini lebih sering dikembangkan, sehingga muncul beberapa varietas baru tanaman kopi arabika. Bahkan aroma dan cita rasanya yang unik menjadikan arabika banyak disenangi penggemar minuman kopi.

“Aroma dan cita rasa kopi arabika memang lebih kaya. Harga kopi jenis arabika pun banyak yang lebih mahal dibanding robusta, antara lain disebabkan soal perawatan tanaman lebih sulit, ditambah lagi tingkat populernya lebih tinggi,” tandas Mirza.

Ditambahkan, kopi robusta cenderung memiliki rasa menyerupai kacang-kacangan serta lebih pahit dibandingkan dengan arabika. Rasa lebih pahit menandakan kandungan kafeinnya lebih banyak. Selain itu rasa kopinya yang begitu kuat dan pahit, menjadikan lebih cocok dijadikan minuman yang dikombinasi atau dicampur bahan lain seperti susu. Cocok pula sebagai bahan baku yang digunakan untuk produksi aneka kopi instan.

“Jenis kopi robusta yang kami disediakan di tempat kami jumlahnya lebih sedikit dibanding yang arabika. Yang robusta, misalnya asal Temanggung, Palembang, Sleman dan Lampung. Ketika dijual masih bijian rata-rata lebih murah sekitar Rp 5.000 dibanding yang arabika, misalnya ada yang dari Gayo, Papua, Banyuwangi,” paparnya.

Di tempatnya, biji-biji kopi belum diroasting menggunakan mesin roasting atau masih greenbean dibeli secara online. Ketika masih wujud greenbean lebih tahan lama disimpan. Lain halnya jika sudah diolah mesin roasting warna berubah coklat tua/kehitaman, lebih baik segera digunakan, yakni digiling untuk diseduh atau menjadi minuman kopi. “Biji kopi yang sudah diroasting sebaiknya segera digunakan sebelum satu bulan. Di tempat kami, proses roasting rata-rata seminggu sekali,” ungkap Mirza. (Yan)

Read previous post:
MUSRENBANG PERUBAHAN RPJMD KULONPROGO-Tambah Program dan Kegiatan Keistimewaan

WATES (HARIAN MERAPI) - Pemkab Kulonprogo menggelar musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022 di

Close