KOMUNITAS ‘LAFKOPISYOP’-Bukan Sekadar Kumpul-kumpul di Warung Kopi

SAAT  ini cukup mudah menemukan komunitas rutin menggelar kegiatan di lokasi-lokasi kuliner. Adapun komunitas yang rutin mendatangi coffee shop (warung kopi) tak lain bernama ‘Lafkopisyop.’ Nama ini tak lain berasal dari utak-atik Bahasa Inggris, love coffee shop. Akhirnya dipilih yang mudah diucapkan serta tulisan khas Bahasa Indonesia.

“Kenapa namanya Lafkopisyop, karena kami sering kumpul-kumpul di coffee shop sekalian mengadakan beberapa kegiatan. Bahkan bisa motret-motret kopi maupun selfie-selfie, karena anggotanya rata-rata penggemar kopi, makanan maupun ada yang pernah jadi model,” ungkap Ketua Komunitas Lafkopisyop, Judith Hutapea kepada Merapi, baru-baru ini.

Ditemui di sela-sela pertemuan dan menyemarakkan peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI di kompleks Kopi Bejo-Kebon Kayu Manis kawasan Godean Sleman, Judith menjelaskan, Lafkopisyop berdiri 19 Maret 2019 lalu. Bermula dari sebagian anggota yang sering ikut foto challenge di beberapa akun foto instagram. Lalu disepakati dibentuk komunitas serta menggelar pertemuan rutin.

Bahkan dalam seminggu,  pernah bisa menggelar pertemuan/kopdar satu sampai tiga kali. Apalagi ketika ada warung kopi yang baru buka di kawasan DIY dan sekitarnya. Kisaran 40 anggota bisa hadir  dalam kopdar dan yang sudah berkeluarga biasa mengajak suami/istri serta anak- anaknya. Anggotanya ada perempuan maupun laki-laki dengan umur antara 20 sampai 50 tahun. Profesi anggota antara lain, ibu rumah tangga, anggota Bhayangkari, mahasiswa, TNI, guru, perbankan, PNS dan wiraswasta.

“Beberapa kegiatan yang pernah kami laksanakan antara lain berkunjung ke panti asuhan anak, edukasi sampah plastik, even fotografi di lokasi produksi kain lurik Kurnia dan peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI,” bebernya.

Dengan kata lain, sebutnya, kegiatan Komunitas Lafkopisyop tak hanya sekadar kumpul-kumpul. Saat menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI tersebut, selain kopdar biasa, pihaknya juga menggelar lomba mewarnai/balap kelereng untuk anak-anak, makan kerupuk dan memindah tepung di atas kepala secara berantai untuk umum. Dalam kegiatan ini pihaknya juga menggandeng Komunitas Fujiguys yang mempunyai bascamp di Gudang Digital Yogya.

Menurut Ketua Komunitas Fujiguys, Sahite, belasan anggotanya dapat hadir dalam kegiatan tersebut termasuk bisa ikut mendokumentasikan kegiatan. Bahkan penasihat Fujiguys, Harry GD juga menyempatkan hadir dan mengikuti sejumlah lomba. Tak kalah penting, semua anggota Fujiguys membawa kamera Fuji Film Mirrorless yang harga di pasaran mulai Rp 6 juta sampai Rp 20 juta perunit.

“Keunggulan dan kekhasan kamera ini antara lain bisa langsung transfer gambar ke handphone, hasil gambar tajam dan warna ke kinian. Meksi bentuk body kamera terlihat jadul, tapi banyak fasilitas hi-tech,” tandas Sahite. (Yan)

Read previous post:
Aplikasi Bumilku dari Kulonprogo Masuk 10 Terbaik Nasional

WATES (HARIAN MERAPI) - Kulonprogo kembali mengukir prestasi di kancah nasional. Aplikasi Bumilku berhasil masuk 10 terbaik penilaian inovasi pemanfaatan

Close